27.2 C
Jakarta
Rabu 5 Oktober, 2022

Melongok Ponpes Moderen Manahijussadat Rangkasbitung Nuansa Kampung

MEMASUKI kompleks Pondok Pesantren Moderen Manahijussadat, di Kampung Serdang, Dusun Pasarkeong, Kecamatan Cibadak, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sungguh beda dengan yang lain. Begitu masuk ke kompleks ini, sepertinya tidak seperti masuk ke kawasan santri, tapi seakan masuk ke suatu perkampungan. Karena posisi dan letak bangunannya terpencar-pencar di lereng perbukitan. Tidak di lahan rata atau memiliki bangunan bertingkat-tingkat, sebagai mana lazimnya di lembaga pendidikan lain.

“Ini Ponpes moderen bernuansa country,” kata KH Sulaiman Effendi, M.Pdi saat menyambut Pengurus Besar Al Jam`iyatul Washliyah beserta panitia Workshop Satuan Komunitas Pramuka Al Washliyah, ketika berkunjung ke ponpes tersebut pada pertengahan Juli 2022.

Di atas lahan sekitar 15 hektar, ponpes yang dibangun KH Sulaiman Effendi, Alumni Ponpes Gontor Jawa Timur ini, bangunan ditata dengan indah hinya nyaris sempurna. Selain bangunan untuk santri pria dan wanita yang juga terpisah, juga dilengkapi berbagai sarana dan fasilitas lain, termasuk sarana pendidikan, masjid, olahraga, supermaker mini, peternakan sapi, ternak ikan, wisma, juga tersedia kafe yang dibuka hingga pukul 22.00 Wib.

Menurut KH Sulaiman Effendi, suami Hj Umi Badriatul Imamah ini, pembangunan sarana dan fasilitas ponpes tetap memperhatikan keasrian lingkungan. Karena itu, banyak bangunan ponpes bertengger di perbukitan, sehingga menambah nuansa kesejukan alam di kawasan Ponpes Moderen Manajihussadat.

Kesan pertama saat melongok ponpes ini terasa seperti masuk kampung. Begitu menyaksikan ratusan santri keluar ruang belajar, melewati badan jalan yang menurun dari perbukitan menuju asrama santri yang tersebar dalam kompleks, suasana demikian menambah keindahan pemandangan. Nuansa Islami memperkuat suasana bahwa sedang berada di dalam area ponpes.

Santri wanita yang terpisah dengan santri pria. Berjalan kaki mengenakan seragam santri, melangkah sambil bercanda dan lari-lari kecil dari ruang belajar menuju asrama, yang berjarak ratusan meter. Sungguh indah dan nyaman, apalagi suasananya sepi dari kebisingan kendaraan bermotor. Di sela-sela barisan santri itu, nampak sejumlah ustad/ustazah/guru mengawasi pergerakan santri. Dan, kiai nya berbaur dengan ratusan santri.

Yang lebih mengesankan lagi, jika memasuki waktu Salat Rawatib [Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh], santri pria wajib berjemaah ke Masjid At-Taawun yang ada di tengah kompleks. Santri pria datang dari berbagai arah menuju masjid, bersarung dan berpeci sambil membawa Kitab Al Quran, demikian juga santri wanitanya, sungguh indah nian dipandang mata.

Yang unik, kompleks ponpes yang berjarak sekitar 2 Km dari terminal bus ini, tidak memiliki tembok keliling. Sebagai mana kerap dilihat di daerah lain. Hanya saja memiliki gerbang pintu utama, yang dijaga petugas khusus ponpes.

Sekilas kelihatan bahwa Ponpes Manajihussadat berbaur dengan perumahan warga sekitar. Nyaris tidak terlihat jelas mana batas rumah kampung dengan bangunan ponpes. Ternyata ini resep KH Sulaiman Effendi, ayah lima orang anak ini, untuk menjadi ponpes yang didirikannya menyatu dengan warga. Tidak ada tembok pemisah. “Kalau bangun tembok, tentu biayanya cukup besar,” ucap KH Sulaiman Effendi, yang juga menjabat Ketua Pengurus Wilayah Al Washliyah Provinsi Banten.

KH Sulaiman Effendi, putra asal Batubara, Sumatera Utara, mengenang masa-masa awal pembangunan ponpes tersebut. Dia mengaku banyak tantangan dan cobaan yang dihadapi. Malah dia sempat dikalungi golok dan dituduh menyebarkan faham sesat, tapi hal itu dapat dilaluinya dengan modal ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT, serta dukungan orang-orang dekatnya. Sekarang warga sekitar telah menerima kehadiran lembaga pendidikan santri tersebut. Banyak warga yang buta huruf dan disekolahnya melalui program Kejar Paket A, B dan C. Dan tidak sedikit warga, kata Kiai Sulaimen, mewakafkan lahan untuk pengembangan pembangunan ponpes ini, yang lokasinya tidak jauh dari tol Rangkasbitung.

Mengenai aktivitas santri, menurut keterangan, sudah bergerak sejak Subuh hingga malam hari, meliputi, tahfidz Qur`an, disiplin ibadah, bahasa arab dan bahasa Inggris, ekstrakurikulernya, antara lain komputer, Pramuka, Marching Band, Kesenian, Beladiri, Life Skill, Latihan Kepemimpinan, olahraga dan lain-lain.

Ponpes Manahijussadat adalah lembaga pendidikan formal terpadu 24 jam. Dengan menggunakan dua bahasa asing, yakni Bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-harinya. Ponpes yang berdiri sejak tahun 1997 ini sudah memiliki 9 unit asrama santri, satu masjid, satu unit perpustakaan, sarana olahraga dan kesenian lengkap 13 unit usaha. Konsepnya ponpes ini bergerak dan berkembang dengan usaha sendiri. Santrinya berasal dari mana-mana, Sumatera, Jawa, NTT, Banten dan DKI.

Guru/ustadnya berasal dari beberapa ponpes ternama di Indonesia, bergelar S1 dan S2 sesuai bidang keilmuannya. [syamsir]

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
1,230PengikutMengikuti
206PengikutMengikuti
100PelangganBerlangganan

Latest Articles