spot_img
BerandaDunia islamPelaksanaan Haji Simbol Muktamar Umat Islam Dunia

Pelaksanaan Haji Simbol Muktamar Umat Islam Dunia

JUTAAN umat Islam dunia memadati Arafah pada bulan haji ini. Mereka berkumpul di tempat mulia dalam satu niat suci, yakni memenuhi panggilan Ilahi Robb. Kalimat talbiyah berkumandang di setiap pelosok dan penjuru tenda-tenda jemaah. Jemaah bergerak dari Arafah ke Mina dan Muzdalifah, bermalam dan melontar jumroh, kemudian kembali lagi ke Baitullah, Makkah Al Mukarromah, untuk menunaikan merampungkan rangkaian ibadah haji.

Jemaah yang berkesempatan menunaikan ibadah rezeki pada tahun ini, apalagi pelaksanaan wukuf pada hari Jumat, yang disebut-sebut sebagai haji akbar, sungguh mengesankan dan menyenangkan hati. Oleh karena itu, insan yang hadir di Arafah, adalah manusia pilihan Allah, yang dipanggil memenuhi panggilan-Nya. Banyak orang kaya, berduit, sehat fisik, atau sudah mendaftar sebagai calon haji, tapi belum dapat panggilan untuk berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah Rukun Islam kelima. Keberangkatan ke tanah suci pada tahun ini pasca wabah Covid, adalah rezeki dari Allah SWT.

Sebagaimana diketahui bahwa puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Dengan kata lain, wisuda seorang seorang haji adalah wukuf di Arafah. Tidak sah haji seseorang jika tidak ikut wukuf di Arafah. Karena itu, fisik jemaah wajib hadir di Arafah, walau pun sesaat karena sakit. Petugas ibadah haji berkewajiban mesafariwukufkan jemaah sakit, meski pun dalam posisi duduk atau berbaring. Ibadah haji boleh dikata adalah ibadah fisik dan harus ikut wukuf di Arafah.

MUKTAMAR UMAT ISLAM

Pelaksanaan ibadah haji di tanah suci, Arafah, Mina dan Muzdalifah, menggambarkan betapa kuatnya nilai persatuan dan kesatuan umat Islam dunia. Dari penjuru mana pun, jemaah akan datang ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Padang Arafah tempat berkumpulkan jutaan umat Islam dunia, mereka sama-sama sujud, takbir dalam satu kalimat komando Allahu Akbar.

Dengan muhasabah, koreksi diri, air mata bercucuran, sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa manusia itu, tidak punya arti apa-apa. Yang pejabat, rakyat biasa dan sebagainya, tidak terlihat dalam suatu perbedaan. Yang membedakan di hadapan Allah SWT adalah ketaqwaan. Arafah menjadi lautan air mata jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia.

Dari pelaksanaan ibadah, umat Islam dunia terlihat kompak dan bersatu. Namun pada realitanya, di luar ibadah wajib, umat Islam dunia masih sering goyah dan kurang kompak. Masih banyak yang mengedepankan sikap ego dan sebagainya. Malah ada yang sengaja atau tidak, melemahkan persatuan dan kesatuan umat Islam itu sendiri. Padahal dalam ibadah haji, salat, zakat dan sebagainya, umat Islam itu kuat dan kokoh. Lihatlah barisan [shof] salat berjemaah. Rapat dan lurus dibawah satu komando imam. Saat haji, semua mengenakan pakaian ihrom serba putih bersih. Tidak menyandang pangkat dan jabatan, bersatu mengucap Labbaik …Allahumma Laibbaik…Tapi setelah selesai ibadah itu, banyak di antara umat Islam kembali kepada nafsi-nafsinya.

Banyak umat Islam yang kelaparan di belahan dunia, termasuk di Indonesia. Ajaran Islam dituding sebagai ajaran kekerasan, radikal, teroris kerap diarahkan kepada umat Islam. Organisasi Islam dunia seakan ompong, tak memiliki kekuatan apa-apa. Banyak lagi kondisi yang memprihatinkan, namun tidak menutup kemungkinan banyak keberhasilan yang diperbuat oleh umat Islam, baik secara persoanal maupun organisasi, padahal ajaran Islam itu sebenarnya mengandung kasih sayang dan kelemahlembutan terhadap sesama.

Haji di Arafah, jika boleh disebut sebagai muktamar umat Islam dunia, sebagai mana biasanya, ada putusan-putusan, atau kesepakatan, yang harus diimplementasikan di negara asal atau lingkungan masing-masing. Seorang jemaah hendaknya memiliki kepedulian yang lebih sekembali dari tanah suci. Membangun kekompakan dalam negeri, merawat kebersamaan, memperkuat persatuan dan kesatuan, memperkecil perbedaan antar sesama muslim. Jangan memperbesar perbedaan, tapi hendaknya memperbanyak persamaan sebagai anak bangsa.

Haji bukanlah gelar yang harus dibangga-banggakan. Yang diharapkan sekembalinya dari tanah suci, seorang jemaah haji dapat menempatkan dirinya sebagai hamba Allah SWT, membawa perbaikan dalam segala aspek kehidupan di lingkungannya. Jemaah yang menunaikan ibadah haji, tidaklah mengedepankan perbedaan, tapi hendaknya larut dalam kebersamaan. Mari memperkokoh persatuan dan menjaga serta merawat ukhwah umat Islam, anak bangsa dan negara. Allahu A`lam Bish Showab. [syamsir]

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille