Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Rabu, 20 Mei 2015

Ketum PB Al Washliyah: Al Quran Akan Selalu Teruji Sepanjang Zaman


alquran-aw

JAKARTA – Ketua Umum PB Al Washliyah Dr. Yusnar Yusuf, MS merasa terkejut dengan pembacaan Al Qur’an dengan langgam Jawa. Selama ini dari pengalamannya sebagai qori internasional belum pernah Kalam Ilahi di baca dengan langgam daerah. Melihat kejadian itu dia mengatakan Al Quran akan selalu diuji sepanjang zaman.

Semenjak Islam masuk ke Nusantara diungkapkannya (sebagai muqri’) belum pernah ditemuinya dalam catatan sejarah Islam membaca Al Qur’an dengan langgam Jawa atau dengan dialektika daerah. “Barulah pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara pada 15 Mei lalu pembacaan Al Quran dengan lagu sinden Jawa. Sebagai seorang Muqri saya terperanjat menyaksikannya,” kata Yusnar Yusuf yang merupakan qori internasional.

Dijelaskannya, pada Surah Fushsilat atau surah ke 41 ayat 2 Allah mengatakan ‘Kitabun fushsilat ayatuhu qur’anan arobiyyan liqoumin yaklamuun’, yang artinya; ‘Al Quran adalah kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan bacaannya dalam bahasa Arab, untuk kaum yg mengetahui’.

“Ada 12 ayat yang menyebutkan Qur’anan Arobiyyan, Qur’anan Arabiyyun, Lisanan Arabiyyan dan Lisanan Arabiyyun. Ayat-ayat Al Quran ini menyatakan secara sempurna bahwa Al Qur’an ditanzilkan dengan lisanan Arabiyyan,” paparnya.

Jika dikritisi dari bacaan Al Qur’an dengan dialek Jawa pada peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara beberapa waktu lalu, jelas sekali kesalahan pada Shifatul huruf dan bertambahnya huruf melalui getaran suara yang sengaja dibuat-buat atau bukan suara yang alamiyah. Begitu juga dengan alahkamul mad walqosrnya.

Dari turunnya ayat, nasab Al Quran yang ditanzilkan Allah Swt kepada Muhammad Saw melalui Jibril sampai kepada si pembacanya (silsilah). “Ayat Al Quran surah Fhussilat dibacakan Rasulullah kepada Utbah yang diutus kaum Quaisy supaya Rasul menghentikan dakwahnya. Akhirnya Utbah kembali dengan menyatakan ‘Demi Allah Al Quran itu bukan Syair, bukan pula perdukunan’,” cerita Ketum PB Al Washliyah yang selalu menjadi Dewan Juri MTQ Internasional.

Dikatakannya, bila peristiwa Isra’ Mi’raj di Istana Negara itu dengan niat mengembangkan ide atau gagasan, maka hal itu suatu hal yang ceroboh. “Sebaiknya ide atau gagasan itu dicobakan dulu dengan syair Arab, bukan dengan ayat Al Quran. Allah yang mentanzilkan Al Quran dan Allah jugalah yg menjaganya,” tutur Yusnar Yusuf. Dia berdoa semoga bangsa Indonesia dijauhkan dari mara bencana.

(mrl)


Populer

×