Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Selasa, 19 November 2019

Kemana Al Washliyah Mau Kita Bawa? Bag IV

Muralis Opini

Ketum AW di Jakarta

Oleh: H. Abdul Mun’im Ritonga

Menyongsong HUT Al Washliyah Ke 89 Tanggal 30 Nopember 1930

TULISAN keempat ini akan menguraikan tentang Periode Ketiga yaitu pindahnya Al Washliyah ke Ibukota Jakarta sampai mencapai usianya seabad tahun 1986 sampai 2030 (45 Tahun).

A. Periode Pindahnya Al Washliyah
ke Ibu Kota Jakarta.

Apa yang sudah dicapai oleh PB. Al Washliyah sejak pindah kantor pusatnya dari Medan ke Ibukota Jakarta tahun 1986 hingga saat ini tahun 2019, (dalam rentang waktu selama 34 tahun) dan apa saran yang akan direncanakan saat usianya mencapai satu abad ke depan (dalam rentang waktu 11 tahun lagi).

Makin ke ujung kegiatan organisasi Al Washliyah kelihatannya semakin mengerucut, tidak lagi terlibat secara langsung ke dalam kegiatan politik praktis maupun kegiatan ekonomi. Kalaupun ada lebih bersifat individu yang masih menggunakan basis dukungannya dari organisasi Al Washliyah. Belakangan ini Al Washliyah secara resmi lebih menonjolkan sifat keindependenannya.

Kecenderungan kegiatan Al Washliyah lebih terfokus di bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial. Mungkin ini juga yang membuat Al Washliyah dapat bertahan pada usianya yang sudah mencapai 89 tahun.

Pada kesempatam Muktamar Al Washliyah ke XXI tgl 22 sd 24 April 2015, (4 tahun yang lalu), Menteri agama RI Lukman Hakim Saifuddin saat membuka acara muktamar antara lain mengatakan; “Memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pengurus Al Washiyah yang telah menghidupkan organisasi selama 85 tahun, (kini sudah 89 tahun). Banyak amal Al Washliyah memberi sumbangsih yang bermanfaat untuk negara dan bangsa Indonesia”.

Sejak pindahnya sekretariat PB Al Washliyah ke Jakarta, telah berlangsung 6 kali muktamar. Kepemimpinan silih berganti dari Ustad H. Ridwan Ir Lubis, H. Aziddin, SE (alm), Prof. Dr. H. Muslim Nasution (alm) dan Dr. H Yusnar Yusuf Rangkuti, MS.

Hasil nyata yang dicapai adalah berdirinya sebuah Gedung Kantor PB. Al Washliyah yang sudah lama dicita-citakan. Sejak tahun 1986, kantor PB Al Wasyhliyah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta karena menyewa. Baru pada tahun 2010 setelah diadakan Muktamar ke XX dengan terpilihnya almarhum Prof. Dr. H. Muslim Nasution, kantor PB Al Washliah mulai diusahakan.

Saat almarhum Muslim Nasution masih hidup, mulailah dicari dan diusahakan membeli sebuah tapak tanah. Saat almarhum meninggal dunia dilanjutkan membangun sebuah gedung kantor PB Al Washliyah yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 41 Rawasari Selatan Jakarta Pusat. Peletakan batu pertama dilakukan pada bulan Nopember 2013 (setelah 27 tahun Al Washliyah berada di Jakarta), diawali oleh sesepuh Al Washliyah Bapak Drs. Yahya Tanjung yang datang dari Medan dan diakhiri oleh Ketua Umum Dr. Yusnar Yusuf Rangkuti.

Kepindahan kantor Pengurus Besar Al Washliyah ke Jakarta antara lain dimaksudkan agar PB. Al Washliyah mudah berurusan dengan pemerintah pusat dan mudah melakukan koordinasi dengan Al Washliyah beserta organisasi bagiannya di berbagai provinsi di Indonesia.

Selama 34 tahun berjalan, kegiatan Al Washliyah masih fokus kepada tiga kegiatan yaitu; pendiikan, dakwah dan amal sosial. Kegiatan di bidang politik dan ekonomi sudah pernah diupayakan, namun belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Pada periode ini aset organisasi mulai dibenahi dan ditertibkan.

Pada awal pindah kantor PB Al Washliyah ke Jakarta sampai sekarang, masalah yang dihadapi oleh PB Al Washliyah diantaranya belum cukup banyak memiliki SDM yang unggul. Pengiriman pelajar ke luar negeri untuk pembinaan SDM belum dapat dilakukan seperti dulu saat PB Al Washliyah berada di Medan.

Di masa kepemimpinan Ustadz Ridwan Ir Lubis yang memimpin selama dua periode. Terpilih pada Muktamar Al Washliyah ke XVI periode (1986 sampai 1992) di Jakarta. Pada periode ini ada catatan sejarah penting mengingat pelaksanaan muktamar ini bersamaan dengan pindahnya secara resmi kantor PB Al Washliyah dari Medan ke Jakarta. Beliau juga terpilh kembali pada Muktamar Al Washliyah ke XVII di Jakarta periode (1992 sampai 1997). Beliau dikenal sebagai tokoh ulama kharismatik.

Kegiatan yang memonjol pada periode ini antara lain; Beliau telah mencoba membenahi manajemen orgnisasi terutama kearsipan saat pindah kantor, membina SDM organisasi yang masih sedikit orangnya, mendirikan cabang-cabang Al Washliyah di berbagai provinsi. Selain itu bergerak membangun networking di tingkat pusat dengan berbagai kalangan, dan mengenalkan Al Washliah melalui kegiatan dakwah di Jakarta dan sekitarnya termasuk dakwah ke daerah Badui Luar di Banten.

Di masa kepemimpinan alm H. Aziddin, yang memimpin selama dua periode terpilih sebagai Ketua PB Al Washliyah pada Muktamar Al Washliyah ke XVIII untuk periode 5 tahun (1997 sampai 2002) dan terpilih kembali pada Muktamar Al Washliyah ke XIX tahun 2003 sampai 2008. Almarhum dikenal sebagai tokoh politik, pengusaha dan ustadz.

Pada periode ini kegiatan yang menonjol antara lain; mencoba mendekatkan Al Washliyah kepada Ormas Islam di pusat khususnya NU dan Muhammadiyah, mencoba mendekatkan kembali Al Washliyah dengan kegiatan politik tingkat nasional, mendekatkan Al Washliyah dengan pemerintah, dengan TNI/Polri.

Mendirikan cabang-cabang Al Washliyah yang baru di berbagai propinsi, menghidupkan peran qori dan qoriah Al Washliyah sebagai bagian dari aset organisasi, menghidupkan jamaah pengajian Muslimat Al Washliyah yang memiliki massa yang besar, memperluas lingkup kegiatan organisasi ke beberapa provinsi lain dari yang sudah ada, mulai membenahi aset organisasi, dan lain-lain.

Masa kepemimpinan Alm. Prof. Muslim Nasution, terpilih menjadi Ketua Umum PB Al Washliyah pada Muktamar Al Washliyah ke XX di Jakarta untuk periode 5 tahun (2010 sampai 2015). Periode yang dijalani sangat singkat, hanya sekitar dua tahun (2010 sd 2012) karena dalam pertengahan periode kepemimpinannya beliu meninggal dunia. Beliau dikenal sebagai tokoh ulama, dosen dan penceramah di media televisi.

Pada periode ini kegiatan yang menonjol antara lain; mengusahakan Kantor PB. Al Washliyah di Jakarta menjadi milik sendiri. Almarhum fokus untuk membuat kantor PB Al Washliyah. Pada saat itu beliau bersama pengurus lainnya berhasil mendapatkan sebidang tanah untuk kantor di Jalan A. Yani, No. 41, Jakarta Pusat, almarhum tidak sempat ikut membangun gedungnya. Beliau juga mulai membenahi manajemen organisasi sambil menghidupkan kegiatan dakwah masa itu.

Masa kepemimpinan Dr. Yusnar Yusuf Rangkuti yang disepakati melanjutkan kepemimpinan Prof. Muslim yang terpilih pada Muktamar Al Washliyah ke XX di Jakarta (2010 sd 2015) saat itu beliau menjabat Wakil Ketua Umum PB. Al Washliyah. Beliau terpilih kembali menjadi Ketua Umum pada Muktamar Al Washliyah ke XXI di Jakarta untuk periode 2015 sd 2020. Beliau dikenal sebagai tokoh di bidang dunia Al Qur’an, menjdi Qori dan Juri MTQ Nasional dan Internasional, dosen, menjadi Ustadz, dan pernah menjabat eselon dua pada Kementerian Agama dan Kementerian Sosial.

Pada periode ini, bersama pengrus PB Al Washliyah lainnya membangunan gedung PB. Al Washliyah. Gedung tersebut sampai kini menjadi pusat pergerakan Islam dan pusat aktifitas Al Washliyah. Pada periode ini juga dilakukan pembenahan manajemen dan aset organisasi, pembenahan pendidikan dasar dan menengah serta Perguruan Tinggi Al Washliyah.

Pada periode ini dibangun beberapa sekolah, peguruan tinggi dan cabang organisasi Al Washliyah di beberapa provinsi lain sambil menghidupkan kembali cabang yang sudah meredup aktifitasnya. Kegiatan ini tidak terlepas dari usaha keras Sekjen PB Al Washliyah Ustadz H. Masyhuril Khamis, SH. dan pengurus lainnya serta warga Al Washliyah yang ikut sera berkontribusi.

Di bidang dakwah Al Washliyah tampil di bebagai tempat termasuk mengisi tausiah di Istana Negara, di Masjid Istiqlal, diberbagai kementerian. Tausiyah juga dilakukan di berbagai provinsi di Indonesia, melanjutkan dakwah di pedalaman seperti di Badui. mengisi kegiatan khutbah di berbagai masjid, bersama masyarakat membangun madrasah dan organisasi di beberapa propinsi, dan kegiatan lainnya.

Pada periode Al Washliyah ini, tausiyah juga sudah dilakukan oleh Al Washliyah di luar negeri, khususnya untuk masyarakat Indonesia. Tausiyah dilakukan oleh Pengurus Al Washliyah, khususnya yang sedang bertugas di luar negeri. Kegiatan tausiyah pernah dilakukan hampir di semua Benua. Di Asia seperti di Malaysia, India dan di negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Lebanon dan Oman. Di Afrika seperti Libya dan Sudan. Di Eropa seperti Jerman dan di Inggris. Di Amerika seperti New York dan lainnya.

Untuk mempertahankan eksistensi organisasi, selama PB Al Washliyah berada di Jakarta, telah diadakan 6 kali Muktamar Al Washliyah, mulai dari Muktamar ke XVI sampai Muktamar ke XXI. Diperkirakan sesuai AD dan ART Al Washliyah, ada dua kali lagi kegiatan Muktamar sampai usia Al Washliyah mencapai 100 tahun yaitu Muktamar ke XXII dan XXIII. Selama pindah ke Jakarta, muktamar sudah mulai berjalan dengan tertib, khususnya dua kali yang terakhir dilakukan setiap 5 tahun sekali.

Organisasi Bagian Al Washliyah berjumlah 7 (tujuh) yaitu; Muslimat, IPA, HIMMAH, GPA, APA, IGDA dan Isarah. Organisasi ini semakin berkembang mengikuti Induknya Al Washliyah yang ada di daerahnya. Organisasi bagian ini melakukan kegiatan seperti organisasi induknya yang semakin berkembang di berbagai provinsi. Organisasi bagian ini juga tampil bergiat bersama Ormas Islam lain termasuk organisasi pemuda yang cukup aktif berjuang membela agama dan bangsa.

Menurut catatan di PB Al Washliyah sampai bulan Nopember 2019, jumlah Sekolah dan Perguruan Tinggi Al Washliyah tersebar di berbagai provinsi, khususnya di Sumateta Utara dengan catatan sebagai berikut: Sekolah dan Madrasah berjumlah 1027 unit dari TK sampai SLTA, Perguruan Tinggi ada 13 unit, Panti Asuhan ada 12 unit, Masjid atau Mushalla atas nama Al Washliyah ada di setiap kampus Al Washliyah, di beberapa sekolah dan beberapa Kantor Al Washliyah.

Mengenai organisasi Al Washliyah sampai bulan Nopember 2019, tercatat ada di beberapa provinsi. Dari 34 Propinsi hanya 8 Propinsi yang blm berdiri. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut;
1. Sumatera ada di 10 provinsi
yaitu; 2 di Bangka dan Belitung, Lampung, ini masih dalam proses finalisasi.
2. Jawa dan Bali ada di 7 Provinsi,
hanya satu belum ada yaitu di Jawa Timur.
3. Kalimantan ada di 5 provinsi, hanya dua yang belum ada yaitu di
Kalimanta Utara dan Kalimantan Tengah.
4. Sulawesi, Gorontalo dan NTB, Maluku
Utara ada di 8 provinsi, 2 wilayah yang
belum ada yaitu di Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Barat.
5. Papua, Maluku dan NTT, Al Washliyah masih belum ada.

Biasanya organisasi Al Washliyah berdiri di satu tempat diikuti dengan berdirinya organisasi bagian Al Washliyah lainnya.

Di luar negeri mulai dikembangkan sepak terjang Al Washliyah. Pada tanggal 7 Juli 2019 pertama sekali didirikan dan dibentuk Perwakilan Al Washliyah di Inggris United Kingdom, merangkap Perwakilan Eropa.
Perwakilan Al Washliyah ini dibentuk dalam suatu kesempatan ceramah acara halal bi halal di Inggris oleh Abdul Mun’im, salah seorang Ketua PB Al Washliyah yang dikordinasikan dengan ibu Dra. Hj. Afrahul Fadhilah selaku Penasehat/Pembina. Sebagai ketua Hj. Maryati Misenah. Perwakilan Al Washliyah ini sudah mendapat SK dari PB. Al Washiyah. Selanjutnya pendirian Perwakilan Al Washliyah di Malaysia dan di Mesir sedang diproses.

Kegiatan organisasi Al Washliyah tidak bersifat komersial, lebih bersifat keikhlasan untuk berjihad di jalan Allah, maka jika kegiatan organisasi ini masih bertahan sampai usianya 89 tahun patut disyukuri. Kita berdoa semoga Al Washliyah terus berlanjut.

Melalui kegiatan pendidikan dan dakwah Al Washliyah, banyak orang yang sudah mendapatkan ilmu sebagai bekal hidup dan terjaga akhlaknya. Melalui kegiatan dakwah masyarakat dapat tercerahkan. Ada yang sudah menjadi ulama, ilmuan, diplomat, pejabat pemerintah, dan lain-lain. Ini semua menjadi ladang amal untuk para Mujahid Al Washliyah kata Ustad H. Ridwan Ir Lubis.[]

Penulis adalah Ketua PB Al Washliyah, yang sedang bertugas di Jerman.


Populer

×