Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Kamis, 14 Februari 2019

Pidato Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah


Dedi_Hafidz

15 Februari 2019 M. / 10 Jumadil Akhir 1440 H.

Strategi IGDA Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. yang memberi kita nikmat kesehatan dan kesempatan, sehingga kita bisa bersilaturrahim dalam forum yang penuh dengan kehangatan dan keakraban ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw. suri teladan abadi yang sukses menginspirasi umat manusia untuk meretas kemajuan dari masa ke masa.

Bapak Ibu yang dirahmati Allah.

Pada HUT IGDA yang ke 53 ini, kami sengaja mengangkat tema Revolusi Industri 4.0. Sebuah tema yang saat ini sedang hangat diperbincangkan oleh kalangan intelektual desainer peradaban. Pemilihan tema ini sama sekali tidak dimaksudkan agar forum ini terkesan keren dan tidak ketinggalan diskursus. Bukan itu tujuannya. Tema ini sengaja diangkat untuk menyadarkan kita semua bahwa saat ini kita berada pada era yang jauh berbeda dari 2 atau 3 dasawarsa yang silam.
Sejak istilah Revolusi Industri 4.0 dipopulerkan oleh profesor ekonomi Jerman, Klaus Schwab melalui bukunya yang berjudul The Fourth Industrial Revolusion, banyak orang yang menyadari bahwa kemunculan super komputer, kecerdasan virtual, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, dan perkembangan neuroteknologi, telah mengantarkan manusia pada babak baru dalam episode kehidupan mereka.

Saat ini, batas-batas antara dunia digital, fisik, dan biologis sudah sangat tipis. Semua komponen dalam kehidupan terhubung dengan mudah secara simultan, Teknologi robotik juga mulai ekpansif mengambil alih pekerjaan manusia. Kalau kita terlambat memahami arus perubahan ini, bukan hanya kredibilitas kita yang dipertaruhkan. Lebih dari itu, kapabilitas kita pun sebagai pendidik pasti dipertanyakan.

Betapa tidak, coba bapak ibu perhatikan, pada zaman kita duduk di bangku sekolah dulu, butuh bantuan orangtua, kakak, bahkan terkadang paman atau bibi untuk menyelesaikan PR yang diberikan guru. Sementara itu, anak-anak kita sekarang cukup dengan HP dan jaringan internet sudah bisa menyelesaikan PR-nya. Selanjutnya saat kita menjadi mahasiswa, perlu berjam-jam duduk di perpustakaan dan menumpuk berjudul-judul buku untuk menyusun skripsi. Saat ini, cukup dengan aplikasi maktabah syamilah, kita sudah bisa membawa buku 1 perpustakaan dalam saku!

Akibatnya, sekarang sudah jarang kita dengar rengekan anak kecil yang kelelahan mengerjakan PR. Sudah sulit untuk menemukan buku berserakan di kamar kos mahasiswa. Perpustakaan mulai kosong dan toko buku terlihat sepi. Tapi perhatikan caffe-resto yang selalu dipenuhi anak-anak muda. Perhatikan counter HP dan penjual pulsa yang jaraknya berbekatan satu sama lain. Apa makna dari semua ini? Telah terjadi perubahan iklim dalam ranah akademik modern.
Bapak dan Ibu Pendidik sekalian.

Kemajuan ilmu dan teknologi ternyata memengaruhi dunia pendidikan secara holistik. Ini yang harus kita cermati dan kita respon dengan tepat. Contoh sederhana, saat IGDA ini didirikan, saya haqqul yaqin, guru-guru pada masa itu butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk membentuk kepribadian murid agar bersikap tawadhu’ dan menundukkan pandangan. Tapi saat ini, berikan saja mereka Aple seri terbaru. Saya haqqul yaqin mereka akan langsung menunduk sampai tidak sadar saat berpapasan dengan gurunya.

Secara fisik, pengajaran oleh guru dan Aple seri terbaru sama-sama bisa membuat murid menundukkan pandangan. Namun yang pertama adalah hasil dari pendidikan karakter sekaligus cermin dari kematangan moral. Sedangkan yang kedua adalah buah dari kecanduan teknologi, sekaligus cermin dari dekadensi moral.

Oleh karena itu, saat dipukul oleh guru, murid zaman dahulu langsung tertunduk malu. Tidak mungkin dia mengadu kepada orangtuanya, karena pasti dia akan disalahkan. Tapi saat ini, jangankan dipukul, hanya ditegur, sekali lagi hanya ditegur, bukan dihardik, murid sudah cukup berani untuk menantang bahkan memukul gurunya. Rasanya tidak sulit bagi kita untuk menemukan berita tentang kekerasan murid kepada guru, bahkan ada yang sampai berujung pada kematian. Naudzubillah min dzalik.

Bapak ibu sekalian yang terhormat.

Untuk merespon beragam fenomena kontemporer yang berkembang dalam dunia pendidikan, strategi paling dasar yang bisa kita jadikan solusi adalah mempertahankan jiwa ikhlas. Kata ikhlas ini tidak sesederhana pelafalannya. Ada energi besar yang akan membuat kita bisa tampil prima dalam menghadapi semua tantangan dalam dunia pendidikan. Ikhlas adalah cermin dari kecerdasan esmosional dan spiritual yang bisa memacarkan energi positif bagi semua orang di sekitar kita. Bukti nyata yang paling kasat mata adalah keberadaan kita saat ini, di sini, di bawah panji Al Washliyah.

Jika bukan karena dilandasi oleh jiwa ikhlas para pendirinya, saya yakin Al-Washliyah sekarang sudah menjadi artefak sejarah. Takkan bisa bertahan melewati beragam era. Sejak era kolonial sampai era milenial! Jika bukan karena dilatari jiwa ikhlas, saya juga yakin nasib IGDA akan sama dengan organisasi lain yang, lahir, tumbuh berkembang, besar, dilanda konflik, timbul dualisme kepengurusan, kemudian lahir sempalan. Tapi faktanya, saat ini kita berkumpul bersama dalam susana yang penuh keakraban dan persaudaraan.

Bapak dan Ibu para Guru dan Dosen sekalian.

Strategi kedua dalam menyongsong era Revolusi Industri 4.0 ini adalah menguasai teknologi informasi. Saya tidak memaksudkan agar bapak dan ibu sekalian menjadi pakar IT. Bukan. Yang saya inginkan adalah, kita tidak boleh abai apalagi buta terhadap perkembangan teknologi informasi. Karena sekarang, praktik belajar-mengajar akan lebih efektif dengan memanfaatkan teknologi IT.

Saat ini, penggunaan alat peraga seperti infocus mungkin sudah lazim di sekolah dan kampus Al Washliyah. Tapi di Jakarta, saya tidak bicara di Eropa atau Amerika, di Jakarta! Sudah banyak kampus yang menerapkan metode kuliah online. Dosen bisa tetap menggelar tatap muka dan mengajar dari jauh, jika ia berhalangan hadir ke kampus. Jadi tidak ada lagi cerita kelas kosong karena dosennya sakit, tugas ke luar kota, ikut pelatihan, dan lain sebagainya. Dalam situasi apa pun perkuliahan tetap bisa berlangsung, sehingga kalender akademik berjalan rigid dan tepat waktu.

Terakhir atau strategi yang ketiga adalah terus berusaha meningkatkan kualitas intelektual. Jangan pernah berhenti belajar, meskipun jenjang pendidikan formal tertinggi sudah selesai ditempuh. Kita harus sadar bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan melahirkan teori-teori baru yang tak unik. Jika kita berhenti sementara ilmu pengetahuan terus bergerak, maka pasti kita akan ketinggalan. Kita belajar saja terkadang masih terengah-engah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, bagaimana jika kita berhenti belajar. Sudah pasti—mengutip bahasa yang sedang populer saat ini—kita akan terlihat “dungu” di depan siswa dan mahasiswa.

Kita tidak ingin ini terjadi. Guru dan dosen Al Washliyah harus selalu terlihat cerdas di depan siswa dan mahasiswanya. Kualitas intelektual mereka harus bisa diacungi jempol oleh guru dan dosen dari sekolah dan perguruan tinggi lainnya. Jadilah anggota IGDA yang berkualitas dan berkelas. Amien… ya rabbal ‘alamien.

Bapak ibu sekalian, itulah yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas segala perhatian. Mohon maaf atas segala kekurangan.

IGDA majulah IGDA
Menghimpun Guru dan Dosen Al Washliyah
IGDA ingatlah IGDA
Membina tunas bangsa dalam negara

Selamat Hari Lahir Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah ke-53.

Jakarta, 15 Februari 2019 M.
10 Jumadil Akhir 1440 H.

Ketua Umum,
Dr. H. Dedi Iskandar Batubara, S.Sos.,S.H.,M.S.P.

Sekretaris Jenderal
Hafidz Harahap


Populer

×