BerandaKabar WashliyahMendikbud: Promosikan Koleksi Museum dengan ‘Bumbu’ Cerita Mistik

Mendikbud: Promosikan Koleksi Museum dengan ‘Bumbu’ Cerita Mistik

JAKARTA – Koleksi museum sering dianggap hanya sebagai peninggalan masa lalu. Meskipun mempunyai nilai sejarah tinggi, namun antusiasme masyarakat dinilai masih rendah. Guna menarik minat pengunjung, aset bangsa itu harus terus dipromosikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, anak-anak tidak bisa dipaksakan wajib mengunjungi museum. Menurut dia, untuk mempromosikan museum, kata kuncinya adalah bagaimana membuatnya menjadi atraktif.

“Memang penting mengajak anak (berkunjung) ke museum, tetapi bagaimana agar ajakan tersebut menjadi menarik. Supaya menarik, gunakan (cerita) mistik,” katanya saat memberikan keterangan pers di ruang kerjanya, di Kemdikbud, Jakarta , Selasa (17/9/2013) malam.

Menurut Mendikbud, cerita mistik dibalik koleksi museum ini tidak harus sesuai dengan keadaan sebenarnya. Sekedar untuk menarik perhatian, kata dia, cerita mistik cukup disampaikan dengan ungkapan ‘katanya’. “Tidak perlu menurut si X atau si Y. (Sumbernya) tidak jelas, tetapi orang percaya,” jelasnya.

Penggunaan cerita mistik ini, lanjut Mendikbud, juga digunakan untuk menarik pengunjung museum di berbagai negara seperti Jepang , Korea , bahkan Perancis. Salah satu sasaran pada rencana strategis Kemdikbud adalah meningkatnya jumlah pengunjung pada museum yang direvitalisasi sebanyak 5 juta orang.

Mendikbud mengatakan, tugas pengelola museum tidak sekedar menjaga koleksi museum. Lebih dari itu, kata dia, mereka harus mampu mempromosikan koleksi museum menjadi sesuatu yang bermakna. “Koleksi museum itu tidak ada barang anyar (red:baru). Kepala museum harus bisa melakukan kontekstualisasi kekinian,” katanya.

Mendikbud meminta, selain menambah perbendaharaan benda bersejarah, pengelola museum juga membuat sistem informasi untuk memudahkan pengunjung dalam melakukan penelusuran. Sistem ini, kata dia, nantinya juga dapat menghubungkan informasi antarmuseum. “Tujuannya adalah agar pengunjung awam dapat memahami sebagai rangkaian cerita yang utuh. Kalau bisa sampai ke museum di luar negeri,” katanya.

Terkait dengan hilangnya empat artefak emas peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, yang disimpan di Museum Nasional pekan lalu, Mendikbud telah memberikan arahan kepada para kepala museum di Indonesia. Mendikbud meminta untuk meningkatkan keamanan, memperkuat tata kelola, dan membenahi kompetensi para pengelolanya. “Nilai barang sejarah tidak bisa dirupiahkan, sehingga harus lebih hati-hati betul mengelolanya. Jangan sampai kehilangan,” tegasnya.

Mendikbud juga menginstruksikan untuk menggunakan anggaran yang belum direalisasikan untuk pengadaan sistem keamanan yang dianggap mendesak, tetapi tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Secara terpisah, Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Arkeologi Nasional E.Wahyu Saptomo mengatakan, instansinya memiliki tugas ganda. Pada satu sisi dituntut untuk memajukan ilmu pengetahuan, sedangkan di sisi lain dituntut memenuhi kepentingan masyarakat luas. “Penelitian tidak hanya sekedar selesai di belakang meja,” katanya.

Wahyu mengatakan, pada tahun depan akan diselenggarakan seminar internasional tentang Kerajaan Sriwijaya dan seminar Kebhinnekaan. Saat ini, kata dia, pihaknya juga sedang melakukan sejumlah penelitian strategis di antaranya penelitian situs Leang Bua (floresiensis) di Nusat Tenggara Timur dan Gua Harimau di Padang Bindu, Sumatera Selatan. (gardo)

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille
aelfizon pada Ulama Dalam Al Qur`an
Hastuti Hasan pada H.Abdurrahman Syihab
Distara Akmel Syihab pada Tipe – Tipe Pemimpin
aelfizon pada Ulama Dalam Al Qur`an
Munthe pada H.Abdurrahman Syihab
Muhammad Khairil pada Basirus Syawal
Laskar Hijau Aceh pada Panitia Rilis Logo Muktamar IPA
Ramadhanz Ardhieyansyah pada MD Al Washliyah Kayumanis Mewisuda 41 Siswa
Ramadhanz Ardhieyansyah pada MD Al Washliyah Kayumanis Mewisuda 41 Siswa
Moeh Rozali pada Keutamaan Bulan Rajab
Iwang Demi'cinta-kita pada Hukum Solat Jenazah yang Mati Bunuh Diri
karsidi_diningrat@yahoo.co.id pada Mendirikan Da`i Centre Al Washliyah
karsidi_diningrat@yahoo.co.id pada PETAKA SYI’AH DI INDONESIA
karsidi_diningrat@yahoo.co.id pada Warga Al Washliyah Harus Berpendidikan Sarjana
Sahridan Tobing pada HM Arsyad Thalib Lubis
Muhammed Zein Elhudawy pada PETAKA SYI’AH DI INDONESIA
Muhammed Zein Elhudawy pada H.Abdurrahman Syihab
Fakultas Hukum UII Yogyakarta pada Hukum Solat Jenazah yang Mati Bunuh Diri
Wawan Go Success pada Belanja Online Menurut Hukum Islam
syamsir pada Zis Al Washliyah
Bukhari Iskandar pada Peluncuran Website Al Washliyah
Sawiyanto, MA pada Peluncuran Website Al Washliyah
Muhammad Zain Al-Hudawie pada Wasiat Dewan Fatwa Untuk Kader Al Washliyah
Affan Rangkuti pada HM Arsyad Thalib Lubis
Febry Ichwan Butsi pada Peluncuran Website Al Washliyah