Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Minggu, 26 April 2020

Ramadhan dan Covid-19

Muralis Opini

amin-aw

Oleh: Aminullah Siagian

AYOK kita merenung sejenak sebelum Ramadhan meninggalkan kita, dan dengan apa yang kita hadapi hari ini. Kalau memang kebersihan bisa mencegah Corona, mungkin Italia tidak sampai 135.000 orang yang terpapar karena Italia termasuk negara terbersih di Eropa.

Kalau memang panas bisa membunuh Corona, mungkin Iran tidak akan sampai 67.000 orang yang menjadi korban, karena Iran negara gurun yang panas. Kalau memang kehati-hatian bisa mencegah Corona, mungkin Pangeran Charles dan beberapa keluarga kerajaan tidak akan terpapar Covid-19, karena hidupnya paling hati-hati dan terjaga. Dan kalau memang orang yang cuek dan sembrono pola hidupnya pasti kena Corona, mungkin para pengamen jalanan, kuli-kuli kasar dan para pedagang pasar tradisional sudah pada tersungkur semua.

Kenapa demikian?

Mungkin jawabanya karena hidup ini tidak harus slalu sejalan dengan teori, teknologi dan akal manusia. Sudah banyak tenaga medis yang terpapar dengan Virus Covid-19. Apakah mereka tidak menggunakan APD dengan Benar?Atau apakah mereka tidak hati-hati dalam menjalankan profesinya?

Belum tentu juga demikian.

Terus apakah orang yang kelihatan sudah sedemikian dekat dengan Allah dijamin tidak akan terkena Corona?Tidak juga demikian. Karena sudah ada beberapa hamba Allah dan jamaahnya yang terjangkit virus ini bahkan meninggal.

Diperhadapkan pada situasi seperti ini, Allah seakan-akan hendak berbicara kepada kesombongan kita manusia, bahwa kita tanpa Allah memang hanyalah tumpukan daging yang bernafas.

Oleh karena itu jika Allah berkehendak, logika dan teknologimu tak akan mampu melawannya.

Siapa yg sakit? Bumi ini atau manusianya?
Tiba-tiba.
Disney kehabisan magicnya.
Paris kehilangan romantisnya.
New York kota hingar bingar akhirnya sunyi sepi.

Tembok Cina tak lagi menjadi benteng yang kokoh, dan senjata canggih sekali pun nuklir tak sanggup menghadapinya. Pangkat dan jabatan, coba lihat
Mekkah yang selama ini berdesak-desakan mendadak kosong.

Pelukan dan ciuman tiba-tiba menjadi senjata. Tidak mengunjungi orang tua dan teman menjadi tindakan cinta. Jangankan sakit, keluarga meninggal pun tak bisa kita lihat, kita menyadari bahwa harta, materi, kekuatan, kecantikan dan pangkat jabatan serta uang tidak berharga ketika kita tidak bisa mendapatkan ventilator yang dibutuhkan.

Terakhir adalah Allah mengirimkan pesan buat kita: “Hai orang-orang yang sombong! Ini Ramadhan bulan tempat ampunan, saatnya untuk menghilangkan keakuan kepada dunia.”

Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita tetap dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.[]

Penulis adalah Ketua Umum PP-HIMMAH


×