Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Jumat, 15 November 2019

Imam Abu Abbas Almursie dan Al Washliyah

Muralis Dunia islam

_20191115_101225

Oleh: Tgk. Abd. Hamid Usman

IMAM Abu Abbas Almursi bernama lengkap Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin Hasan bin Ali Alkhazarzi Alanshari Almursie, yang lebih dikenal dengan Abul Abbas Almursi. Beliau lahir di Almursiyah Andalusia, tahun 616 H 1219 M. Nasab (keturunan) beliau dari sahabat Nabi Saw,  Sa’ad bin ‘Ubadah, dan kakek beliau adalah Qis bin Sa’ad bin ‘Ubadah, gubernur Mesir zaman pemerintahan Ali bin Abi Thalib ra, 36 H. Abul Abbas adalah ulama besar berasal dari Andalusia. Orangtua beliau  pedagang kaya-raya yang sangat shalih. Hasil perdagangan beliau diinfakkan untuk membiayai hidup fakir miskin.

Ketika beliau mendapat keuntungan dari hasil usahanya, semua keuntungan itu diberikan di jalan Allah. Imam Abu Abbas Almursi sekolah di Andalusia. Beliau sangat cerdas, dalam satu tahun masuk sekolah, beliau telah berhasil menghafal Alquran (hafidz), menguasai fiqh, tauhid, mantiq, sastra serta lainnya. Orang tua beliau sangat berkeinginan kelak Abul Abbas menjadi ulama, cerdas dan menjadi pemimpin di tengah umat.

Andalusia dan Afrika Utara dipisahkan dengan laut Mediterania (Laut Tengah). Ketika hendak menunaikan ibadah haji, mereka harus menyeberangi laut Tengah melalui pantai Aljazair. Sebuah peristiwa menimpa para jamaah haji Andalusia ketika itu, kapal yang mereka tumpangi karam di pantai Tunisia, banyak dari penumpangnya tewas, sebagian mereka selamat termasuk Imam Abul Abbas. Ketika sampai di Tunisia, Imam Abul Abbas menjelaskan; “Ketika aku tiba di Tunisia setelah menempuh perjalanan jauh dari Andalusia, saya masih remaja, saya mendengar nama ulama besar di Tunisia, dan aku berusaha untuk berjumpa dengan ulama besar tersebut”. Beliau adalah Imam Abu Hasan Al Syazali, pendiri thariqat As Syazaliyah. Thariqat Syazaliah  sangat berkembang diberbagai belahan dunia, termasuk di kalangan jamaah Al Washliyah dan di dunia Melayu.

Ketika waktu subuh tiba, Imam Abul Abbas menceritakan perjumpaannya dengan syekh Imam Abu Hasan Assyazali;  “Ketika aku berjumpa Syekh Imam Abu Hasan Asyazali, aku melihat beliau persis seperti aku bermimpi di bukit Zakwan, aku berjumpa dengan seorang ulama, aku sangat terkagum melihatnya. Imam Abu Hasan Syazali, berkata; “Aku sudah merasakan akan lahir pemimpin seiring dengan pergantian zaman”. Beliau bertanya kepada Imam Abul Abbas, siapa nama Anda? Aku sebutkan namaku, keturunanku. Imam Abu Hasan berkata kepadaku, aku menunggu kehadiranmu sejak beberapa tahun ini”. Sejak itu, Abu Abbas selalu belajar dengan Imam Syekh Hasan Assyazali.

Bagian dalam masjid Abu Abbas Almursie
Foto: Penulis sempat foto bersama di bagian dalam masjid Abu Abbas Almursie.

Pada tahun 642 H. 1244 M. Imam Abu Hasan Assyazali melihat dalam mimpinya, bahwa Nabi Saw menyuruhnya untuk pindah ke negeri Mesir. Maka Imam Abu Hasan meninggalkan Tunisia bersama Imam Abu Abbas Almursie, ikut serta  dalam perjalannan  itu saudara Imam Assyazali bernama Abdullah serta pembantunya Abu Alza’im, mereka menuju Iskandariyah (Alexanderia), sebuah provinsi Mesir dipinggiran Laut Mediterinia. Imam Abu Hasan Assyazali melihat dalam diri Imam Abu Abbas ada suatu fitrah yang suci, jiwa yang baik, persiapan yg sangat matang, untuk bermunajat kepada Allah. Imam Abu Hasan menyerahkan wirid-wiridnya kepada Imam Abul Abbas, menjaga dan  mendidiknya, mempersiapkan Abul Abbas sebagai penggantinya kelak.

Imam Abu Hasan Assyazali berkata kepada Abul Abbas; “Demi Tuhan wahai Abu Abbas, tujuanku untuk mendidikmu tidak lain kecuali agar kamu adalah saya, dan saya adalah kamu wahai Abul Abbas”. Ungkapan ulama besar terhadap murid yang dididiknya yang perlu kita tiru!

Imam Abu Hasan Assyazali berpulang ke rahataullah pada tanggal 25 Zul Qa’dah 686 H 1287 M. Sejak Imam Abu Hasan berpulang ke rahmatullah, Imam Abul Abbas melanjutkan pendidikan dan pembelajaran yang dibangun oleh Imam Abu Hasan Assyazali. Diantara murid Abu Abbas saat itu Muhammad bin Saad bin Hammad Al Shanhaji Albushairie, 608-698 H. 7 Maret 1213-1295 M, penulis syair yang sangat rinci tentang kehidupan, kecintaan dan pujian kepada Sang Junjungan, baginda Nabi Saw.

Karya tulis beliau yang terkenal tentang Alburdiyah, yang diberi judul dengan; “الكواكب الدرية في مدح خير البرية”. Syair karya Imam Albushairi sangat mendunia. Ketika membaca syair2 tersebut, tumbuh kecintaan kepada baginda Nabi Saw. Sangat terasa seolah kita hidup bersama baginda, bercontoh teladan kepadanya, mengamalkan semua perintah dan siap berjibaku serta berjihad di jalan Allah bersamnya.

Masjid Abu Abbas Almursie
Foto: Para jamaah masjid masih meneruskan pembaca wirid yang dibuat Abu Abbas Almursie.

Seperti dilantunkan ketika Perang Salib yang dipimpin Shalahuddin Alayubi. Dan juga ketika Perang Aceh melawan Belanda, ruh syair-syair jihad yang ditulis oleh Imam Albushairi sangat memberi semangat kejuangan. 43 tahun Imam Abul Abbas menetap di Provinsi Iskandaria. Beliau mengembangkan pendidikan tasawuf,  ilmu pengetahuan, menjaga kesucian jiwa. Dari lembaga pendidikan ini telah lahir ulama-ulama besar, seperti Aliskandarani, Abul al’iz serta  lainnya. Ketika saya berkunjung ke Masjid Abul Abbas, wirid-wirid Abu Abbas terus diamalkan oleh para jamaah masjid. Mereka duduk melingkar sambil membaca wirid, dengan suara yang jahri. Saya ikut serta dalam wirid munajat tersebut. Sangat terasa betapa besar pengaruh tahzibunnafs (pembersihan jiwa) ketika kita bermunajat kepada Allah Swt dengan zikir yang diajarkan oleh Imam Abu Hasan Assyazali yang diteruskan oleh Abu Abbas Almursie.

Di lembaga-lembaga pendidikan Islam, wirid yang diajarkan oleh Imam Abu Hasan Assyazali perlu terus kita lestarikan. Jangan sempat mengering kecintaan kita kepada baginda Nabi Saw. Dengan cintanya kita kepada Sang Junjungan, kita termasuk bercontoh-teladan kepada beliau, yang dijanjikan akan mendapat syafa’atul kubrao di akhirat kelak. Alexanderia, Masjid Abul Abbas Almusrie.[]

Alandalusie, 4 Juli 2019

*Penulis adalah Pengurus Dewan Fatwa Al Washliyah.


Populer

×