Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman

Majelis

Rabu, 16 Oktober 2013

Khutbah Idul Adha: Idul Qurban Membentuk Keluarga Taat dan Sabar

Munthe Dakwah Majelis

kakbah-aw

Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu`alaikum Warohmatullahi Wabarkatuh. Saudara-saudaraku, Kaum Muslimin dan Muslimat yang Dimuliakan Allah. Pertama-tama marilah kita  banyak-banyak bersyukur  kehadirat  Allah SWT. Atas rahmat dan nikmat-Nya pada kita semua.  Baik itu nikmat iman, nikmat  Islam dan nikmat kesehatan, sehingga pada  pagi yang berbahagia ini,  kita semua  dapat berkumpul di tempat mulia ini, seraya mengumandangkan kalimat  takbir, tahmid dan tahlil, serta  dapat menunaikan ibadah Sholat Sunnah Idul Adha dua rakaat.

Selanjutnya, solawat dan salam, marilah kita sampaikan keharibaan Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi akhir zaman dan seluruh keluarga, sahabat-sahabatnya, para  tabiin-tabiin  dan keluarga umat Islam  sejak zaman dahulu  hingga  yaumil akhir nanti.
Saudara-saudaraku Kaum Muslimin & Muslimat  yang Dimuliakan Allah.

Dengan hati yang ikhlas,  penuh tawadhuk, mari kita gunakan kesempatan ini  untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita. Sekaligus  merenung sejenak betapa banyak makna dan hikmah Idul Adha, atau Idul Qurban yang dapat kita jadikan pelajaran, dalam kehidupan keluarga kita sehari-hari.

Kita semua, termasuk diri pribadi khotib sendiri, hendaknya  terus berusaha meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Banyak belajar dan menggali berbagai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu akhirat. Ada pepatah mengatakan, semakin dekat kita kepada sumber mata air, semakin murni air yang kita minum.

Kemarin,  tanggal 9 Zulhijjah, jutaan jemaah haji dari belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan ada pula   saudara-saudara kita, tetangga kita, khususnya dari lingkungan RW (Rukun Warga) ini, hadir di sana,  memenuhi panggilan-Mu Ya Robb. Mereka  hadir di Padang Arafah untuk menunaikan ibadah wukuf, sebagai  puncak ibadah haji.

Mereka mengenakan pakaian ihrom. Nampak memutih memadati penjuru Tanah Suci. Mereka berkumpul di satu titik yakni Padang Arafah.  Tanpa membedakan  pangkat, jabatan, suku, bangsa, bahasa dan warna kulit. Jutaan jemaah haji  sujud dan bersimpuh di Arafah, sujud di depan Baitullah. Mereka  beristighfar, berdoa dan mohon ampun  kepada-Mu Ya Allah.
Kalimat Talbiyah membahana, sahut-sahutan. Mereka ucapkan dengan penuh ikhlas dan curahan air mata. Ingat kedua orangtuanya yang telah tiada. Ingat keluarga yang ditinggal di tanah air. Ingat betapa banyaknya tumpukan-tumpukan dosa dan ingat bayangan-bayangan yaumil mahsyar.

Arafah menjadi lautan manusia. Padang  Arafah banjir air mata oleh  jutaan  umat manusia.  Tujuan mereka pun satu, yaitu mengharap Ridho Allah SWT dan menjadi haji mabrur.

Labbaikallahumma Labbaik. Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innalhamda. Wan Ni’mata. Laka Wal Mulk. Laa Syarikalak.

Artinya:  Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milik-Mu. Begitu juga kerajaan. tiada sekutu bagiMu

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahil Hamd
Jemaah yang Dimuliakan Allah.
Nabi Ibrahim adalah Nabi Ulul Azmi. Dalam usia lanjut belum mendapatkan keturunan. Maka suatu malam, beliau berdoa kepada Allah, agar dikaruniai anak yang sholeh:

“Robbi Hablii minassolihin.” (Artinya: Ya Allah, keruniakanlah kepadaku anak (keturunan) yang sholeh.” (QS Ash Shaffat 100)
Kemudian Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim AS, maka istri beliau bernama Siti Hajar, wanita Keturunan Ethopia. Dia adalah budak sahaja oleh Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim AS. Wanita terhormat  itu melahirkan seorang putra bernama Nabi Ismail AS.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS inilah yang mencatat, serta mengukir tinta emas sejarah dan sendi-sendi Rukun Islam.
Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW: Dibina Islam itu atas lima sendi, yaitu “mengucapkan kalimah syahadat bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah Utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, naik haji dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Banyak hikmah  yang kita dapat dari perjalanan kehidupan Nabi Ibahim AS beserta putranya, Nabi Ismail AS. Antara lain,  adanya perintah menyembelih  hewan kurban kepada orang-orang mukmin yang ekonomi mampu. Anjuran berqurban sebagai wujud kepatuhan dan keikhlasan,  sebagai mana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Sekaligus menyatakan bahwa ibadah qurban ini sarat dengan nilai-nilai kesetiakawanan-sosial.

Ada yang menarik untuk kita perhatikan. Dan kita jadikan pelajaran berharga. Yaitu, terciptanya suatu komunikasi atau dialog, antara Nabi Ibrahim AS dengan putranya, Nabi Ismail AS, sesaat sebelum Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah.
Firman Allah SWT dalam Surah Ash-Shaffat 102-107.

Artinya:  “Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai usianya dapat membantu Ibrahim, maka Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya saya bermimpi bahwa saya disuruh menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?” Si anak menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.” (102)

 

“Tatkala keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan atas pelipisnya.” (103)

 
“Dan kami memanggilnya, Wahai Ibrahim.” (104)
 
“Sesungguhnya engkau telah membuktikan ketaatanmu atas perintah dalam mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah, kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (105)
 
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (106)
 
“Dan kami tebus anak itu dengan seekor binatang sembelihan yang besar.” (107).  (QS Ash-Shaffat 102-107).

Allahu Akbar..Allahu…Allahu Akbar ..Allahu  Akbar Walillahi Hamd
Saudara-saudaraku Seiman Yang Dimuliakan Allah.

Sesungguhnya, dialog itu menanamkan nilai-nilai edukasi, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai kepatuhan, ketaatan kepada Khaliq-Nya.  Selain itu, komunikasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim kepada anaknya, menggambarkan betapa harmonisnya, hubungan antara orangtua dengan anak, atau pun sebaliknya, antara anak dengan orangtua. Inilah potret keluarga Islami yang sebenarnya.

Ayahandanya, Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail, sama-sama memiliki kadar keimanan yang tinggi dan kuat. Tahan diuji dan tidak goyah dirayu oleh syetan. Demikian halnya dengan Siti Hajar yang berlari-lari kecil (sa`i) antara Shafa dan Marwah untuk mencari sumber air. Hidup dalam keterasingan di gurun tandus dan berbatuan. Inilah potret pengorbanan seorang ibu kepada anaknya.

Awalnya, Nabi Ibrahim  AS tidak sanggup berkata terus terang kepada anaknya. Banyak pertimbangan dan terjadi pergulatan bathin. Perintah menyembelih, itu pun disampaikan Nabi Ibrahim  AS, secara cepat,  agar tidak didengar oleh telinganya sendiri.

Nabi Ibrahim membisu, tertunduk dengan wajahnya pucat. Nabi Ibrahim seakan tidak sanggup menatap wajah anaknya, yang sudah berusia remaja itu.  Tapi sebaliknya, Nabi Ismail AS menyadari apa yang dialami oleh ayahanda tercinta. Nabi Ismail AS malah berusaha menenangkan hati ayahandanya.

Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah aku termasuk orang yang sabar.”

Mendengar jawaban seperti itu, Nabi Ibrahim tersontak dan kembali bersemangat. Ia tidak gentar mengambil keputusan  setelah  terlebih dahulu berserah diri kepada Allah SWT.  Ia bangkit mengambil sebilah pisau tajam. Tapi apa yang terjadi? Atas izin Allah SWT, pisau setajam silet itu,  tidak mempan di leher putranya, Ismail.

Allah menebus  anaknya (Ismail) dengan hewan qurban. Inilah awal mula anjuran ibadah berqurban dengan menyembelih seekor hewan qurban, berupa sapi, domba atau seekor kambing sesuai dengan ketentuan syari`at.

Jemaah kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari Idul Adha atau Idul  Qurban ini, antara lain bahwa setiap  umat Islam, dituntut untuk mengedepankan dialog yang dibungkus nilai-nilai Ukhwah Islamiyah. Nabi Ibrahim AS telah membuktikan betapa pentingnya suatu dialog atau musyawarah sebelum mengambil suatu keputusan.

Jika kita tarik dalam konteks kekinian, kita dituntut untuk membentuk keluarga  yang memiliki aqidah dan kadar keimanan yang kuat dan tangguh. Tidak mau menggadaikan  aqidah atau imannya gara-gara mengejar duniawi.

Nabi Ibrahim AS makin kuat keyakinannya, karena anaknya, Ismail AS, Siti Hajar, istrinya, juga memiliki keyakinan dan kepatuhan, serta  kesabaran yang cukup tinggi kepada Allah SWT, sehingga berbanding sama dengan kadar keimanan  Nabi Ibrahim AS.

Siti Hajar rela diasingkan bersama Ismail ke gurun tandus, yang kering kerontang, tanpa memiliki tanda-tanda kehidupan. Semua itu dilakukan semata-mata karena Allah. Demikian juga, Siti Hajar yang berlari-lari kecil (sa`i) sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwah, untuk mencari air buat anaknya, Ismail. Semua itu karena Allah. Sungguh pengorbanan luar biasa yang dicontohkan keluarga Nabi Ibrahim AS.

Kalau hanya menyerahkan jiwa raga buat sekaliber Nabi  Ibrahim AS,  bukanlah  masalah besar. Tapi ujian itu datang melalui  pintu kesenangan, berupa penyerahan putra tercinta untuk disembelih dengan tangan sendiri.  Demikian juga ujian kesabaran dalam doa untuk mendapatkan seorang anak.

Allahu Akbar …Allahu Akbar…Allahu Akbar  Walillahil Hamd

Banyak cara Allah menguji ketaatan dan kesabaran seorang hamba. Ada melalui kesenangan. Ada yang melalui penderitaan dan kesengsaraan. Orang kaya dan pejabat negara akan diuji dengan kekayaan dan jabatannya. Orang miskin juga akan diuji atas penderitaannya. Semua makhluk ciptaan Allah akan mengalami ujian dan cobaan, sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing-masing.

Nabi Ibrahim AS telah lulus pada ujian yang diberikan Allah SWT. Beliau mendapat nilai tertinggi dengan judicium luar biasa.  Kalau kita kaitkan dengan kehidupan kita, apakah kita bisa lulus dalam setiap ujian dan cobaan dari SWT. Padahal jenis dan materi ujiannya tidak sesulit,  apa yang diberikan kepada  Nabi Ibrahim AS?.  Allahu a`lam bisshowaf.

Melalui kesempatan terbatas ini, mari kita bentuk dan bina  keluarga kita dengan nilai-nilai ke-Islaman. Menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah, yang penuh cinta dan kasih sayang. Kita tanamkan  aqidah yang kuat dan tangguh. Memiliki sikap ikhlas, taat dan sabar. Tidak memaksakan kehendak di luar kemampuan. Jangan biarkan anak cucu kita, istri dan suami kita, tidak sholat, buta aksara  Al Qur`an. Akhlaq dan ibadah mereka jangan sampai lemah, perilaku kita harus Islami. Mari kita selamatkan diri kita dan keluarga kita dari ancaman api neraka. Itulah suatu pertanggungjawaban kita pada hari ini, esok dan yang akan datang.

Firman Allah SWT:

Artinya:  “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..” (QS At Thahrim  6).

Didik dan ajari, kalau perlu paksa seluruh anggota keluarga kita sholat lima waktu sehari semalam. Karena sholat itu adalah tiang agama. Pembeda antara orang Islam dengan orang bukan Islam adalah sholat lima waktu. Makmurkan masjid ini, hiasi  dan semarakkan dengan kegiatan-kegiatan ibadah, taklim dan sosial kemasyarakatan. Masjid ini milik kita sebagai jemaah di lingkungan ini. Kita jangan mempertentangkan masalah-masalah khilafiyah.  Kita harus bersatu mengedepankan persamaan, jangan memperbesar-besar perbedaan faham.

Yang terpenting lagi,  kita semua di lingkungan ini harus memperkokoh ukhwah Islamiyah, dalam menyikapi suatu perbedaan. Kita jangan hanya kuat dan kompak dalam gerakan-gerakan sholat, tapi lemah di tengah-tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara. Terus terang, solidaritas umat Islam sekarang ini kian rapuh. Ibarat buih di tengah lautan. Mudah hancur dihempas ombak ke tengah karang, sebab tidak menutup kemungkinan ada negara asing yang tidak ingin melihat umat Islam Indonesia kokoh dan kuat.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Allahu Akbar  Walillahi Hamd

Allah SWT telah  memberi kita nyawa.  Allah telah  memberi kita rezeki. Allah yang memberi kita kesehatan. Allah yang memberi kita kesenangan. Allah yang  memberi kita kekayaan dan segala-galanya. Dan Allah jualah yang memberi cobaan, ujian dan teguran kepada umatnya. Dan Allah jualah yang mencabut atau menambah nikmat-Nya kepada manusia.
Mari kita berusaha semaksimal mungkin menempatkan diri kita sebagai hamba Allah, yang pandai mensyukuri nikmat. Jangan sampai ada satu nikmat Allah pun kita dustakan.

Firman Allah SWT:

Artinya: “Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan.” (QS Ar Rahman 13).

Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar  Walillahi Hamd
Kita ini adalah makhluk yang lemah. Setiap saat dan waktu, kita memerlukan pertolongan dan bantuan Allah. Setiap detik dan menit. Hembusan dan tarikan nafas, kedipan mata, detak jantung, tidak akan bisa berjalan normal, tanpa Rahmat dan Kemurahaan dari Yang Maha Kuasa.

Andai kata  hanya orang beriman saja yang dikarunia nikmat, pastilah semua manusia di atas bumi ini, akan berlomba-lomba menjadi beriman dan meminta kepada Allah. Akan tetapi, karena semua makhluk dapat karunia nikmat, maka orang-orang pun lantas lupa kepada Tuhan-Nya. Dia malah berpikir, semua apa yang didapatnya adalah hasil  jerih payah dan kerja kerasnya semata, bukan karena izin dan Ridho  Allah.  Naudzubillahi mindzalik.

Artinya “…..…Sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku akan sangat pedih”. (QS. Ibrahim ayat 7)

Terakhir, menjelang tahun-tahun politik, memasuki tahapan pemilihan calon legislatif (caleg) di DPR, DPRD dan DPD,  dan pemilihan presiden dan wakil presiden (Capres dan cawapres) pada tahun depan (2014). Marilah kita kuatkan ukhwah Islamiyah dan solidaritas umat Islam. Jangan sampai terpecahbelah dan tercabik-cabik, gara-gara beda pilihan dan beda parpol. Pilihlah sesuai dengan rekam jejak dan keimanannya.  Jangan terkecoh janji-janji kampanye atau rayuan tim sukses. Yang kesemuanya hanyalah kepentingan sesaat.

Kaum Muslimin dan Muslimat Yang Dimuliakan Allah

Akhirnya, melalui mimbar ini, saya selaku khatib mengajak kita semua berdoa untuk keselamatan diri kita sendiri, keselamatan keluarga kita, keselamatan bangsa dan negara kita.

•Allahumma Ya Allah, kami berkumpul di tempat ini untuk memenuhi panggilan-Mu, untuk mencari Ridho dan Ampunan-Mu. Karenanya ya  Allah, terimalah ibadah sholat kami,  terima ibadah puasa kami, serta seluruh amal ibadah kami.  Kami mohon ya Allah,  agar ibadah kami mendapat  Ridho serta Berqah-Mu.

•Ya Allah… Panggil kami yang ada di sini, untuk  berangkat ke tanah suci,  berangkat ke Baitullah, untuk memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah,  Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Kami ingin sujud dan berdoa di Arafah, Kami ingin sujud dan berdoa di depan Ka`bah, kami ingin sujud dan berdoa di Masjidil Haram. Kami ingin sujud dan berdoa di Masjid Nabawi.  Kami ingin berdoa dan ziarah ke makam Rasulullah SAW. Kami ingin ziarah ke makam Sahabat-Sahabatmu Ya  Rasulllah.

•Ya Allah Ya Robb. Jadikan kami orang yang memahami dengan benar ajaran agama-Mu dan mengamalkannya dengan iman dan ikhlas. Jauhkan kami dari segala kebodohan. Jauhkan kami dari kesombongan, jauhkan kami dari perselisihan dan jauhkan kami dari sifat hasut, iri dan dengki serta saling menyalahkan di antara kami.

•Ya Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Kami ingin dekat kepada-Mu ya Allah. Tetapi uang, harta, kesombongan, kekuasaan dan ketamakan, seringkali menganggu kemurniaan tauhid dan niat kami.

•Ya Allah Ya Robb, ampunilah segala dosa-dosa kami, dosa ayahanda dan ibunda kami. Ya Allah, kami ini  belum bisa berbakti kepada mereka di dunia ini.  Jasa dan pengorbanan mereka sungguh banyak. Sementara kami tidak bisa membahagiakan mereka. Ayahanda dan ibunda kami, tidak pernah menyusahkan kami. Sebaliknya, malah kami yang bikin susah mereka. Banyak perintahnya kami abaikan. Karena itu, Ya Allah. Jangan siksa  orangtua kami di alam kubur. Lapangkan alam kuburnya dan sinari mereka dengan amal ibadahnya. Jauhkan mereka dari siksa kubur, jauhkan mereka dari siksa api neraka. Masukkan kedua orangtua kami ke dalam surga-Mu. Pertemukan dan kumpulkan kami ya Allah dalam surga-Mu. Jangan pisahkan kami dengan orangtua kami. Dengan anak-anak kami. Dengan istri dan suami kami. Sayangi Ya Allah, kedua orangtua kami, sebagai mana mereka menyayangi kami sejak kecil.

• Ya Allah, Ya Rohman Ya Rohim.. Kepada orangtua kami yang masih hidup. Berilah kesehatan dan keberkahan umur. Kepada saudara-saudara kami yang seiman, sekarang terbaring di rumah atau di rumah sakit. Angkatkanlah penyakitnya. Sehatkan lah jasmani dan rohaninya. Kepada saudara-saudara kami, di negara yang dilanda konflik. Bukalah pintu hati pimpinan dan rakyatnya, jauhkan lah mereka dari permusuhan dan perselisihan akibat permainan politik.

• Ya Allah ya Robb. Berilah kami petunjuk agar selalu berada dalam bimbingan-Mu. Lapangkanlah rezeki kami. Mudahkan segala urusan kami. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa kedua orangtua kami, dosa para guru-guru kami, dosa para pemimpin-pemimpin kami, dosa-dosa anak cucu kami. Jadikan Idul Adha ini sebagai titik tolak meningkatkan semangat ibadah kami ke tingkat yang lebih baik.

Khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1434 H/15 Oktober 2013 di Halaman Masjid Raudhatul Jannah, RW 32 Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat.
 
Khatib H.Syamsir Bastian Munthe
Ketua DKM Raudhatul Jannah
Ketua Majelis Amal Sosial PB Al Washliyah
Redaktur Poskota/Poskotanews.com

 


Populer

×