Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman

Majelis

Selasa, 10 Oktober 2017

Alangkah Indahnya Al Washliyah

Muralis Dakwah Majelis Opini

mun`im-aw
Abdul Mun'im Ritonga, SH, MH

Oleh: Abdul Mun’im Ritonga, SH. MH.

SETIAP organisasi memiliki ciri khas dan dengan ciri khas itulah dia dikenal menjadi identitas dirinya. Al Washliyah selain menonjolkan amal hablum minallah, dalam aktifitas sehari-hari menekankan kepada hablum minannas, suatu amal usaha untuk membangun persaudaraan yang dikenal dengan istilah “ukhuwah” sesama umat manusia, secara khusus kepada umat Islam dan lebih khusus lagi kepada sesama warga Al Washliyah di samping amal-amal lainnya.

Hal ini dapat terlihat dari bait-bait indah dari lagu-lagu yang sering dikumandangkan berulang-ulang di Al Washliyah, mulai dari lagu Mars Al Washliyah, lagu mars organisasi bagiannya, lagu Hymne Al Washliyah, sampai kepada lagu yang paling baru lagu Rindu Al Washliyah.

Alangkah indahnya pertemanan/ukhuwah di Al Washliyah. Hal ini dapat diketahui dari ciri-ciri khusus yang merupakan cerminan dari akhlak mulia Islam yang tertanam dalam pergaulan komunitas Al Washliyah yang dirasakan selama ini.

Hal ini dapat ditandai dari beberapa sikap yang muncul dalam pergaulan sehari-hari di kalangan orang Al Washliyah. Sekurang-kurangnya ada 7 (tujuh) ciri yang menjadi identitas yaitu;

Pertama. Pertemanan atau ukhuwah sesama orang Al Washliyah bukan teman biasa, tapi menjadi teman dekat yang biasa disebut “best friend”. Rasanya pertemanan itu bagaikan saudara kandung, merasa dekat sekali dan bersahabat, memiliki ikatan emosional dan soliditas yang kuat, termasuk mengenal keluarganya.

Jila kita merasa gembira atau susah, kita dapat datang berbagi kepada teman sesama Al Washliyah. Kita tidak merasa sepi, komunitas ini tempat menghibur diri dikala senang dan berbagi rasa dikala susah.

Kedua, Saling berkunjung ke rumah. Indah sekali rasanya jika dikenang saat kita pernah datang ke rumah teman Al Washliyah dan senang sekali jika teman Al Washliyah pernah berkunjung ke rumah kita. Kunjungan itu akan menjadi kenangan yang menyenangkan. Di rumah itu kita makan apa adanya, enak saja rasanya dan keluarga teman dirasakan menjadi bagian dari keluarga kita juga.

Para keluarga kita juga ikut merasakan bahwa teman Al Washliyah itu bagian dari keluarga dekatnya juga, sehingga saat kita berkunjung kitapun bersilaturrahim dengan keluarga teman kita itu. Jika ada jamuan dengan senang hati keluarga ikut menyiapkan jamuannya, kadang kita sama-sama ikut menyiapkannya terutama yang wanita.

Ketiga, Orang Al Washliyah sangat hormat kepada orang tua, ulama dan guru yang mengajar ilmu, terutama guru agama dan orang yang lebih tua. Lebih dari itu mereka sangat sayang.

Kalau bertemu akan merendahkan diri di depan mereka, duluan mengucapkan salam sambil mengulurkan tangan dan menciumnya, merendahkan suara, tidak berani berkata kasar. Dalam doa-doanya selalu terselip untuk mereka agar Allah ampunkan dosanya dan terima amal jerih payah mereka. Jika ada diantaranya yang berprilaku tidak demikian, itu berati bukan akhlak orang Al Washliyah.

Keempat, mau saling melindungi. Tradisi yang terjadi di Al Washliyah, dikala kita punya kemampuan kita mau membantu dan memberi sesuatu, dikala kita kurang kita mendapat bantuan dari teman.

Tidak ada niat dalam pergaulan orang Al Washliyah ingin saling menghianati dan saling menjatuhkan. itu bukan akhlak Islam dan bukan akhlak orang Al Washliyah. Jika hal itu terjadi jauhkan sifat itu dari Al Washliyah

Kelima. Mau berbagi rezeki. Jika kita ada rezeki kita suka ikut menyumbang untuk keperluan acara-acara yang diadakan atau akan membangun sebuah gedung sekolah atau masjid, atau untuk orang yang sedang ditimpa musibah.

Kadang kita sering saling mengundang ke rumah atau ke restoran untuk acara “Tasyakur” yang sering disebut “syukuran”. Hal itu dilakukan jika kita lagi ada rezeki dan ada niat karena ada sesuatu seperti kelulusan atau kelahiran anak, atau ada acara takziah jika ada diantara keluarga yang meninggal dunia, dll. Tidak terkesan pelit.

Keenam. Saling menutupi aib sesamanya. Prinsip yang dipegang adalah aib saudara kita adalah aib kita juga. Karena itu tidak ada niat ingin saling mempermalukan teman di muka umum, apa lagi sampai mempertontonkan perselisihan ke depan publik.

Jika ada masalah, biar masalahnya dapat diselesaikan dilakukan dengan cara musyawarah. Dibicarakan dalam kalangan terbatas dengan hati lapang dan tidak dengan cara marah-marah. Tujuannya jelas mau mencari solusi, bukan untuk mempermalukan orang. Orang Al Washliyah itu pemaaf bukan pendendam. Jangan bawa sifat dendam dan suka marah-marah ke Al Washliyah.

Ketujuh, Mau menziarahi teman dikala suka dan duka. Dikala suka, berusaha untuk menghadiri undangan seperti saat pernikahan, walimah, syukuran kelahiran anak, lulus dari mengikuti tes atau naik kelas, dll.

Di kala duka mau berkunjung seperti; melihat yang sedang sakit, kecelakaan, bencana alam, dll. Sambil menghibur saudara yang sedang mengalami kesulitan dan berduka. Bahkan sudah meninggal duniapun diantaranya ada yang diziarahi berulang-ulang kuburannya.

Al Washliyah mempunyai tradisi berziarah ke kuburan orang Al Washliyah khususnya para tokoh di tempat masing-masing di mana saja berada, terutama pada saat-saat merayakan ulang tahun Al Washliyah setiap tahunnya.

Alangkah indahnya Al Washliyah, tidak akan pernah terlupakan, di sana kudapatkan persaudaraan, sambilku tebarkan kenangan. ini adalah sebait ungkapan dari lagu rindu Al Washliyah yabg dapat dinikmati malalui youtube.

Selamat berjuang, mari kita sama-sama saling mendoakan dan berusaha, semoga Allah tetap menjaga persaudaraan kita sesama manusia, sesama bangsa-bangsa di dunia, sesama umat Islam, khususnya sesama warga negara Indonesia dan warga Al Washliyah.[]

Penulis adalah Ketua Majelis Dakwah dan Komunikasi (MDK) PB Al Washliyah.


Populer

×