spot_img
BerandaKabar WashliyahKe Pusara Sekjen Pertama Al Washliyah Tuan H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis

Ke Pusara Sekjen Pertama Al Washliyah Tuan H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis

MEDAN – Tidak banyak waktu yang tersisa selama di Medan, Sumatera Utara. Berikutnya saya berziarah ke makam pendiri Al Washliyah lainnya. Kali ini saya membawa keluarga kecil saya untuk berziarah. Bersama isteri dan anakku, Sabtu 24 September 2016 kami menuju perkuburan di jalan Mabar, Sei Kera, Kota Medan. Di tempat ini ada makam Tuan H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis, seorang pendiri dan ulama Al Washliyah.

Beliau lahir pada Oktober 1908 dari pasangan H. Lebai Thalib Lubis dan Kuyon binti Abdullah. Semasa belia, Muhammad Arsyad senang menuntut ilmu kebeberapa guru. Karena kecerdasan dan kepintarannya menulis, sejak muda tulisannya sudah terbit di berbagai media massa.

img_20160924_103543
Foto: Di pusara Tuan Syekh H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis, aku dan keluarga kecilku berziarah.

Tuan Arsyad demikian beliau sering disapa, berperan dalam pendirian Al Washliyah. Bahkan sebelum perkumpulan bulan sabit bintang lima ini dideklarasikan, beliau didaulat untuk menyampaikan bentuk dan tujuan organisasi kepada peserta rapat. Bersama-sama dengan Ismail Banda dan Syamsuddin, ia menyampaikan bentuk perkumpulan dan aturan organisasi (AD/ART).

Ketika Al Washliyah dibentuk, Tuan Arsyad disetujui menjadi Penulis I, jabatan tersebut sama dengan Sekretaris Jenderal. Kepengurusan pertama Al Washliyah tidak bertahan lama, beberapa bulan kemudian terjadi pertukaran. Ini dikarenakan Muhammad Arsyad harus berangkat ke Aceh. Beliau diminta masyarakat Meulaboh untuk menjadi guru agama. Panggilan dakwah itu dipenuhinya, sehingga posisinya harus digantikan kepada yang lain.

Sekembalinya dari Aceh, beliau pun aktif lagi dalam struktur Al Washliyah. Meski dalam sejarah dia pernah menyatakan diri untuk tidak aktif di Al Washliyah, namun kecintaannya kepada organisasi ini tetap terjaga. Sebagai pendiri organisasi, ulama Al Washliyah ini aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan.

Selama hayatnya, Tuan Arsyad tetap mengajar di beberapa madrasah Al Washliyah. Bahkan dia sempat mendirikan Universitas Al Washliyah (Univa) Medan dan menjadi dosen tetap. Dia pun pernah menjadi anggota konstituante dari Partai Masyumi dan sempat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama untuk wilayah Sumatera Timur. Terakhir dia menjadi Ketua Umum PB Al Washliyah hasil Muktamar di Jakarta pada 1956.

Selain bergerak dalam dunia pendidikan dan dakwah, Muhammad Arsyad terkenal sebagai seorang ahli dalam perbandingan agama. Beliau mengarang beberapa buku tentang perbandingan Islam dan Kristen. Bukunya itu menjadi rujukan banyak ustadz untuk berdakwah. Karena itu orang menggelarnya dengan sebutan Kristolog Tanah Batak.

Buah karyanya terbilang banyak, terutama dalam bidang agama. Beliau juga produktif mengarang kitab-kitab pelajaran untuk ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Hingga kini karyanya itu masih terus digunakan, khususnya di madrasah Al Washliyah.

Pendiri Al Jam’iyatul Washliyah ini wafat pada Kamis, 6 Juli 1972 di rumahnya di jalan Sei Kera, Medan pukul 14.00. Muhammad Arsyad meninggalkan tujuh orang anak terdiri 3 laki-laki dan 4 perempuan. Isterinya Siti Jamaah Kamil sudah terlebih dahulu meninggal dunia jauh sebelum dirinya. Beliau dimakamkan diperkuburan yang tidak terlalu jauh dari kediamannya.

jamaah-berziarah-ke-rmh-m-arsyad
Foto: Warga Medan dan sekitarnya berduyun-duyun mendatangi kediaman Alm. Tuan H. M. Arsyad Th. Lubis untuk bertakziah.

Berita wafatnya Tuan Arsyad tersebar ke seluruh Medan dan sekitarnya. Berita duka tersebut membuat warga berdatangan ke kediaman ulama kharismatik itu. Selesai disholatkan dan hendak dibawa ke peristirahatan terakhir, seluruh warga yang hadir berebutan ingin mengangkat kerandanya.

Semua berkeinginan memberikan sumbangsih terakhirnya kepada ulama besar itu. Kecintaan umat kepadanya terlihat pada hari itu. Akhirnya disepakati agar semua jamaah bisa mengangkat keranda, maka keranda tersebut dijalankan di atas kepala lautan manusia. Keranda yang berisi Tuan Syekh H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis diestafetkan hingga sampai ke makam. Keranda itu pun akhirnya berjalan di atas manusia yang menyemut sampai ke makam.

keranda-m-arsyad
Foto: Keranda beliau diestafetkan dari tangan ke tangan para pelayat yang ingin mengangkatnya sampai ke pemakaman.

Beberapa tahun kemudian, di pusara Syekh H. Muhammad Arsyad Thalib Lubis, turut dimakamkan menantunya yaitu Tengku H. Amir Husin Sardani (1993) dan Putra beliau H. Muslim Arif Lubis (2009). Sehingga di batu nisannya tertulis nama-nama tersebut.

Kini ulama Washliyah itu telah menghadap Sang Khaliq, kita berdoa semoga seluruh amal ibadahnya diterima Allah Swt. dan diberikan balasan surga. Meski kami hanya bisa berziarah ke makamnya, namun apa yang ditinggalkannya masih terus membuatnya hidup hingga akhir zaman.[]

Penulis M. Razvi Lubis, Redaktur www.kabarwashliyah.com sekaligus Sekretaris PB Al Washliyah Periode 2015-2020.

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille