spot_img
BerandaKabar WashliyahDendam Akan Kemiskinan, David Chalik Pun Jadi Caleg

Dendam Akan Kemiskinan, David Chalik Pun Jadi Caleg

JAKARTA – Rata-rata artis jadi calon legislatif (caleg) lantaran punya populeritas sehingga bermimpi punya kursi di Senayan untuk jadi wakil rakyat. Ternyata tidak semua artis yang hanya modal tampang, sebaliknya David Chalik menjadi caleg lantaran ada rasa dendam yang begitu mendalam akan kemiskinan.

Secara tegas artis dan presenter TV ini mengatakan dendam dengan kemiskinan yang telah dijalaninya sejak masih kecil.

“Saya dari kecil susah, bukan anak orang kaya. Karena itu saya punya dendam pribadi. Ini serius. Kapan punya sekolah sendiri, kapan pada orangtua tidak lagi membiayai sekolah lagi kepada anak-anaknya yang bersekolah,” kata caleg Dapil DKI yang berdarah Minang ini dalam diskusi KJPP bertajuk ‘Potensi Caleg Artis dan Aktivis Muda di Pemilu 2014′ di media center KPU, Jalan Imam Bonjol No.29, Jakarta Pusat, Jumat (3/5/2013).

Secara tegas Davud mengatakan, dirinya dendam karena banyak orang miskin yang tidak mendapat pendidikan yang layak. Hal itulah membuatnya sedih dan punya dendam untuk menjadi anggota DPR RI agar bisa rakyat jelata menikmati pendidikan secara layak.

Menurut caleg dari Partai Hanura kelahiran Jakarta, 13 April 1977 ini menjadi anggota DPR niatnya kelak akan u membangun pendidikan gratis di daerah-daerah. Sebab, kebanyakan orang tua zaman sekarang selalu mempunyai kekhawatiran akan biaya pendidikan tinggi.

“Niatan itu, saya punya uang kecil-kecilan, bikin pre school atau TK. Niatannya gratis tapi belum tersampaikan karena keuangan terbatas. Akhirnya dengan subsidi silang,” ujarnya.

David menyadari bukan soal muda untuk meraih mimpinya itu, yakni menyelenggarakan pendidikan gratis akan memakan biaya yang tidak sedikit. Butuh biaya untuk membayar tenaga pengajar, membeli perlengkapan sekolah, pemeliharaan gedung, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perlu pendekatan kebijakan dan otoritas pemerintah termasuk DPR.

“Membentuk karakter generasi muda tidak cukup lewat kebijakan, tapi juga dengan kontroling, pengawasan, pembinaan terpadu,” paparnya. (gardo)

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille