spot_img
BerandaKabar WashliyahHarta, Tahta dan Wanita

Harta, Tahta dan Wanita

SEORANG pemimpin akan digoda oleh tiga unsur yaitu; harta, tahta dan wanita dan seorang pemimpin itu akan dicoba oleh tiga unsur yaitu; penjara, darah dan air mata. Demikian Mahyudin Rakhlus, seorang aktifis dan pengkader Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) biasa disebut instruktur yang menjadi idola peserta kader IPA masa periode tahun 1975-1985 (sekitar 30 tahun yang lalu) di Medan dan sekitarnya.

Pada saat itu sedang aktif-aktifnya dilakukan kegiatan pengkaderan dilingkungan pelajar dan pemuda Al Washliyah. Ciri Khas instruktur Mahyudin Rakhlus setiap kali menyampaikan ceramahnya saat acara pengkaderan suka berdiri di depan forum kelas sambil mengangkat jari telunjuknya yang khas bengkoknya menunjuk ke atas.

Kiranya judul yang diajarkan di pengkaderan IPA sekitar 30 tahun yang lalu tersebut masih relefan dengan situasi saat ini dan mungkin perlu terus diajarkan sepanjang masa karena hal itu erat sekali dengan sifat manusia di zaman kapanpun ia berada. Pada saat itu teman-teman IPA pada umumnya masih usia remaja dan dalam keadaan suasana psikologi pengkaderan yang dibangun sedemikian rupa terkesan sedang dipersiapkan sebagai calon pemimpin umat. Pada saat mendengar kata-kata seperti di atas sangat terkesan sekali, terasa seram dan sekaligus mengagumkan lalu menimbulkan tekad di dalam hati untuk berusaha menghindari godaan dan siap untuk menghadapi ancaman sebagai seorang calon pemimpini masa depan, timbul pula jiwa patriotisme yang tinggi dan tentunya sampai sekarang ajaran itu masih mempengaruhi kehidupan dan kepemimpinan.

Godaan Bagi Seorang Pemimpin

Godaan harta bagi seorang pemimpin dari waktu ke waktu terus di uji. Pada saat sekarang ini semakin jelas diberitakan di berbagai media tentang godaan tersebut. Dahulu awal kemerdekaan dan beberapa tahun sesudahnya diperoleh kesan bahwa para pemimpin di Indonesia baik pemimpin formal maupun pemimpin pada organisasi masa banyak yang jujur, sedikit saja dia membawa uang orang lain ke rumah, uang umat, uang organisasi atau uang negara, maka berdesir keras dihatinya mengatakan oh ini bukan milik saya, dia tidak akan membawanya ke rumah, tidak akaqn diberikan untuk makan anak dan isteri. Dahulu dikenal mereka masih memegang nilai-nilai 45 maksudnya antara lain jujur, bersih hatinya, ikhlas dan rela berkorban demi bangsa dan negara.

Seorang pemimpin itu pemegang amanah memegang harta organisasinya, punya kesempatan besar untuk melakukan sesuatu karena punya kekuasaan untuk mengatur dan menentukan, ditangannya ada sejumlah uang dan harta benda yang berharga. Dia dapat memilih untuk tetap jujur atau melakukan penyelewengan. Niat untuk berbuat jahat atau penyelewengan selalu dimulai karena ada kesempatan dan kesempitan.

Seseorang dalam keadaan normal dan ekonominya stabil biasanya imannya sangat kuat, tapi kadangkala ada suatu keadaan dimana seseorang dalam keadaan kekurangan atau karena tuntutan materi lebih besar yang harus dibiayainya, maka pada saat itulah ujian mulai mendatanginya. Jika imannya kuat ia akan bertindak jujur, adil dan amanah, akan tetapi jika imannya sudah mulai melemah, mula-mula ia merekayasa pengeluaran dana organisasi dalam sekala kecil untuk keperluan pribadinya dengan niat nanti akan dibayar, tapi lama kelamaan lupa dan diulangi lagi untuk berikutnya. Malah perkembangan negative lebih jauh timbul keserakahan, setiap kali mengadakan perayaan dijadikan proyek untuk menambah pendapatan pribadi diluar aturan yang ditetapkan dan pertanggung jawaban keuangan tidak pernah di audit, malah kadang barang atau tanah maupun gedung organisasi diakui sebagai milik pribadi atau kadang bersatu antara milik peribadi dan nilik organisasi.

Menurut ilmu etika, seseorang yang jujur untuk pertama sekali daya kekuatan penolakan dalam dirinya terhadap sesuatu penyelewengan sangat besar dan maksimal, tapi jika pernah sekali saja dilakukannya penyelewengan walau dalam bentuk coba-coba maka untuk mengulangi kedua kalinya daya tolaknya sudah semakin ringan tidak sekuat penolakan pertama. Inilah awal pergeseran kejujuran itu yang lama-kelamaan bisa meningkat menjadi besar dan akhirnya dianggap sebagai hal yang lumrah, tuntuan zaman, dan tidak terasa lagi perasaan haramnya, malah yang tidak melakukan penyelewengan dianggap aneh, kecuali bagi orang yang taubat nasuha tidak akan mengulangi perbuatan kesalahannya.

Jika seorang pemimpin imannya kuat dan amanah, tentu ia tidak akan tergiur dengan uang yang merusak perjuangannya walau ada kesempatan, namun jika imannya semakin longgar, ia rela menjual belikan kekuasaannya, menjual pengaruh kepemimpinan dan organisasinya dengan uang dll. Jika sudah terjadi sedemikian rupa, maka nilai-nilai dasar perjuangan organisasi yang dipimpinnya ikut menjadi lemah dan tergadaikan karena menerima uang dari seseorang yang membeli pengaruhnya untuk dimanfaatkan kepada kepentigan seseorang atau disuruh untuk meninggalkan prinsip dasar organisasi yang dipimpinnya. Belakangan ini jual beli itu sering dilakukan antara partai politik dengan organisasi massa untuk mendapatkan dukungan pemilihnya. Kalau perhatian pemimpin sudah kearah komersialisasi jabatan, maka orientasi perjuangannya selalu kepada uang dan keuntungan, tidak lagi kepada khittah organisasi untuk memajukan pendidikan, da’wah, sisoal, ekonomi ummat dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Untunglah kesadaran akan kejujuran itu kini sudah timbul dengan kuat di Indonesia setelah adanya reformasi, walaupun masih ada kedengaran terjadi korupsi dimana-mana tapi sudah ada peningkatan karena ada perlawanan yang keras untuk memberantasnya dengan diadakannya KPK sehingga disadari betul bahwa penyelewengan itu adalah kejahatan besar yang memalukan, tinggal tergantung kepada kuat tidaknya iman seseorang untuk bisa tetap bersikap jujur atau jatuh dalam jurang penyelewengan. Perlu dipikirkan jug jalan keluar untuk membantu para aktifis organisasi dalam masalah keuangan agar perjuangannya tidak ternoda oleh kerasnya kehidupan dan sulitnya untuk mendapatkan uang sekedar untuk membayar kontrakan rumah dan membeli susu buat anak-anaknya.

Godaan tahta atau kekuasaan juga sangat dekat bagi seorang pemimpin, pada awalnya seseorang memiliki sifat yang sangat idealis dalam kedudukan, tidak mau dipilih kalau dirinya tidak memenuhi kualifikasi, memiliki prinsip berikanlah kepemimpinan itu kepada ahlinya jika tidak terimalah kehancurannya.

Ketika seseorang dipilih menjadi pemimpin, jadi tokoh, akan diuji dari waktu kewaktu tentang kedudukannya, apakah ia tetap memiliki perinsip ideal yang sama sejak awal dia diangkat menjadi pemimpin atau sedikit-sedikit bergeser. Mula-mula merasa kalau tidak dia memimpin keadaan akan tidak beres, lama kelamaan keenakan jadi pemimpin tidak mau turun lagi, ingin menjadi pemimin seumur hidup, kalau bisa untuk bertahan dia mamu membayari ongkos orang yang datang memilihnya dan sekalarang malah lebih buruk lagi harus dibayar dengan uang pakai tawar-tawaran agar mau memilihnya jadi pemimpin (politik uamng). Keadaan seperti itu awalnya terjadi dikalangan partai politik tapi kini juga sudah mewabah ke organisasi Masyarakat. Kalau pemimpin sudah tergoda dan membawa budaya seperti itu kedalam organisasi massa, maka arah perjuangan akan semakin tidak menentu, organisasi masa bisa tergiring untuk kepentingan tertentu lebih sempit terutama politik dan uang.

Godaan wanita sering sekali menjerat para pemimpin, pada awalnya ia memiliki sifat idealisme yang kuat dengan tekad tidak akan tergoda dengan wanita yang dapat merusak kehidupannya, ia berusaha menjadi contoh utama bagi masyarakat terutama bagi keluarga dan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimin itu selalu tampil di tengah-tengsh masyarakat banyak kesempatanya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai penampila, kadang berpapasan pandangan, tentu satu dua orang ada yang menaruh hati padanya, kalau hatinya kuat dia tidak akan tergoda dengan rayuan wanita jika hal itu akan merusak akhlak dan rumah tangganya. Jika ada orang lain menyodorkan wanita untuk mempengaruhi kepemimpinannya dia akan tetap menolaknya, namun demikian banyak juga pemimpin yang terjerumus akbibat bermain-main dengan wanita mungkin karena merasa sudah punya kuasa, punya massa, punya penggemar, diantaranya ada yang main belakang di Indonesia dikenal dengan nikah Siri.

Sekarang selain harta, tahta dan wanita, ada lagi godaan baru bagi seorang pemimpin yang disebut narkoba, barang yang dilarang beredar dan diancam hukuman penjara jika menggunakannya karena dapat merusak fisik dan mental sehingga dapat mengacaukan masa depan bagi penggunanya. Karena pemimpin sekarang ini ingin tampil kuat terus menerus dilapangan selama 24 jam sehari dan ingin punya rasa percaya diri tinggi ketika berada dipanggung atau sedang stress berat menghadapi berbagai masalah, maka obat terlarang inilah yang digunakan untuk membantunya mengatasi hal tersebut. Semestinya seorang pemimpin bisa dengan kekuatan idealisme dapat menghadapi semua itu dengan cara yang wajar tidak dengan narkoba.

Ancaman Bagi Seorang Pemimpin

Ancaman yang dimaksudkan disini adalah ancaman berat bisa saja terjadi akan dihadapi oleh seorang pemimpin sebagai resiko menjadi pemimpin, sangat mulia sekali jika terjadi ancaman itu karena dihadapi untuk mempertahankan kebenaran, mempertahankan hak maupun harga diri, bukan karena kejahatan. Dahulu banyak pemimpin siap masuk penjara walau akan menghadapi kesengsaraan demi perjuangan dan kehormatan serta kemuliaan yang diperjuangkan. Pemimpin siap menghadapi resiko perjuangan dengan kesatria, tidak takut dipenjara asal dia tidak dipaksa meninggalkan perjuangan suci.

Di era tahun 2000-an sekarang ini seiring dengan era kemajuan komunikasi dan informasi, era globalisasi dan era reformasi, mulai ada pergeseran nilai yang mencolok, diantara pemimpin itu ada yang masuk panjara bukan karena kehormatan tapi karena melakukan kajahatan dan pelanggaran, diantara mereka ada yang tidak lagi merasa malu melakukan kejahatan, malah sering tertawa dan tersenyum di depan kamera saat digiring ke pengadilan walau akan dihukum karena terbukti melakukan korupsi. Di organisasi massa belum terdengar ada orang di penjara karena korupsi uang organisasi, apakah itu karena kejujuran atau karena tidak di audit oleh lembaga resmi atau belum ada aturan khusus yang mengatur tentang itu.

Ancaman darah, artinya para pemimpin dengan kesatria siap menghadapi suatu keadaan walau akan berdarah-darah demi mempertahankan prinsip dan untuk perjuangan suci, pemimpin juga siap berurai air mata untuk menghadapi apa saja walau menyakitkan hati sampai menitikkan air mata sekalipun demi kepentingan perjuangan dalam kepemimpinannya, tapi lagi-lagi darah dan air mata itu bukan keluar karena untuk kejahatan.

Kiranya para pemimpin Al Washliyah dan seluruh jajarannya tetap konsisten dalam menjunjung tinggi dan mempertahankan idealism perjuangan, tidak terbawa ke dalam arus dunia kejahatan semasa kepemimpinannya berlangsung dan semoga tulisan ini bermanfaat dan memberi pengaruh positif dalam menjalankan organisasi yang sudah berusia lebih dari 80 tahun ini.

Wassalam.
Penulis, H. Abdul Mun’im Ritonga, SH. MH.

* Tulisan ini dibuat untuk bernostalgia mengenang masa-masa pengkaderan Ikatan Pelajar Al washliyah (IPA) sekitar 30 tahunan lalu.
* Penulis bertugas di Kedubes Indonesia Untuk Oman.
* Ketua PB Al Washliyah

About Author

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments

KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
KakekHijrah「✔ ᵛᵉʳᶦᶠᶦᵉᵈ 」 pada Nonton Film Porno Tertolak Sholat dan Do’anya Selama 40 Hari
M. Najib Wafirur Rizqi pada Kemenag Terbitkan Al-Quran Braille