35 C
Jakarta
Jumat 22 September, 2023

Mari Kita Kutuk dan Hadapi Zionis Israel

Sejak pendudukan paksa yang dilakukan Inggris terhadap Palestina oleh Panglima Militer Inggris Allenby pada 11 Desember 1917, sejak itu bumi Palestina terus bergejolak. Rakyat Palestina tidak mau tinggal diam mengahadapi penjajahan bumi mereka. Untuk meredam perlawanan itu pernah Pemerintah Inggris melalui kepala perangnya Kolonel Ronald Sforrs menawarkan ide untuk membeli sebagian bumi Palestin dengan harga yang menggiurkan, agar Inggris bisa leluasa di sana, menempatkan siapa yang dia inginkan (Israel). Inggris ketika itu merencanakan akan menempatkan etnis Yahudi yang bertebaran di mana-mana ke Palestina. Tawaran itu ditolak seluruh komponen Palestina yang ada di sana. Penolakan itu dipimpin antara lain oleh Syekh Salim Al Husini Mufti Palestina dan Syekh Abd Qadir Al Husainy.

Sejak kegagalan-kegagalan itu mulailah dilakukan tindakan kekerasan di Bumi Palestina. Tindakan yang dimotori Inggris dan negara-negara Barat, membuat Israel merasa dilindungi, dibantu, dan layaknya anak kesayangan Amerika dan negara-negara Eropa lainnya. Dengan begitu dia pun tak ragu-ragu melakukan tindakan apa saja terhadap rakyat Palestina dan bumi Palestina. Hingga perlakuan yang terakhir ini, penyerangannya yang membabi-buta terhadap kapal-kapal kemanusiaan yang membawa relawan dan bahan bantuan untuk orang-orang yang diblokade Israel di daerah Gaza. Perlakuan kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Zionis Israel terus berlanjut. Belum hilangnya dari ingatan kita betapa biadabnya Israel ketika pasukannya menembaki Ummat Islam yang sedang shalat Jum’at di Masjid Al Khalil Hebrond, pembakaran Masjid Al Aqsho, dan perlakuan kejam lainnya. Belum lagi pendudukan dan penambahan jumlah pendatang Israel untuk bermukim di Palestina pada 1946 penduduk Yahudi hanya 48%, sekarang sudah hamper 85% penduduk di Palestina adalah orang Yahudi. Rakyat Palestina diusir, dipenjarakan, dibunuh, disiksa, diblokade dan sebagainya, agar warga Palestina musnah dari bumi itu.

Semua perlakuan keji dan kejam yang terus menerus tak boleh didiamkan oleh Ummat Islam, termasuk di Indonesia ini. Peristiwa pembunuhan dan penembakan kapal kemanusiaan yang terjadi 31 Mei 2010 yang baru lalu itu marilah kita jadikan momentum baru untuk mengadakan perlawanan kepada Israel. Momentum baru untuk dijadikan titik awal lagi menyusun barisan dan gerakan untuk membantu perjuangan Rakyat Palestina. Karena di Bumi Palestina itu bukan hanya Ummat Islam, saudara kita seagama yang sedang dijajah dan dizalimi di sana, tetapi di sana juga tempat beradanya Masjidil Aqsho yang sangat mulia, kiblat pertama umat Islam, yang wajib bagi setiap muslim melepaskannya dari cengkraman Yahudi. Kita tidak boleh diam, kita harus membela dan mempertahankan Masjid Al Aqsho yang mulia itu dengan segala daya dan kemampuan kita masing-masing. Betapa mulia dan agungnya semisal relawan-relawan WNI yang turut berkorban menjadi missi kemanusiaan ke Gaza yang mereka turut di atas kapal Mari-Marmara, yang dibom-bardir tentara Israel terkutuk itu. Mereka mulia disisi Allah SWT, dan dimata manusia sedunia ini.

Bagi saudara-saudara kita warga Palestina kita harapkan untuk tidak mundur selangkah pun untuk meneruskan perjuangan mulia ini. Kemenangan pasti di pihak yang benar. Pengorbanan yang mereka berikan, derita yang mereka rasakan, tak akan sirna percuma, ia akan memancarkan optimistis, merebakan harumnya jihad. Allah Swt, pasti tidak akan diam melihat dan mendengarkan itu semua. Suatu waktu pasti Allah Swt berpihak kepada hamba-Nya yang tulus dan ikhlas, hamba yang berjuang untuk mengangkat kalimat-Nya.

Nasrun MinAllahi Wa Fathun Qoriib, Wa Basyiri Mukminin

• Prof. DR. H. Muslim Nasution, MA: Penulis adalah Mantan Ketua Umum PB Al Jam’iyatul Washliyah. Tulisan ini dibuat ketika almarhum masih menjabat sebagai Ketua Umum.

About Author

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
1,230PengikutMengikuti
206PengikutMengikuti
100PelangganBerlangganan

Latest Articles