spot_img
BerandaDunia islamHaji Abad 21: Renungan Keshalehan Individu dan Sosial

Haji Abad 21: Renungan Keshalehan Individu dan Sosial

KONSTEKTUAL haji dalam syariah Islam, menempatkan haji lebih cenderung dalam panggilan syiar untuk bersilaturrahmi antar ummat Islam di seluruh penjuru dunia. Dalam rangka mempertebal keimanan dan wujud dari sebuah perjalanan syiar Islam melalui para nabinya. Sehingga haji diistilahkan secara kontemporer merupakan muktamar tahunan ummat Islam. Seluruh ummat berkumpul dalam waktu dan tempat yang sama untuk melakukan prosesi ritual ibadah haji. Berbagai upaya yang dilakukan agar dapat melaksanakan ibadah dari rukun Islam yang kelima ini. Banyak pembelajaran yang sangat nuratif yang diperoleh dalam prosesi ini, mengajarkan untuk memiliki sifat penghambaan, tawadu’ dan istiqamah untuk menaklukkan naluri keduniawian yang lebih mendekatkan ibadah daripada harta dalam kehidupan keseharian. Allah swt berfirman:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS.Al Hajj: 27)

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah Saw bersabda:

“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nawabi), Masjid Al-Haram (di Makkah), dan Masjid Al Aqsha.” (HR. Al-Bukhari No. 1115 dan Muslim No. 1397).

Mengasah sifat ketaqwaan sebagai abduh diimplemnetasikan dalam taraf akhir rukun Islam melalui ritual haji, dimana hanya keabduhan yang ditonjolkan sehingga keeratan silaturrahim antarsuku, bangsa dan ras Islam di seluruh penjuru dunia dapat dinikmati dan dirasakan. Ketika pergeseran budaya terjadi, kemewahan dan rasa tinggi hati sebagian manusia, menjadikan ajang silaturrahim ini seakan mengalami perubahan yang hebat. Kemegahan dan penonjolan status sosial kerap kali dipertontonkan dalam setiap perhelatannya. Rasullullah Saw telah memberikan sinyalnya, diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah Saw bersabda:

“Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa di dunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami di masa itu sedikit”. Rasulullah menjawab: “Jumlah kalian banyak tapi seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi: “Apakah penyakit ‘wahan’ itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Cinta kepada dunia dan takut mati!”. (Silsilah Hadist Shahih No.958).

Entah pemikiran apa yang melintas, sehingga tidak sedikit calon haji melakukan berbagai macam cara untuk dapat melaksanakan perjalanan ibadah haji menuju Baitullah. Apalagi dengan jumlah waitinglist yang sudah menembus angka di atas 2,6 juta calon haji. Apakah ini merupakan implementasi keimanan dalam melakukan sebuah ibadah, ada semangat pertontonan ego sektoral di sana. Bagaimana jika dibandingkan dengan calon haji lainnya dengan ketidakberdayaannya karena tidak memiliki kekuasaan ataupun kerabat yang berkuasa atau juga materi yang lebih dan hanya cenderung melekatkan ketaqwaan dalam kepribadiaanya hanya mampu terdiam dan pasrah menerima, karena baginya haji merupakan sebuah panggilan Rabbnya. Di sinilah muncul aturan yang tidak tebang pilih, semua diatur dengan managemen sistem. Siapa yang mendaftar di awal maka akan dilayani di awal juga (first came first served).

Keegoan ini muncul dengan berbagai macam alasan seperti usia yang lanjut, sakit, waktu atau alasan lainnya yang kontradiktif dengan keistithaahan dan mencederai pola antrian yang sudah terbentuk sehingga pemaknaan haji menjadi cidera akibat keegoan yang seharusnya mengedepankan tawadu’, ta’at, qanaah dan sabar. Tanpa kita sadari keegoan ini berdampak, setidaknya sebesar 200 ribuan setiap tahunnya menggondol gelar haji, namun kepekaan sosial kemasyarakatan masih dirasakan kurang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin per September 2013 di Indonesia mencapai 28,55 juta orang, bertambah 480 ribu orang dibandingkan angka yang tercatat pada Maret 2013. Artinya sebesar 28,55 juta rakyat Indonesia masuk dalam katagori miskin.

Pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan jangka pendek yang dilakukan pemerintah sudah berjalan dengan baik. Harapannya adalah, bagaimana peran para hujjaj dalam ikut serta untuk menanggulangi kemiskinan. Ada tuntutan kesalehan sosial dalam diri calon haji dengan mengalihkan setoran awalnya untuk turut mengentaskan kemiskinan dan sebagai wujud rasa cintanya kepada Allah Swt. Bukan tidak mungkin persentase kemiskinan akan semakin tinggi angka penurunannya. Mungkinkah itu? Kemungkinan hanya 1:1 juta yang melakukan itu, di tengah-tengah tangan yang menengadah untuk meminta sedekah dengan ucapan “salam” dan kebanyakan dijawab dengan “maaf ya”. Hedonisme setidaknya telah menancap dalam pemikiran masyarakat yang konsumtif. Singapura merupakan kota termahal pada 2014 dibandingkan 131 kota di dunia, menurut survei lembaga ekonomi, Economist Intelligence Unit (EIU). Lihat saja, belanja orang Indonesia di Singapura mencapai Rp 30 triliun pada 2009. Jumlah ini mengalami kenaikan cukup besar dibandingkan tahun 2007, yang mencapai Rp.10 triliun.

Prespektif ini seolah mengajak kita untuk kembali bermuhasabah dalam membangkitkan gairah berfikir lebih luas. Luas dengan melihat kondisi kemasyarakatan yang semakin mengarah kepada keinginan dan bukan lagi kebutuhan. Haji menjadi sebuah komoditi dengan elastisisitas sempurna yang mengalami trend yang begitu menarik. Artinya berapapun harga dan quota haji akan habis terjual. Promosi dan implementasi dana talangan, MLM dan sebaginya melekat dan mewabah dalam media setidaknya dalam 2 tahun terakhir.

Para penggiat haji ini seolah melupakan ada hal substansial yang seyogyanya dilakukan minimal seperti pencanangan bebas buta huruf hijaiyah dan tarbiyah yang sistematis yang perlu dideklarasikan sebelum berhaji dan selain itu juga melewatkan bagaimana melekatkan akad-akad syariah dalam mengimplementasikan proses transaksi dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah ini. Lebih mengajarkan publik untuk menikmati layanan dalam melaksanakan ritual ibadah sebagaimana layaknya layanan berbasis kepada wisata secara umum. Layanan seolah berbasis wisata ini sepertinya kurang layak jika dilekatkan dengan prosesi ibadah. Contohnya sebagaimana pelaksanaan ibadah shalat, puasa, zakat akan selalu dilakukan khidmat dalam situasi dan kondisi apapun.

Hal ini memang tidak dapat dibakukan, namun perlu juga hendaknya meninjau sisi dampak yang dapat memicu peningkatan akibat “keinginan” bukan “kebutuhan”. Jangan sampai prosesi pelaksanaan ibadah haji yang seyogyanya mempertontonkan keabduhan kepada Ilahi Rabbi justru pada aspek ritualnya menjadi lebih mempertontonkan penyediaan fasilitas yang menjadikan pelaksanaan ibadah haji menjadi sangat dipermudah, tiada kesan kegigihan kehambahan yang tergambar dan menjadi hikmah dalam prosesi ibadah haji itu sendiri.

Penulis: Affan Rangkuti

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille