Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Minggu, 3 Mei 2020

In Memoriam Mu’allim رملي عبد الواحد

Muralis Kabar Washliyah

IMG_20200503_144316

Oleh: Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA

TERLALU panjang untuk diceritakan dan terlalu rumit untuk didefenisikan komunikasi dan persahabatan dengan Mu’allim Romli Abdul Wahid, ulama tingkat dunia, yang memilih tinggal di Sumatera Utara, yang dipanggil pulang oleh Penguasa Sesungguhnya, Allah Rabbil Jalil, tadi malam, 2 Mei 2020, setelah mengalami sakit yang sangat berat untuk ukuran kemanusiaan.

Izinkan saya petik pertemuan saya yang terakhir dengannya, saat beliau menjalani prosesi kembali (mûlâqu rabbih) pada Tuhannya. Sebelum musibah covid 19.

Ketika berangkat menjenguknya saya coba mencari khazanah tentang apa yang harus dilakukan saat bertemu dengan mu’allim yang lahir di Sei Kepayang Sumatera Utara itu. Namun yang saya temukan lebih banyak soal-soal fiqih dan adab menjenguk orang sakit, yang teramat rumit dan sering tak terjangkau orang seperti karakter saya.

Akhirnya, saya memilih berdialog dengannya nanti, apakah dia masih sadar atau telah asyik hanya berdialog dengan Tuhannya. Alhamdulillah… rupanya dia masih sadar dan cerdas, dan cukup nyaring jawaban salamnya untuk ukuran dialog batin, seperti yang pernah saya terima dari beberapa mu’allim yang saya ziarahi.

Saya dekatkan posisi saya ke telinganya, lalu saya bercerita. Agak kurang jelas dalam ingatan saya, apakah cerita itu masih memakai huruf dan suara. Namun pesan yang disampaikan masih segar dalam ingatan saya.

“Pak Haji, saya pernah bertemu dengan salah seorang mu’allim kita yang ditimpa sakit dan berusaha mencari dokter, guru, dan thabib untuk mengobatinya, namun belum kunjung sembuh. Hingga saya menjenguknya. Saat itu saya kuatkan suara dengan harapan terdengar dengan baik ditelinganya. Pada diri para ulama itu ada kekuatan dan ion yang dapat digunakan untuk mengobati diri sendiri, saat dunia medis tak lagi mampu menjangkaunya. Saya yakin kekuatan itu ada pada diri ustadz.” Mendengar ‘protes’ saya ulama itupun terhentak dan memisahkan obat di sampingnya, meminta untuk berwudhu’ dan kemudian memasuki tahap dialog batin dengan Pencipta Segala Penyakit dan Pemangku segala obat. Alhamdulillah dia sembuh dan kembali mengajar sebagaimana biasa. Harapan itulah yang ada dibenak saya saat mendialogkan ini dengan Muallim Romli Abdul Wahid.

Namun, berkali-kali saya pantau Muallim Romli, tak lagi memilih untuk kembali pada murid-muridnya melainkan dia telah asyik berdialog dengan Tuhannya.

Maafkan jika saya gunakan kata ‘asyik’ karena Muallim terkenal dari Turki, Badî’uzzamân Sa’îd Nursi, mengatakan demikian, saat sakit fisik semakin menjadi maka seorang mu’allim biasanya menemukan betapa asyiknya berdialog dengan Ilahi. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.

Dari Sei Kepayang Hingga Piji Island
Hampir semua yang mengenalnya percaya bahwa Muallim Romli adalah penekun ilmu yang handal serta pengajar (mu’allim) yang berwibawa.

Berkali-kali dalam pertemuan kami, baik di darat maupun di udara dia bercerita bagaimana pengalamannya menimba ilmu di Sei Kepayang dan Tanjung Balai hingga di Cairo, tempat universitas tertua dan paling bergengsi di dunia.

Tidak hanya menuntut ilmu tapi mengajar seumur hidupnya. Kerap ia menceritakan pengalaman indahnya mengajar di Piji Island sebagai amanah dari Rabîtah Alam Islami. Memang Mu’allim Romli adalah prototipe guru yang konsisten. Hampir semua contoh dan pengalaman berkomunikasi diambil dari kisah dan cerita dengan murid-muridnya.

Begitu tinggi komitmennya dalam mengajar hingga dalam khidmatnya sebagai ulama sering terbawa-bawa karakter mengajar dan memandu bagi kolega sesama penekun ilmu-ilmu Islam.

Belakangan saya sadari bahwa sikap itu mengandung deliberasi (penyengajaan) darinya bahwa ia ingin hidup dan mati sebagai pengajar atau mu’allim. Posisi yang oleh Rasulullah disebut sebagai derajat tertimggi (Kun ÂLiman).

Begitulah hingga di ujung sejarah Mu’allim Romli, ia telah meninggalkan karya tulis dan khazanah perpustakaan yang menurut Irwansyah, salah seorang asistennya, cukup representatif, dan semoga berguna.

Detail dan Mendevaluasi Fasilitas
Mungkin kalangan penekun ilmu agama akan selalu mengingat bahwa Mu’allim Romli adalah seorang ulama yang amat serius dan detail. Dia memeriksa kekurangan tulis dan baca pada tradisi keislaman bahkan keulamaan di kalangan Muslim.

Diduga keras hal itu dia lakukan karena tanggung jawab bahwa seorang Muallim harus mengoreksi dan menuntun murid-muridnya, bukan hanya kalimat dan huruf tetapi juga titik dan koma. Paling tidak hal itu kami terima dari Guru Pemikiran Islam Indonesia (Allah Yarham) Harun Nasution yang memeriksa makalah kami hingga titik dan komanya.

Bukan hanya sebagai muallim yang detail, Romli juga memperlihatkan otoritasnya sebagai penekun ilmu, saat dia mendevaluasi peran sarana dan fasilitas, khususnya alat elektronik, sebagai keniscayaan dalam ilmu pengetahuan.

Prof. Harun Nasution menulis sendiri dengan jarinya kata demi kata tulisan-tulisannya. Bahkan saat menjadi asistennya, dia menatih sendiri kalimat-kalimat kunci yang harus saya masukkan pada makalah-makalahnya.

Pandangan yang cukup indah saya saksikan saat Muallim Romli menulis secara manual karya-karya ilmiahnya. Kenyataan ini bercerita kepada kita bahwa fasilitas dan sarana, meski penting tapi bukan satu-satunya penentu bagi kapasitas dan integritas seorang ‘alim. Tetapi substansi pengembangan keilmuan itulah yang niscaya untuk kita pikirkan dan kembangkan.

Selamat Jalan Sahabatku…
Rupanya Engkau tak lagi memilih untuk kembali pada murid-murid dan sahabat-sahabatmu, melainkan Engkau memilih untuk melanjutkan dialogmu yang sudah menahun dengan Robb-mu.

Kini sudah sampai di ujung perjalanan rendah (ajal) batas perjalanan yang digerakkan oleh turbin jasad. Nampaknya Engkau tak sabar lagi untuk bertemu dengan Penuntun hakiki kehidupanmu, Allah rabbul jalîl. Selamat jalan sahabatku.

Sakitmu yang menahun kami yakini telah ‘menyeka’ noda dan dosa, jika pun ada. Sebab junjungan alam mengingatkan bahwa hamâ yawmin wa lailatin kaffâratun sanatan, derita sakit sehari semalam akan melebur dosa satu tahun (al-hadis).

Seorang ‘murabbi’ pernah menuntunku untuk suatu informasi yang tak lazim, bahwa seorang alim, di depan ajalnya akan berdialog dengan Tuhannya. Bahkan hingga penetapan ajal, termasuk penangguhannya. Tapi…..ntah apa hasil dialogmu dengan Sang Khalik hingga pilihanmu meninggalkan kami di tengah musin Covid 19 yang boleh jadi akan menghalangi kami untuk leluasa menakjiahimu dengan tahlil dan tahmid karena protokol kesehatan yang teramat ketat.

Meski tak mudah meraihnya, sebagai seorang teman, yang meski jauh lebih muda darimu, saya mengharapkan bahwa Engkau diperkenankan menempuh jalur VVIP di jalan Tuhanmu, bighairi hisâb. Semoga…. Sahabatku. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn…[]

Penulis adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Al Washliyah


Populer

×