Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Minggu, 16 Mei 2021

Keutamaan Menolong Sesama Muslim

Munthe Opini

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag.

SATU di antara keutamaan ajaran Islam tentang soal kemasyarakatan ialah ajarannya yang bersifat sosialistis di samping memikirkan dan mengurus kepentingan diri sendiri, seorang Muslim haruslah juga memikirkan keadaan saudara-saudara muslim lainnya, memberikan kelapangan kepada orang yang sedang mengalami kesempitan, kesusahan; tegasnya memberikan uluran tangan dan pertolongan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Dan tolong-tolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah, 5:2).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Tiadalah seorang mukmin berduka cita atas musibah yang menimpa saudaranya, kecuali Allah Swt. akan memakaikan kepada perhiasan kehormatan, kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah melalui Amr ibnu Hazm).

Barang siapa yang turut berduka cita atas musibah yang menimpa saudaranya yang mukmin, maka kelak di hari kiamat Allah akan memakaikan kepadanya perhiasan kemuliaan, yakni Allah Swt. akan menempatkannya pada kedudukan yang mulia kelak di hari kiamat.

Dan dalam berfirman-Nya yang lain disebutkan, “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr, 59:9)

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Perumpamaan hubungan seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah lakssna sebuah bangunan yang masing-masing bagian saling menguatkan. (Beliau kemudian mengisyaratkan hal itu dengan menyatukan jari-jari kedua tangan beliau).” (HR. Bukhari).

Menolong sesama saudara merupakan hal yang dianjurkan. Barang siapa yang menolong saudaranya yang dalam kesusahan, niscaya Allah Swt. akan membalas dan menolongnya di hari ketika ia mendapat kesulitan. Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa barang siapa yang menolong orang yang tidak mampu menunaikan hajatnya, niscaya Allah akan menetapkan kedua telapak kakinya di atas shirathal mustaqim. Atau dengan kata lain ia tidak akan tergelincir dan dapat melaluinya hingga sampai ke surga.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Kamu akan melihat orang-orang mukmin saling mengasihi, saling menyintai dan saling sayang menyayangi; seakan akan-akan mereka adalah satu tubuh; apabila salah satu anggota merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh, sehingga merasakan demam dan gelisah.” (HR. Bukhari).

Orang-orang yang benar-benar beriman, sebagian dari mereka dengan sebagian yang lain adalah bersaudara. Perumpamaan mereka sama dengan suatu tubuh, apabila salah satu dari anggotanya merasa sakit, maka rasa sakit itu terasa oleh seluruh tubuh, hingga semuanya merasakan demam dan tidak tidur karenanya.

Hubungan di antara sesama mereka sangat erat dan intim, serta kasih sayang terjalin di antara mereka dengan kuat dan mereka saling menolong. Demikianlah ciri khas orang-orang yang beriman, mereka bersatu padu dalam suka dan duka.

Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Barang siapa di antara kalian mampu untuk berbuat hal yang bermanfaat bagi saudaranya, maka hendaknya ia mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang lain telah disebutkan, bahwa sebaik-baik orang di antara kalian ialah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kedua Ĺ•iwayat tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu menganjurkan kepada kita agar berbuat hal yang bermanfaat kepada sesama kita.

Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Barang siapa menolong orang yang meminta tolong, niscaya Allah mencatatkan baginya tujuh puluh tiga ampunan; salah satu di antaranya ialah perkaranya menjadi baik semuanya, sedangkan yang tujuh puluh dua merupakan derajat-derajat yang akan diperolehnya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari melalui Anas r.a.).

Ada tujuh puluh tiga macan pahala bagi penolong orang yang perlu ditolong dengan segera, salah satu di antaranya untuk kebaikan semua perkaranya di dunia ini, sedangkan yang tujuh puluh dua sebagai pahala untuknya di hari kiamat nanti.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Barang siapa memenuhi suatu kebutuhan bagi saudaranya yang muslim, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berhaji dan ber-‘umrah.” (HR. Khathib melalui Anas r.a.).

Orang yang membantu saudaranya yang muslim dalam memenuhi suatu keperluannya memperoleh pahala sama dengan pahala orang yang melakukan ibadah haji dan umrah.

Dalam hadits yang lain beliau telah bersabda, “Barang siapa yang menolong saudaranya tanpa sepengetahuannya, niscaya Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat.” (HR. Baihaqi melalui Anas r.a.).

Orang yang menolong saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan, kelak Allah akan memberikan pertolongan kepadanya di dunia dan akhirat.

Dan dalam hadits yang lain beliau telah bersabda, “Barang siapa berusaha untuk membantu keperluan saudaranya, niscaya Allah selalu memperhatikan keperluan dirinya.” (HR. Ibnu Abud Dun-ya).

Barang siapa yang membantu saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya selalu menolong saudaranya. Juga dalam hadits yang lain beliau bersabda, “Barang siapa memudahkan orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah melalui Abu Hurairah r.a.). Orang yang memberi kemudahan kepada saudaranya yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan membalasnya dengan memberikan kemudahan kepadanya, baik di dunia dan maupun di akhirat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menyerahkannya (kepada musuh); barang siapa mengusahakan keperluan saudaranya, maka Allah selalu berada dalam keperluannya. Dan barang siapa menolong orang muslim dari suatu bencana, maka Allah akan menolongnya dari suatu bencana besar kelak di hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka niscaya Allah akan menutupi aibnya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang yang benar-benar muslim ialah orang yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap saudaranya dan tidak pernah menjerumuskannya ke dalam bahaya. Barang siapa yang suka menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya; dan barang siapa menyelamatkan saudaranya dari suatu kesusahan, maka Allah akan menyelamatkannya dari suatu kesusahan di hari ia sangat membutuhkan pertolongan, yaitu hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan balas menutupi kesalahan (dosa)nya kelak di hari kiamat.

Allah Swt. telah berfirman, “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah, 9:41). Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Manta Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.


Populer

×