Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Minggu, 15 Maret 2015

Akhlak Memilih Pemimpin Dalam Islam


kabar-aw
Ilustrasi

SEBENTAR lagi Muktamar ke-21  Al Washliyah akan berlangsung. Semua keluarga besar Al Washliyah dan para simpatisan ingin menyaksikan,  di usia 85 tahun bagaimana Al Washliyah bermuktamar dan bagaimana cara memilih pemimpinnya.

Salah satu tekad panitia dan rekan-rekan Pengurus Besar Al Washliyah,  ingin kiranya Muktamar ini tetap mempertahankan akhlak Islam yang kita kenal dengan akhlaqul karimah  dalam memilih pemimpin dan jajarannya.

Harapannya dalam memilih pemimpin dalam Muktamar kali ini dapat menjadi contoh yang baik dalam memilih pemimpin  Al Washliyah dan  organisasi bagiannya di setiap tingkatan.

Insya Allah tidak ada politik uang sebagaimana marak terjadi dimana-mana karena terkontaminasi dengan gaya  partai pllitik tertentu. Tidak ada kegiatan penggembosan sebelum pemilihan terhadap para calon yang akan dipilih.

MEMBUDAYAKAN AKHLAK ISLAM

Harapan kita, semoga dalam Muktamar Al Washliyah kali ini dapat terpilih pemimpin dan jajarannya yang dapat meningkatkan kualitas kinerja Pengurus Besar  Al Washliyah dan berakhlak mulia. Maju mundurnya Al Washliyah 5 tahun mendatang sangat dipengaruhi oleh siapa pemimpinnya dan orang-orang yang berjuang bersamanya.

Saat memilih pemimpin pada Muktamar ke-21 Al Washliyah nanti, dapat dilakukan sebagai mana orang Islam memilih imam sebagai pemimpin  setiap kali  Shalat dilakukan.

Pada dasarnya semua laki-laki jamaah shalat boleh menjadi calon imam atau pemimpin,  jamaah nanti akan memilih pemimpinnya siapa yang paling memenuhi syarat, yang terbaik diantara jamaah  dan paling disukai oleh jamaah dialah yang akan menjadi imam.

Kriteria pemimpin Al Washliyah yang akan dipilih nanti  tentu sesuai dengan kepemimpinan Islam yaitu; Sidik artinya benar. Amanah artinya tempat kepercayaan, tabligh artinya menyampaikan dan fatonah artinya cerdik. Selain itu syarat lainnya  orangnya mengenal Alwashliyah dengan baik dan sudah pernah menjadi pengurus di Al Washliyah.

Yang terpilih harus siap menjadi imam yang benar dan yang lain siap menjadi makmum. Tidak ada oposisi. Jika imam khilaf dalam membaca dsb,  makmum boleh mengingatkan dengan sopan dan lembut, mengikuti sistem yang ada.

Tidak ada yang memberontak dan meluruskan dengan suara keras, tidak ada yang keluar dari saf yang dapat  mengacaukan jalannya shalat, jika ada yang melakukannya  bisa batal pahala jamaahnya.

Karena itu pemimpin yang dipilih wajib dihormati, jika ada kehilafan boleh menegurnya tidak didiamkan,  namun ada akhlak menegurnya dengan baik dan sopan tidak merusak kehormatan sang pemimpin. Yang memaksa dengan cara kekerasan di luar sistem terpaksa dikeluarkan.

Tidak diberikan jabatan imam itu kepada orang yang meminta dipilih. Tidak berkah, serahkan kepada ahlinya yang dianggap terbaik. Jika ada yang minta dipilih, apalagi dengan memberi uang bahkan sampai mau  memalsukan dan memanipulasi  surat suara/mandat, jangan pilih dia dan panitia dapat mendiskualifikasinya.  Orang seperti ini sarat dengan kepentingan pribadi, tidak baik dijadikan pemimpin  organisasi jihad dan  Dakwah.

Untuk membangun Pengurus Besar yang kuat, peserta dan panitia Muktamar hendaknya tidak sekedar fokus  untuk memilih ketua dan wakil ketua serta sekjen saja. Tetapi perlu dipersiapkan jauh-jauh hari siapa saja orang-orang yang akan memperkuat pengurus PB. Al Washliyah untuk periode lima tahun mendatang ( 2015-2020 ). Termasuk posisi pada Dewan Fatwa dan Dewan Penasehat.

Jika setiap orang di dalam jajaran Pengurus Besar  Al Washliyah dapat diandalkan sesuai dengan kelebihannya masing-masing, maka Insya Allah akan tercipta suatu kepemimpinan bersama yang kuat. Semua bisa tampil dan  dapat diandalkan. Orang-orangnya aktif dan ikhlas berjuang serta berjihad bersama keluarga Al Washliyah dan masyarakat lainnya.

Insyaallah tidak lagi terjadi kepemimpinan lokomotif, maksudnya, jika tidak ada kepala gerbong ditempat, maka semua gerbong yang lain ikut berhenti. Hendaknya setiap gerbong masing-masing  memiliki mesin penggerak sendiri,  jadi meski kepala gerbong tidak ada, gerbong lain dapat menjalankan kegiatannya.

Dalam kepemimpinan Al Washliyah yang  akan datang diharapkan akan tercipta suatu suasana,  jika pemimpin lagi berhalangan, tidak ada ditempat, maka  organisasi tetap dapat berjalan dengan normal karena yang lain dapat menggantikannya sementara.

Menjelang Muktamar ke 21 Al Washliyah tahun 2015, tidak terdengar gonjang ganjing calon pengurus yang dipilih, semua berjalan dengan relatif tenang, tidak terasa ada kepentingan lain yang mengganggu. Mari kita terus mengawal jalannya Muktamar yang berakhlaqulkarimah.

Untuk internal  Al Washliyah hendaknya cara pemilihan pemimpin pada Muktamar ini dapat menjadi contoh yang baik bagi anggotanya mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah dan  organisasi bagiannya. Untuk eksternal menjadi contoh bagi masyatakat,  terutama organisasi Islam lainnya.

Selamat mengukuti Muktamar, Insya Allah dapat dimulai dengan niat yang ikhlas, tujahiduna fi sabilillah, biamwalikum waanfusikum.

Wassalam
Penulis
Abdul Mun im.


Populer

×