Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Rabu, 7 April 2021

Terkait Do’a Bersama, PB Al Washliyah Minta Menag Mengacu Kepada Fatwa MUI


doa-aw

JAKARTA – Terkait Pernyataan Menteri Agama tentang setiap kegiatan di Kementerian Agama agar dibacakan doa bersama oleh masing-masing pemeluk agama, Pengurus Besar Al Washliyah menyarankan agar Menteri Agama mengacu kepada Fatwa MUI tentang Doa Bersama.

Karena MUI Pusat telah memfatwakan tentang hukum Doa Bersama, maka sebaiknya Menteri Agama menghormati dan mengacu kepada keputusan MUI tersebut. Demikian disampaikan Ketua Umum PB Al Washliyah Dr. KH. Masyhuril Khamis, MM, Selasa 07 April 2021 di Jakarta.

Pada 2005, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang hukum Do’a Bersama. Fatwa yang dikeluarkan saat Munas MUI ke 7 itu tertuang dalam Nomor: 3/MUNASVII/MUI/7/2005 dengan memutuskan 6 hal terkait doa bersama.
Berikut 6 keputusan Fatwa MUI terkait Do’a Bersama:
1. Do’a bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-muslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, termasuk bid’ah.
2. Do’a Bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.
3. Do’a Bersama dalam bentuk “Muslim dan non-muslim berdo’a secara serentak” (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama) hukumnya HARAM.
4. Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin do’a” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.
5. Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin do’a” hukumnya MUBAH.
6. Do’a dalam bentuk “Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH.

Dengan adanya keputusan MUI tersebut, Ketum PB Al Washliyah mengajak Menteri Agama untuk mengikuti fatwa tersebut. Bila ini bisa dilakukan maka polemik yang terjadi di tengah masyarakat bisa diredam.

(mrl)


Populer

×