BerandaKabar Washliyah MPR Ajak Belajar 4 Pilar Bangsa dari Keluarga

MPR Ajak Belajar 4 Pilar Bangsa dari Keluarga

JAKARTA – Prinsip-prinsip nilai Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI yang populer dikenal sebagai 4 pilar bangsa sekarang ini bisa diajarkan dan ditanamkan kepada anak-anak usia dini dengan menumbuhkan kasih sayang, penghargaan, kejujuran, kerukunan, kedamaian, kesantunan dan keteladanan lainnya serta nasionalisme di dalam keluarga. Dimulai dari ibu dan bapak dalam mendidik anak-anak.

“Semua itu membutuhkan peran perempuan, karena berbicara anak-anak dalam keluarga itu sangat luas. Baik menyangkut pendidikan, ekonomi, sosial budaya, lingkungan alam, semua anak yang berwarna kulit hitam, cokelat, kuning, dan putih serta yang beragama Islam, Kristen, Budha, dan Hindu itu adalah sama-sama anak bangsa ini,” tutur Wakil Ketua MPR RI Melani Leimena Suharli pada diskusi ‘Peran perempuan dalam aplikasi 4 pilar melalui keluarga dan rumah tangga” bersama, Kak Seto Mulyadi, dan Ully Sigar Rusadi di Gedung MPR RI Jakarta, Senin (24/6/2013).

Meleni memprihatinkan dunia anak-anak saat ini yang seolah tak mendapatkan pelajaran berarti dari keluarga dan sekolah, karena tak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Padahal, dengan sikap dan keteladanan orang tua dan guru di sekolah melalui sebuah cerita atau dongeng, itu bisa diajarkan dengan tanpa menyuebut 4 pilar bangsa. Untuk itu, kurikulum Pancasila, budi pekerti, dan sopan santun, kini masuk dalam kurikulum pendidikan. Semoga langkah itu mempekuat rasa kebangsaan ini,” tambah politisi Demokrat itu.

Diakui Kak Seto, jika pelajaran sangat efektif untuk menanamkan rasa kebangsaan itu memang dengan keteladanan, karena anak-anak memang belum paham dengan apa yang disebut sebagai 4 pilar tersebut. Misalnya tentang sopan-santun, menghargai orang lain, jujur, menghormati orang tua, tak boleh melakukan kekerasan, tak boleh bentak-bentak, dan sebagainya. “Itu contoh paling efektif yang bisa dilakukan orang tua di dalam rumah dengan bahasa anak-anak,” tegasnya.

Menurut Kak Seto, semua anak itu cerdas meski pada bidang dan tingkatan yang berbeda-beda. Orang tua pun katanya, harus belajar menghargai anak-anaknya, dan bukan sebaliknya. Sebab, penghargaan itu, anak akan mulai belajar menghargai orang lain, mulai sopan, jujur, dan tentu akan menghormati orang tua. Karena itu Kak Seto, melakukan gerakan stop kekerasan terhadap anak yang dibentuk dari ngkat RT dan RW sebagai langkah peduli terhadap perlindungan anak.

Ully meyakinkan jika peran itu akan ditentkan dalam keluarga dengan menjalankan 8 fungsi keluarga: pertama, peran agama dengan memahami dan mendidik nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan ajaran agama. Kedua, peran sosial budaya dengan melestarikan budaya timur yang luhur dengan jiwa nasionalisme. Ketiga, peran cinta kasih dengan mempererat cinta kasih dengan memelihara kerukunan semua anggota keluarga.

Ke empat, proteksi dengan memberikan dan mengarahkan semua anggota keluarga dalam menghadapi pengaruh dari luar. Ke enam, sosialisasi dan pendidikan dengan mempersiapkan serta membekali anak-anak menyongsong masa depan berdasarkan 4 pilar bangsa.

Ke tujuh, peran ekonomi untuk memberikan motivasi untuk ikut aktif berpatisipasi dalam pembangunan ekonomi, dan ke delapan, lingkungan hidup dengan menciptakan generasi cinta tanah air dalam memelihara keseimbangan antara manusia yang sehat lahir bathin, sosial masyarakat serta lingkungan yang sehat. (gardo)

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille
aelfizon pada Ulama Dalam Al Qur`an
Hastuti Hasan pada H.Abdurrahman Syihab
Distara Akmel Syihab pada Tipe – Tipe Pemimpin
aelfizon pada Ulama Dalam Al Qur`an
Munthe pada H.Abdurrahman Syihab
Muhammad Khairil pada Basirus Syawal
Laskar Hijau Aceh pada Panitia Rilis Logo Muktamar IPA
Ramadhanz Ardhieyansyah pada MD Al Washliyah Kayumanis Mewisuda 41 Siswa
Ramadhanz Ardhieyansyah pada MD Al Washliyah Kayumanis Mewisuda 41 Siswa
Moeh Rozali pada Keutamaan Bulan Rajab
Iwang Demi'cinta-kita pada Hukum Solat Jenazah yang Mati Bunuh Diri
karsidi_diningrat@yahoo.co.id pada Mendirikan Da`i Centre Al Washliyah
karsidi_diningrat@yahoo.co.id pada PETAKA SYI’AH DI INDONESIA
karsidi_diningrat@yahoo.co.id pada Warga Al Washliyah Harus Berpendidikan Sarjana
Sahridan Tobing pada HM Arsyad Thalib Lubis
Muhammed Zein Elhudawy pada PETAKA SYI’AH DI INDONESIA
Muhammed Zein Elhudawy pada H.Abdurrahman Syihab
Fakultas Hukum UII Yogyakarta pada Hukum Solat Jenazah yang Mati Bunuh Diri
Wawan Go Success pada Belanja Online Menurut Hukum Islam
syamsir pada Zis Al Washliyah
Bukhari Iskandar pada Peluncuran Website Al Washliyah
Sawiyanto, MA pada Peluncuran Website Al Washliyah
Muhammad Zain Al-Hudawie pada Wasiat Dewan Fatwa Untuk Kader Al Washliyah
Affan Rangkuti pada HM Arsyad Thalib Lubis
Febry Ichwan Butsi pada Peluncuran Website Al Washliyah