Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Minggu, 14 Juni 2020

Calon Ketum PB Al Washliyah Harus Mampu Gerakan Seluruh Infrastruktur Organisasi


wizdan

JAKARTA – Akhirnya, Pengurus Besar (PB) Al Washhliyah masa bakti 2015-2020 hasil Muktamar Al Jam’iyatul Washliyah ke-XXI segera akan berakhir. Insya Allah organisasi yang sudah berusia 89 tahun ini akan melaksanakan Muktamar XXII di Jakarta. Secara perlahan tetapi pasti, Panitia Steering Committee (SC) Muktamar sudah mulai bekerja untuk menyiapkan materi-materi Muktamar Al Washliyah ke-XXII mendatang. Calon-calon Ketua Umum Al Washliyah sudah mulai dibahas di berbagai daring grup WhatsApp Al Washliyah dan sejumlah pertemuan non-formal warga Al Washliyah.

Namun, hal yang terpenting sebetulnya untuk dibahas adalah bagaimana perjalanan Al Washliyah ke depan pasca Muktamar XXII, khususnya bagaimana seyogyanya gerakan dan kiprah organisasi ini bagi umat, bangsa dan negara, sehingga kita bisa menjadikan pembahasan ini sebagai modal untuk melangkah ke depan demi memajukan dan mengembangkan Al Washliyah, sebab pelaksanaan Muktamar XXII merupakan momentum strategis bagi perbaikan Washliyah menatap masa depan.

Penting pula dibahas mengenai sebuah Pertanyaan Besar, “Apakah Organisasi Washliyah ini masih layak disebut Organisasi Terbesar Ketiga?”. Pertanyaan tersebut layak kita ajukan sebagai bahan renungan untuk seluruh kader Al Washliyah atau pribadi-pribadi yang beraktivitas dalam lingkungan Washliyah maupun dalam organisasi Al Washliyah. Anggapan bahwa “Al Washliyah adalah Organisasi Terbesar Ketiga di Indonesia” bagi saya sebenarnya merupakan anggapan yang sudah tidak relevan lagi diucapkan.

Posisi yang pas bagi saya ialah bahwa organisasi ini adalah Organisasi Kelas Tiga di Indonesia. Dalam kelas tersebut, terdapat beberapa organisasi massa Islam lainnya. Bahkan, menurut saya, organisasi Al Washliyah pun belum layak menjadi yang pertama dalam kelas ketiga tersebut. Sebab, kita juga masih harus bisa membuktikan karya dan kerja nyata organisasi untuk umat, bangsa dan negara.

Bukti bahwa Al Washliyah hanya organisasi kelas tiga adalah posisi Al Washliyah dalam panggung politik nasional sangat lemah. Harus diakui bahwa Al Washliyah masih sangat lemah bargaining atau posisi tawarnya dengan pemerintah atau calon penguasa dan selalu tidak maksimal perannya dalam panggung politik nasional dimana Al Washliyah kurang lihai mengambil peran dalam panggung politik atau gagap dan gugup dalam mengambil keputusan politik.

Al Washliyah masih malu-malu dan takut ketika bicara politik nasional bahkan tidak sanggup memposisikan organisasi ini dalam konteks politik nasional sehingga kita selalu tertinggal. Yang lebih mengenaskan dan anomali adalah ketika para kader Washliyah menagih dan menunggu apa yang didapat tokoh Washliyah yang dianggap membawa Al Washliyah dalam politik dan akhirnya kalah dalam permainan untuk menggapai kue politik, sementara organisasi ini juga tidak melakukan dukungan apa-apa terhadap tokoh tersebut. Kita gagap memutuskan posisi politik Al Washliyah, tetapi kita tidak gugup menagih apa yang didapat tokoh Washliyah ketika dianggap membawa organisasi ini ke dalam dunia politik. Ke depan, Al Washliyah harus lebih berani mengambil posisi dalam kancah politik nasional.

Dari narasi refleksi di atas menurut hemat saya, jika Al Washliyah ingin menjadi organisasi yang maju dan berkembang sehingga dapat berdedikasi secara maksimal untuk umat, bangsa dan negara, kemudian menjadi salah satu dari Organisasi Islam Terbesar dan berpengaruh di Indonesia, maka Al Washliyah harus memiliki manajer oraganisasi yang handal, ketimbang sosok pemimpin atau ketua umum yang selama ini digambarkan atau tergambarkan dalam benak sebagian besar warga Washliyah.

Sosok Ketua Umum PB Al Washliyah selama ini digambarkan sebagai seseorang yang harus berasal dari kalangan ulama atau mereka yang mendalam pemahaman agamanya. Padahal, organisasi ini sebenarnya membutuhkan pemimpin yang lebih dari sekadar orang yang memahami agama saja. Al Washliyah sebenarnya lebih membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi dengan seluruh infrastruktur yang ada dalam organisasi Al Washliyah sehingga produktivitas Pengurus Besar (PB) Al Washliyah akan lebih bisa dirasakan umat, bangsa dan negara.

Berkaitan dengan hal yang saya sampaikan di atas, ke depan Ketua Umum PB Al Washliyah harus mampu:

1. Menghimpun seluruh potensi kader yang tidak seberapa kuantitasnya yang dimiliki Al Washliyah saat ini (khususnya di Jabodetabek), tanpa harus melihat beban masa lalu organisasi ini. Sebab pemimpin besar itu harus mampu mengendalikan orang-orang yang dipimpinnya, sehingga bisa selalu bersama dalam mencapai cita-cita organisasi.

2. Sanggup menyatukan potensi kader Washliyah walau beda pilihan dan pandangan. Sejatinya, Al Washliyah adalah menyatukan bukan membelah apa lagi meninggalkan potensi kader hanya karena beda pilihan.

3. Memiliki kekuatan mental dan terus memimpin serta kaya akan solusi-solusi dalam menyelesaikan masalah-masalah internal Al Washliyah dan tidak berpaling saat masalah-masalah itu datang, juga memiliki waktu berkantor minimal dua hari dalam seminggu.

4. Harus mampu mengoptimalkan kualitas kader yang terbatas sehingga menjadi kekuatan optimal dalam rangka menggerakan organisasi.

5. Memiliki konsep atau peta dakwah Al Washliyah sebagai cita-cita serta program utama dari didirikannya organisasi ini.

6. Menghimpun heritage (warisan) Al Washliyah selama ini yang menjadi khazanah yang harus diarsipkan untuk kemudian digali dan dikaji. Warisan ini merupakan kekayaan tak terkira Al Washliyah karena di antaranya berisi pemikiran para pendiri Al Washliyah yang kelak harus dipertahankan menjadi basis ideologi organisasi.

7. Mampu melihat dan menilai potensi Al Washliyah untuk menggapai peluang yang dapat menguntungkan organisasi dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

8. Mampu menggerakan seluruh Majelis-Majelis dan Lembaga-lembaga yang dimiliki Al Washliyah, dan tidak hanya menggerakan pendidikan Al Washliyah.

9. Menjadikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan putusan-putusan Muktamar Al Washliyah sebagai kitab yang harus terus dibuka dan menjadi penentu arah bagi perjuangan Al Washliyah.

10. Menjadikan Al Washliyah sebagai tempat beramal, bukan menjadikannya sebagai “batu loncatan” untuk mencapai kepentingan pragmatis yang hanya bersifat sementara.

Semoga poin-poin di atas kiranya dapat menjadi perhatian dan renungan bagi siapa saja yang kelak ditakdirkan Allah Swt. menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Al Washliyah periode 2020-2025, dengan tidak lupa terus menjalin silaturahmi dengan Ormas-Ormas Islam lainnya dalam rangka bertukar pikiran dan gagasan untuk memajukan dan mengembangkan Al Washliyah ke depan.

Dalam tulisan ini, saya menghindarkan diri dari menyebut nama yang cocok untuk memimpin Al Washliyah ke depan. Saya lebih memilih untuk menyebut kemampuan, komitmen, dan integritas sosok Ketua Umum, sehingga Al Washliyah di masa mendatang dapat berjalan bergerak dan berkiprah untuk umat, bangsa dan negara secara maksimal.

Tulisan ini saya buat bukan dalam rangka ingin mengatakan bahwa PB Al Washliyah selama ini telah gagal dalam mengemban amanat Muktamar ke-XXI, tetapi tulisan ini saya buat dalam rangka menatap Al Washliyah ke depan demi Al Washliyah yang lebih baik.

Wizdan Fauran Lubis, SE
Ketua Umum
PP. GERAKAN PEMUDA AL WASHLIYAH


Populer

×