spot_img
BerandaKabar WashliyahDa'i Al Washliyah Muhammad Idris Batubara Berdakwah Sejak Muda (Bag. 1)

Da’i Al Washliyah Muhammad Idris Batubara Berdakwah Sejak Muda (Bag. 1)

PADANG – Haji Muhammad Idris Batubara merupakan pria kelahiran Batubara, Sumatera Utara. Namun beliau besar di Kota Medan. Di kota ini pula ia menghabiskan waktu kecil hingga remaja untuk menimba ilmu agama. Di tanah Deli ini Idris kecil bersekolah di Madrasah Diniyah Ibtidaiyah Al Washliyah Ismailiyah. Pendidikan agamanya terus ia lanjutkan ke jenjang Tsanawiyah hingga Al Qismul’ali (setingkat aliyah).

Idris muda terus ditempa untuk menjadi mujahid muda yang tangguh dalam berdakwah. Dua belas tahun lelaki kelahiran 1 Januari 1947 ini menimba ilmu di madrasah tersebut. Setamatnya dari Ismailiyah dia pun melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Universitas Al Washliyah (Univa) Medan. Namun perkuliahan hanya dijalankannya kurang lebih setahun. Ada sebuah tugas suci yang sudah disiapkan para mu’alim untuknya.

Tanpa sepengetahuannya, Idris dipersiapkan untuk mengamalkan ilmunya bagi masyarakat di daerah pedalaman. Ada sebuah pulau jauh di seberang sana yang penduduknya tidak terjamah ajaran tauhid. Lalu beliau dikirim oleh PB Al Washliyah untuk berdakwah ke Sumatera Barat, tetapnya di Kepulauan Mentawai. Saat itu guru yang beliau hormati Tuan H.M. Arsyad Thalib Lubis menyuruh Muhammad Idris berdakwah ke pulau terluar di tanah Minang. Dengan sikap sami’na wa atho’na Idris pun melaksanakan perintah gurunya. Berangkatlah ia seorang diri ke Mentawai melalui Padang.

Penunjukan Idris oleh pendiri Al Washliyah ini bukan tanpa alasan. Bila dianggap tidak memiliki kemampuan berdakwah dan sikap yang baik tidak mungkin Tuan Arsyad menunjuknya. Karena dilihat memiliki kemampuan untuk berdakwah maka Idris disuruh berangkat. Kemampuan menjadi juru dakwah sudah diperlihatkan Indris ketika anak-anak. Sejak masih menimba ilmu di Ismailiyah, Idris belia sudah mengajar di beberapa madrasah milik Al Washliyah di Medan.

Kegiatan mengajar ini lakukan selepas menuntut ilmu. Bahkan ia mengajar hingga ke Asahan dan Padang Sidimpuan. Kenyataan itu yang membuat Tuan Arsyad menjatuhkan pilihan kepada salah satu muridnya. Di akhir 1969 Idris Batubara menginjakan kakinya di sebuah pulau di Kepulaun Mentawai. Menyeberang dari Padang ke Mentawai membutuhkan waktu tempuh 10 – 12 jam. Ketika itu moda transportasi yang digunakan kapal motor kecil.

Kepulauan Mentawai memiliki empat pulau besar yaitu Siberut, Sipora, Pagai Selatan dan Pagai Utara. Kapal motor yang membawa da’i Al Washliyah melabuhkan jangkar di Siberut. Karena perjalanan yang cukup melelahkan, Idris pun turun di tempat itu sekedar istirahat semalam dan keesokan harinya melanjutkan ke pulau yang lain. Di pulau Siberut ia sempat memberikan ceramah agama. Ceramah yang disampaikannya telah membuat penduduk terpikat. Terutama warga yang tinggal di dekat dermaga.

Bersambung.

Da’i Al Washliyah Muhammad Idris Batubara Berdakwah Dengan Santun (Bag. 2)
(mrl)

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille