Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Kamis, 26 September 2013

Jusuf Kalla: Pendidikan sebagai Pondasi Kemajuan Bangsa


yusuf kalla

JAKARTA – Para pemangku pendidikan mulai hari ini mengikuti Konvensi Ujian Nasional (UN) untuk memformulasikan model penyelenggaraan UN yang relibel, transparan, dan akuntabel. Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla tampil sebagai pembicara kunci pada konvensi, yang berlangsung sampai besok ini.

Jusuf Kalla menyampaikan, kehadiran peserta konvensi memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mencerdaskan bangsa. Kemajuan suatu bangsa, kata dia, dapat dijalankan apabila mempunyai nilai tambah dan kultur yang dikembangkan. “Pondasi dasarnya adalah pendidikan yang baik,” katanya di Kemdikbud, Jakarta, Kamis (26/09/2013).

Hadir pada acara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, Wakil Mendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim, Anggota Panja Evaluasi UN Zulfadhli, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan, unsur dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota, kepala sekolah, dan guru, serta organisasi guru.

JK mengatakan, tidak banyak negara yang menetapkan anggaran pendidikan secara persentase dalam undang-undang. Disebutkannya, hanya ada lima negara saja. Dia juga mendorong adanya standar dalam penilaian dan mendorong agar anak mau belajar. “Apapun metodenya, ujung-ujungnya adalah bagaimana anak itu belajar, membaca, menulis, dan mengkaji,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Menkokesra ini mengatakan, bangsa ini tidak akan cerdas tanpa belajar. Untuk belajar, kata dia, harus ada penghargaannya yaitu adanya kelulusan. “Kalau tidak belajar harus tidak lulus. Ada pemetaannya dan harus ada evaluasinya. Hanya Ujian Nasional bisa mengatakan itu,” katanya.

Menanggapi adanya penolakan terhadap UN, JK mengatakan, bahwa tidak semua orang sependapat adalah makna demokrasi. Akan tetapi, kata dia, pemerintah harus ada kebijakan yang dijalankan demi bangsa ini. “Bukan demi perorangan. Kita terima kasih atas segala macam kritikan, tapi bangsa ini harus belajar,” katanya.

JK memberikan tanggapan atas pertanyaan wartawan terkait adanya usulan menyerahkan UN ke daerah. Dijelaskannya, ujian sekolah artinya pada umumnya guru menguji apa yang telah diajarkan, sedangkan Ujian Nasional menguji apa yang seharusnya anak-anak tahu. “Supaya ada pemerataan pendidikan nasional,” katanya.

Mendikbud Mohammad Nuh menyampaikan, UN baru mempunyai makna dengan baik kalau tujuan UN tercapai. Dia menyebutkan, ada empat tujuan UN, yakni sebagai pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, dan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan.

Berikutnya, adalah untuk pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. “Hasil peta dipakai untuk perbaikan dan itu akan terus kita lakukan,” kata Menteri Nuh. (gardo)


×