Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Selasa, 10 November 2015

`Buat Saya, Pendiri Washliyah Adalah Pahlawan Umat`


pendiri

JAKARTA – Pendiri Organisasi Al Jam`iyatul Washliyah (Al Washliyah) adalah pahlawan umat, karena jasa para pendiri dan pejuang Al Washliyah itu sebenarnya cukup besar terhadap kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Hanya saja, negara kurang peduli terhadap jasa pendiri dan pejuang Al Washliyah.

“Bagi saya pendiri organisasi Al Washliyah adalah pahlawan umat. Terserah kepada negara mau mengukuhkannya sebagai pahlawan nasional atau tidak,” kata H.Syamsir, Sekretaris Pengurus Besar Al Washliyah, ketika berbincang-bincang dengan kabarwashliyah.com, bertepatan 10 Nopember (Hari Pahlawan) di Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Menurut Syamsir, selama ini kurang proaktif dalam menganugerahi pahlawan nasional kepada seseorang yang memiliki jasa terhadap bangsa dan negara ini. Seharusnya pihak pemerintah yang mencari dan menggali data dan informasi, bukan menunggu usulan semata-mata. “Berdasar data yang saya ketehui, sampai saat ini belum ada tokoh dan pendiri Al Washliyah menjadi pahlawan nasional. Ini berbanding terbalik dengan tokoh organisasi lain. Kami ini selalu dianaktirikan di negara sendiri.”

Ini dia sebagian dari pendiri dan tokoh Al Washliyah:
HAJI ISMAIL BANDA (1910-1951)

Pendiri Aljam`iyatul Washliyah (Al Washliyah). H. Ismail Banda, lahir sekitar tahun 1910 Masehi. Selesai pendidikan pertama agama Islam, beliau melanjutkan ke sekolah Menengah Islamiyah di Kota Medan, Sumatera Utara, selama lima tahun. Kemudian meneruskan pelajarannya ke Universitas Al Azhar Kairo di Mesir dengan bantuan orangtua dan Al Washliyah. Di Al Azhar, beliau memperlihatkan dirinya sebagai anak Indonesia yang cerdas dan kereatif. Pada tahun 1930 beliau berhasil meraih gelar Ahliyah pada universitas tersebut dan memperoleh Ijazah ulama pada tahun 1937.

Ismail Banda bukan anak yang pasif. Dalam pergerakan Organisasi Mahasiswa Islam di Mesir, beliau ikut menjadi anggota pengurus dari perkumpulan Jam’iyah Chiriyah Jawiyah, Kemudian berubah menjadi Perkumpulan Pemuda Indonesia Malaya (Perpindom). Pada tahun 1945 ia menjadi pendiri perkumpulan Kemerdekaan Indonesia Kairo.

Selama di luar negeri, berliau mejadi pembantu tetap dari ‘Pewarta Deli’ dan ‘Pemandangan’ sebagi koresponden luar negeri untuk Timur Tengah antara tahun 1932 sampai tahun 1942. Ia pun sempat pula menjadi staf redaksi surat kabar ‘Icksan’ bagian luar negeri di Mesir yang terbit dalam bahasa Arab. Di samping kesibukannya di dunia politik dan pergerakan, Ismail pun cukup pandai dalam ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1940 beliau mendapat gelar BA bidang filsafat pada sekolah Tinggi Al Azhar dan pada tahun 1942 meraih gelar MA di bidang yang sama pula. Kemudian ia mendapat ijazah dalam bahasa Inggris dari Cambrige University pada tahun 1944. Ismail Banda kembali ke tanah air pada 1947 dan terus ke Ibukota Negara yang kala itu di Yogyakarta.

Pergaulannya di Yogyakarta amat menguntungkan umat Islam, dia bergerak aktif dalam Masyumi. Ia membuat beberapa causerie tentang Islam umumnya, tentang pendidikan dan pengajaran di Mesir di UII. Awalnya beliau bekerja pada Kementerian Agama, tetapi hatinya lebih tertarik dengan urusan luar negeri. Sejak tahun 1948 dia diangkat menjadi refrendaris pada Kementerian Luar Negeri di Yogyakarta.

Ismail sempat kembali ke luar negeri dan menjadi penyiar pada beberapa radio untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia yang pada waktu itu sangat sulit kedudukannya berhubung pengepungan belanda. Pada 1950 Ismail Banda dipindahkan ke Jakarta pada kementerian Luar Negeri dan menjabat Perwakilan pada Kedutaan Indonesia di Teheran.

Dengan surat Kementerian Luar Negeri tertanggal 30 November 1951 ia diperintahkan bekerja pada perwakilan Indonesia di Kabul, Afganistan dan harus berangkat dengan pesawat udara pada akhir Desember 1951. Sebelum ke Afganistan, Ismail Banda bermaksud hendak singgah dahulu di Mesir dan di Teheran. Tetapi dengan takdir Allah SWT, pesawat yang ditumpangi Ismail Banda dihantam badai topan dan mendapat kecelakaan di Teheran, Iran, yang menyebabkan seluruh penumpang pesawat itu tewas termasuk di dalamnya pendiri Al Washliyah Ismail Banda.

Jasad beliau lalu di makamkan di tempat kejadian yakni di Teheran, Iran. Ismail Banda meninggalkan seorang anak perempuan bernama Nur Laila yang ketika itu berusia 22 tahun dan sempat menjadi pengajar di sekolah Al Washliyah di Medan.

HAJI MUHAMMAD ARSYAD THALIB LUBIS (1908-1972)
Beliau adalah seorang ulama, mubaligh dan pejuang di Sumatera Utara yang lahir pada Oktober 1908 di Stabat,Langkat,Sumatera Utara. Putra kelima dari pasangan Lebai Thalib bin H. Ibrahim Lubis dan Markoyom Nasution. Ayahnya berasal dari kampung Pastap,Kotanopan,Tapanuli Selatan, kemudian menetap di Stabat Sumatera Utara, sebagai petani yang agamis sehingga mendapat panggilan `lebai`, yakni panggilan kehormatan di daerahnya atas ilmu agama yang dimiliki.

Syekh HM Arsyad Thalib Lubis, menjalani seluruh pendidikannya di Sumatera Utara. Selepas menjalani pendidikannya dalam kurun waktu 1917-1930, beliau memperdalam ilmu tafsir, hadits, usul fiqh dan fiqh kepada Syekh Hasan Maksum di Medan.

Dia adalah seorang murid yang cerdas dan rajin, sehingga mendapat kepercayaan dari gurunya yakni H. Mahmud Ismail Lubis untuk menyalin karangan yang akan dimuat di surat kabar. Pada usia 20 tahun, beliau telah menjadi penulis di Majalah Fajar Islam di Medan.

Pada usia 26 tahun, buku pertamanya, Rahasia Bible terbit pada 1934 dan dicetak ulang pada 1926. Buku ini pun menjadi pegangan mubaligh dan da’i Al Washliyah dalam mensyiarkan Islam di Porsea,Tapanuli Utara.
Semasa hidupnya, HM Arsyad Thalib Lubis, aktif mengajar pada beberapa Madrasah Al Washliyah, baik di Aceh maupun yang berada di Medan dari tahun 1926-1957. Kemudian beliau menjadi Lector pada Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Islam Indonesia di Medan (1953-1954), menjadi Guru Besar ilmu Fiqh dan Usul Fiqh pada Universitas Islam Sumatera Utara-UISU (1954-1957) dan dosen tetap pada Universitas Al Washliyah (UNIVA) sejak berdirinya universitas itu (1958) sampai akhir hayat HM Arsyad Thalib Lubis.

Sekitar tahun 1930, HM Arsyad Thalib Lubis menikah dengan seorang gadis pujaannya, Siti Yamaah Binti Kamil Bin Sampurna. Dari pernikahannya dengan gadis Melayu Deli, Sumatera Utara ini, dikaruniai 8 orang anak, masing-masing Anisa Fahmi Lubis, Mukhtar Hanif Lubis, Muslim Arif Lubis, Nur Azizah Hikmah Lubis, Khairan Lubis, Maisaroh Lubis dan Haji Hawari Arsyad Thalib Lubis.

Dalam kegiatan organisasi, HM Arsyad Thalib Lubis, seorang di antara pendiri organisasi Al Jam’iyatul Washliyah. Sejak berdirinya organisasi ini pada 9 Rajab 1349 Hijriyah atau bertepatan 30 November 1930 Masehi, beliau turut menjadi anggota Pengurus Besar Al Washliyah sampai 1956. Meskipun beliau tidak duduk dalam kepengurusan, beliau tetap aktif memberikan sumbangan pikiran dan tenaga dalam kegiatan Al Washliyah yang bergerak di bidang pendidikan,dakwah dan sosial.

Dalam kegiatan dakwah,ulama ini aktif dalam zending (mubaligh) Islam Indonesia. Puluhan ribu orang dari Tanah Batak dan Karo, Sumatera Utara, masuk Islam di tangannya, bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau telah mengislamkan tidak kurang dari dua ratus orang di Kabupaten Deli Serdang.

Sesuai dengan kondisi masanya, beliau juga melakukan berbagai perdebatan dengan tokoh-tokoh Kristen di Medan,seperti Pendeta Rivai Burhanuddin (Pendeta Kristen Adven),Van den Hurk (Kepala Gereja Katolik Sumatera Utara) dan Dr. Sri Hardono (tokoh Kristen Katolik). Berkat penguasaan ilmunya, beliau dengan mudah menguasai lawan debatnya dan hasilnya selalu diterbitkan dalam bentuk buku.

Dalam perjuangan kemerdekaan, beliau turut andil sesuai dengan bidangnya. Untuk membangkitkan semangat jihad melawan penjajah, beliau menulis buku Tuntunan Perang Sabil. Karena perjuangannya pada 29 Maret 1949 pendiri Al Washliyah ini ditangkap pihak Negara Sumatera Timur (NST) yang bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda.

Tuan HM Arsyad Tahlib Lubis, ditahan sebagai tawanan politik di penjara Sukamulia,Medan, Sumatera Utara, mulai 29 Maret sampai dengan 23 Desember 1949. Ketika dalam tahanan, isterinya tercinta, meninggal dunia.

Beliau di masa hidupnya juga pernah terlibat dalam dunia politik Indonesia dengan menjadi pengurus di Majelis Syuro Muslimin (Masyumi). HM Arsyad Thalib Lubis pernah pula menjadi Kepala Kantor Urusan Agama se- Sumatera Timur, (sekarang Kakanwil Depag) bahkan beliau merupakan perwakilan pertama ulama Al Washliyah ini pernah menjadi delegasi Indonesia berkunjung ke negeri Uni Soviet (Rusia sekarang) bersama beberapa ulama-ulama Indonesia lainnya.

Sebagai tokoh Al Jam’iyatul Washliyah, dalam fiqih beliau menganut mazhab Syafi’i. Namun demikian ia bersikap terbuka dan hormat terhadap paham lain. Menurutnya kebebasan mengemukakan paham dan pendapat perlu mendapat tempat dalam masyarakat karena sangat penting artinya bagai kemajuan pengetahuan di kalangan umat Islam.

Kedudukan hukum fikih,menurut beliau, pada umumnya berkisar pada masalah zanni (tidak jelas dan tegas) yang kekuatannya berdasarkan “kuat sangka belaka”. Tidak “yakini” (dengan yakin) karena dapat digugurkan dengan ijtihad. Adapun ijtihad tidak dapat digugurkan dengan ijtihad karena sama kekuatannya.

Dalam usia 63 tahun, Kamis tanggal 6 Juli 1972 bertepatan 23 Jumadil Awal 1392 Hijriyah, HM Arsyad Thalib Lubis menghembuskan nafas terakhir karena sakit di RS Pirngadi, Medan, Sumatera Utara.
HAJI ABDURRAHMAN SYIHAB (1910-1955)

Adalah anak ketiga dari H. Syihabuddin, Kadhi Kerajaan Serdang di Kampung Paku-Galang,Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Beliau lahir pada 1910 Masehi di Kampung Paku tersebut. Sejak kecil bakatnya sebagai seorang pemimpin telah terlihat. Pada tahun 1918-1922, beliau belajar pada sekolah Gubernement dan pada Maktab Sairussulaiman di Simpang tiga Perbaungan, Sumatera Utara. Sesudah itu beliau melanjutkan pelajarannya ke Medan di Maktab Islamiyah Tapanuli, yang ketika itu di pimpin oleh Syekh Mohammad Yunus dan H. Mohammad.

Kemudian beliau pun sempat menjadi guru di maktab tersebut dan terus melanjutkan pelajarannya ke Maktab Hasaniyah yang dipimpin Syekh Hasan Ma’sum.

Abdurrahman Syihab, adalah orang pertama yang mendirikan Madrasah Al Washliyah dengan waktu belajar sore hari di Jl. Sinagar Petisah Medan pada tahun 1932. Beliau pun sempat menjabat kepala madrasah di beberapa tingkatan yaitu menjadi direktur madrasah tsanawiyah, direktur madrasah muallimin dan muallimat.
Pada 1940 ketika Tarbiyah Umumi membuka Madrasah Al Qismul Ali, beliau menjabat direktur Madrasah Qismul Ali.

Pada 1939, beliau berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah Al-Mukarromah. Di sana, Abdurrahman Syihab menyempatkan diri belajar kepada Syekh Alie Al Maliky, Umar Hamdan, Hassan Masysath, Amin Al Kutuby dan M. Alwy.

Selain aktif di perkumpulan pelajar, Abdurahman Syihab termasuk pendiri Al Jam’iyatul Washliyah (Al Washliyah) dan terus menerus terpilih menjadi pimpinan organisasi sampai akhir hayatnya.

Ketika tahun 1934,organisasi Ahmadiyah Kadian hendak meluaskan sayapnya ke Kota Medan (Sumatera Timur, ketika itu), beliau langsung merapatkan barisan umat Islam dan membentuk panitia penentang gerakan tersebut. Dan terakhir beliau menjabat Ketua Komite Pemberantas I’tikad Ahmadiyah Kadian pada tahun 1935.

Selanjutnya pada tahun 1945-1946 menjadi anggota PB Majelis Tinggi Sumatera, Ketua Pimpinan Daerah Majelis Islam Tinggi Sumatera Timur,Wakil Ketua Masyumi Sumatera, Ketua Komite Aksi Pemilihan Umum (KAPU) dan anggota pengurus Folks Front (Pesatuan Perjuangan Sumatera).

Tahun 1939 menjadi utusan Muslimin Indonesia dalam rapat khusus dengan Raja Ibnu Saud di Mekkah, Arab Saudi.

Pada tahun 1941 mewakili PB Al Washliyah ke Kongres Muslimin Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Dan pernah menjadi utusan dari Sumatera Timur ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat, ketika menyambut kemerdekaan Indonesia yang dijanjikan Jepang dan mewakili Sumatera Timur pada Kongres Islam se Sumatera di Bukti Tinggi.

Ketika Kongres Masyumi yang ke enam pada tahun 1954, beliau diangkat sebagai Ketua Masyumi Pusat di Jakarta.
Pendiri Al Washliyah ini pernah menjadi anggota DPR Sumatera Utara, Anggota Eksekutif DPR Sumatera Timur. Pada 1947 ia diangkat menjadi anggota KNIP, lalu menjadi anggota Penasehat PPNKST dan tahun 1954 menjadi anggota parlemen.

Pada akhir 1954 ketika beliau tengah bertugas sebagai anggota parlemen di Jakarta, Abdurrahman Syihab terserang penyakit dan harus beristirahat. Beliau sempat kembali ke Medan dan dirawat di RS Umum Kota Medan. Kurang lebih satu bulan setengah dirawat di rumah sakit tersebut, dengan takdir Allah SWT beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari Senin 7 Februari 1955 pada usia 45 tahun.

Al jam’iyatul Washliyah (Al Washliyah) kehilangan seorang pemimpin yang luhur lagi bijaksana serta cekatan dalam memimpin. Kepergian beliau bukan saja dirasakan oleh keluarga Al Washliyah khususnya,tetapi turut dirasakan oleh seluruh pergerakan dan ogansiasi Islam dan masyarakat umum lainnya.

Abdurrahman Syihab meninggalkan seorang isteri dan 10 orang anak (lima laki-laki dan lima wanita) dan kebanyakan masih di bawah umur, saat beliau meninggal dunia. Bahkan anaknya yang kecil belum sempat dilihatnya karena baru berumur 20 hari.

SYEKH H. MUAHMMAD YUNUS (1889-1950)

Almarhum Syekh H. Muhammad Yunus adalah seorang ulama Al washliyah yang selama hidupnya mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Banyak ulama-ulama terkenal yang menuntut ilmu melalui beliau diantaranya adalah H. Abdurrahman Syihab, H. Baharuddin Ali, OK. H. Abdul Aziz, H. Ismail Banda, Abdul Wahab dan lain-lain.

Syekh H. Muhammad Yunus dilahirkan di Perkampungan Pecukaian Binjai, Sumatra Utara pada tahun 1889. Beliau berasal dari Gunung Beringin kecamatan Penyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Ayahnya bernama H. Muhammad Arsyad. Di kota Binjai beliau menuntut ilmu pengetahuan dasar agama dengan sabar dan tekun. Melanjutkan pelajarannya di Titi Gantung Binjai dan berguru dengan Syekh H. Abdul Muthalib. Kemudian beliau berguru dengan tuan Syekh H. Abdul Wahab Rokan Naksyabandi di perguruan Babussalam Langkat dengan mendalami ilmu fiqih dan mantik.

Syekh h. Muhammad Yunus tidak pernah henti-hentinya untuk menggali ilmu pengetahuan dariberbagai sumber. Berangkatlah beliau ke Malaysia (Kedah) untuk berguru dengan Syekh Muhammad Idris Petani. Selang beberapa lama kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Mekkah (Saudi Arabia) belajar dengan Syekh Abdurrahman , Syekh Abdul Qadir Mandili, dan Syekh Abdul Hamid, Setelah beberapa tahun menjadi murid disana beliau pun mengajar di Makhtab Sultiah Mekkah. Sekembalinya dari Timur Tengah beliau menambah pengetahuannya lagi di Malaysia (Penang) dengan Syekh Jalaluddin Petani dan Syekh Abdul Majid Keala Muda Penang.

Sekembalinya di tanah air beliau menyumbangkan tenaga dan pikirannya di Maktab Islamiyah Tapanuli Medan dan menjadi guru atau kepalah di madrasah tersebut. Dalam masa kepmimpinannya makhtab tersebut merupakan Madrasah tertua di Sumatra Timur.Beliau membina murid-muridnya untuk menjalin persatuan tanpa membedakan suku dan etnis dan tingkat kebangsawanan. Melalui persatuan pelajar-pelajar Islam “Debating club” pada tahun 1930 lahirlah organisasi Al Jam’iyatul Washliyah di kota Medan. Ketika para pelajar makhtab Islamiyah Tapanuli mencetuskan lahirnya organisasi yang bernama Al Washliyah mereka meminta pendapat kepada tuan guru H. Muhammad Yunus mengenai nama organisasi ini sesusai shalat Istikharah beliau menyampaikannya di hadapan para khalayak nama organisasi yang baru dibentuk ini adalah “Al Jam’iyatul Washliyah” yang artinya Organisasi yang saling menghubungkan sesamanya.

Dalam usianya ke-60 disaat terjadinya pendudukan Belanda (tahun 1948-1950) beban tanggung jawab beliau sangat berat khususnya dalam bidang ekonomi untuk menutupi kebutuhan keluarga. beliau mempunyai seorang istri dan sepuluh orang anak yang masih kecil. Sampai-sampai beliau haus mengajar diberbagai tempat seperti sekolah menengah Islam Al Washliyah Jalan Hindu Madrasah Al Washliyah di jalan Mabar, mengajar di jalan Sungai Kera Medan, Pasar Bengkel dan Perbaungan. Inilah yang di tekuni beliau setiap harinya belum lagi kegiatan dakwah dan pengajian lainnya. dalam usianya yang semakin lanjut di barengi dengan pekerjaan berat dan tanggung jawab membutuhi keluarga. Beliau pun menderita sakit dari hari ke hari penyakit tersebut semakin parah, sehingga pada tanggal 7 Juli 1950 bertepatan pada tanggal 1 Syawal 1364 H dalam usianya ke 61 tahun beliau di panggil oleh Allah SWT ke sisi-Nya.
SYEKH HASAN MAKSUM (1884-1937)

Beliau seorang ulama besar yang banyak berjasa di tengah-tengah kaum muslimin, Nama beliau adalah Hasanuddin salah seorang putra dari Syekh Muhammad Maksum yang dilahirkan pada tahun 1884 di Labuhan Deli Medan. Pada umur sepuluh tahun beliau belajar sekolah inggris sampai kelas tiga, kemudian dikirim kedua orangtuanya ke Mekkah untuk memperdalam pendidikan agama islam disana.

Pada usia yang kedua puluh beliau berumah tangga kemudian beliau belajar kembali ke Mekkah dan Madinah selama delapan tahun. Pada tahun 1916 beliau sepulang dari Saudi Arabia, beliau menggantikan jabatan orangtuanya sebagai kadhi di Kesultanan Deli.

Di dalam organisasi Al Washliyah beliau banyak berjasa karena tak henti-hentinya memberikan dorongan dan bimbingan kepada pengurus Al Washliyah di antara pimpinan dan ulama Al Washliyah yang menjadi muridnya adalah Syekh H.Muhammad Arsyad Thalib Lubis. Pada pergantian pengurus bulan Juli 1931, beliau diangkat menjadi penasehat organisasi ini. Namun pada usia yang ke 53 tahun tepatnya pada tanggal 7 Januari 1937 M atau 24 Syawal 1353 H.

H. MUH ISMAIL LUBIS (1900-1937)

Almarhum merupakan seorang ulama terkenal yang lahir pada tahun 1900, semenjak kecilnya belajar pada sekolah dasar Belanda kemudian belajar pada Makhtab Islamiyah Tapanuli di Medan.

Setelah tamat pada tahun 1921 beliau mengajar di Binjai, sambil menggali ilmu pengetahuannya beliau pindah ke kota Medan dan oleh Kesultanan deli beliau di angkat menjadi Kadhi wilayah Percut.

Beliau juga pengarang pengarang buku-buku agama, disamping itu beliau pun menjadi pengasuh majalah suara Islam dan banyk memberikan ulasan-ulasan dan fatwa sekitar hukum-hukum agama dalam organisasi Al Washliyah. Disaat umat Islam dirundung duka dengan meninggalnya Tuan Syekh Hasan Maksum, tiba-tiba pada hari Sabtu 9 Januari 1937 atau 26 Syawal 1355 H, beliau dipanggil oleh Allah SWT bertempat di kediaman di Jalan Mabar Medan tutup usia 37 tahun, meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak yang masih kecil-kecil.

(esbeem)


Populer

×