Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Senin, 6 Mei 2013

Tausyiah Dewan Fatwa Untuk Caleg Pemilu 2014 Bagi Warga Al Washliyah


ustad-aw

بِـــــسْمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِــــيْمِ
بسم الله السميع البصير الذي ليس كمثله شيء وهو بكل شيء عليم . بسم الله الخـلاَّقِ العليم الذي ليس كمثله شيء وهو الفـتَّاحُ العليم . بسم الله الذي ليس كمثله شيء وهو العليم الخـبير. بسم الله الذي ليس كمثله شيء وهو العليم القدير. بسم الله العزيز الكـريم الذي ليس كمثله شيء وهو العزيز الكـريم. بسم الله الغـفور الرحيم الذي ليس كمثله شيء وهو الغفور الرحيم . فالله خير حافـظا وهو أرحم الرحمين , وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم. وبـــعد :
” الدنيا خــلقت لغيرها ولم تخـلق لنفسها ” (ص : 242 , ج : 2 , نـهج البلاغة للإمام عليُّ كرم الله وجهة)

“Dunia itu diciptakan untuk siapa saja, dunia diciptakan bukan untuk dirinya” (Imam Ali R.a, Khalifah Arrasyidin ke-IV, wafat: 40H/661M ). Maksudnya: Sosok pemimpin harus memiliki kepribadian yang ikhlas lebih mementingkan kemaslahatan umat dan bangsanya.

“كلمة الحق يراد بها باطل” (ص : 181 , ج : 2 , نهج البلاغة للإمام عليُّ كرم الله وجهة)

“Kalimat kebenaran ditujukan untuk kebatilan” (Imam Ali R.a, Khalifah Arrasyidin ke-IV, wafat: 40H/661M ). Maksudnya: Jangan menggunakan selogan Agama, ucapan manis, janji-janji yang muluk-muluk untuk meraih pangkat, jabatan dan kedudukan (menghalalkan segala cara) ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, kepribadian, kemampuan dan kualitas yang dimiliki.

MUKADDIMAH

Calon Legeslatif (Caleg) dan pemilu Presiden 2014 sudah di ambang pintu. Sejak revormasi runtuhnya kekuasan Orde Baru Jendral Suharto sejak tahun 1998 sampai sekarang sudah empat Presiden (B.J. Habibi, Gus Dur, Megawati, dan SBY) yang memimpin Negara ini.

Dan begitu juga berbagai perombakan yang telah terjadi di anggota legeslatif kita yang ada di DPR-RI Pusat maupun di DPR-Daerah. Berbagai macam benturan dan tantangan dari krisis moneter sampai krisis multi dimensi yang menerpa negeri ini rakyat terus berusaha untuk maju demi bangsa ini, meskipun letih, penat, keputus asaan yang sekarat, tidak sedikit linangan air mata, darah dan nyawa terkubur yang tidak diketahui pusara nisannya.

Namun kepiluan itu sedikit demi sedikit tetap terus dilalui oleh rakyat yang mendambakan seuntai kedamaian, keadilan dan kesejahteraan kapan akan terwujud meski cobaan itu sejak rovormasi terus menyertai dan menghampiri, terjadinya bencana alam silih berganti dari Sabang (Aceh) sampai Papua seperti gempa, suname, longsor, banjir, kebakaran, gunung meletus, tanah longsor, kecelakaan pesawat yang terus menelan korban jiwa, dlsb.

Bencana itu semua menurut sebahagian manusia negeri ini, hanyalah semata fenomena alam, tidak ada hubungannya dengan Agama dan kemurkaan Allah Swt. Namun di dalam Alqur’an fenomena Alam itu tidak akan terjadi tanpa seizing sang maha Pencipta yaitu Allah SWT. Dan keizinan bala dan bencana Allah datang kepada manusia karena kekufuran mereka terhadap titah-Nya (lihat Alqur’an Surat Saba’ [34] : 17, dll).

Pewaris Orde Baru Suharto yang saat ini masih memiliki sahwat untuk berkuasa ataupun orang-orang yang muncul pada era reformasi sekarang ini. Mereka rukuk dan sujud dengan niat yang berbeda-beda. Ada yang niatnya ibadah, karena dunia, karena pencitraan atau karena sudah tidak ada lagi tempat untuk dapat bebuat kesemena-menaan, mau tidak mau sekarang ini zaman revormasi untuk meraih pangkat, kedudukan, kekuasaan dengan pendapatan yang besar, maka tidak sedikit yang berbondong-bondong ingin masuk sebagai calon legeslatif yang akan duduk di DPR-RI atau DPR-D tidak lagi melihat dan mengutamakan kualitas, kapabilitas, sosok yang beretika akhlak mulia. Dari kalangan selebritis, yang masih baru lulus sarjana, sampai usia yang masih dibawah umur yang sama sekali kualitas kemampuan politiknya sangat rendah tetap nekat tanpa adanya rasa malu mencalonkan diri.

Asal ada uang yang banyak dan ada pamor entertaint, siapapun sudah tidak segan-segan lagi ntuk mencalonkan sebagai caleg pemilu 2014 yang akan datang.

Para pemimpin dan umat yang shalih (jujur, adil, tegas, beretika akhlaq, berilmu dan bertaqwa) akan menjadikan Negara yang aman, adil, makmur dan akan melahirkan peradaban yang mulia, namun jika sebaliknya maka umat dan negaranya akan krisis, hancur dan mala petaka akan datang silih berganti. Sebagaimana Allah Swt menceritakan di dalam Alqur’an ketika negeri Saba’ (sekarang wilayahnya berada di Yaman) dahulu kala yang aman dan makmur dan akhirnya menjadi sehancur-hancurnya, karena mereka durhaka dan kufur terhadap titah Sang Ilahi. Allah Swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ {15} فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ {16} ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلاَّ الْكَفُورَ {17} (سورة سبأ [34] : 15-17)

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ (Yaman) ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.”(QS. Sab’ [34] : 15-17)

HARAPAN DEWAN FATWA UNTUK CALEG WARGA AL WASHLIYAH

Caleg yang berasal dari warga Al Washliyah yang membawawa dari berbagai macam kenderaan partai politik ataupun dari tokoh perorangan baik di Pusat maupun di daerah yang ada diseluruh Indonesia yang ingin mencalonkan sebagai caleg untuk pemilu 2014 harus benar-benar memiliki dasar-dasar kepribadian diantaranya sebagai berikut:

1.Iman, Taqwa, dan Akhlaq

Kita merasakan dari sejak zaman Orde Baru sampai masa revormasi sekarang, siapa saja yang menjadi wakil rakyat di legeslatif atau presiden yang memimpin negeri ini. Seorang leader yang menggerakkan tatanan sosial, politik, Agama, budaya, pendidikan, ekonomi, dan meliter jika jauh dari nilai-nilai iman, taqwa dan akhlaq maka degradasi tatanan tersebut terus semangkin rapuh yang akhirnya kita sebagai masyarakat hanya dipertontonkan sebuah kenyataan hidup laksana masuk dalam kubangan kotoran. Karena sesungguhnya nilai keimanan itu akan membawa kepribadiannya akan selalu menjalankan titah Sang Ilahi pencipta alam dan dia akan menjadi sosok leader yang mampu menyelesaikan berbagai tantangan dan problem hidup yang dihadapi oleh dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, Negara, bangsa dan hak asasi manusia di dunia ini.

Sedangkan Taqwa adalah merupakan aplikasi amal ibadah yang didasari dengan keikhlasan dan ketulusan dari segala amal yang dilakukan semata-mata mengharapkan redha Sang Ilahi. Adapun etika Akhlak adalah muara bagi sang hamba yang telah beriman dan bertaqwa akan melahirkan sosok keperibadian dan kepemimpinan sebagai anutan (Qudwah) dan rujukan (Marja’) contoh tauladan bagi siapa saja dalam kehidupan ini. Imam Ali R.a mengatakan:

” التُّـقَى رئيس الأخلاق ” (ص : 232 , ج : 2, نهج البلاغة)
“Ketaqwaan itu adalah puncaknya etika Akhlaq seseorang” (Imam Ali R.a)
Jadi antara Taqwa dan etika Akhlaq tidak dapat dipisahkan, jika terpisah maka ketaqwaan itu akan cedera dan akan melukai jiwa, diri sendiri maupun orang lain. Sehingga amal taqwa akan terhapus karena etika akhlaq yang tidak terpuji. Inilah yang menyebabkan seseorang akan mendapatkan kerugian dunia dan akhirat jika tidak memiliki etika akhlak yang terpuji. Lihat Alqur’an Surah Alhujarat [49] : 2

“… أن تحبط أعمالكم وأنتم لا تشعرون ” (سورة الحجرات [49] : 2)
“… Segala amal Ibadahmu akan hancur sia-sia (karena tidak memiliki etika akhlaq), sedang kamu tidak menyadarinya” (QS. Alhujarat [49] : 2)
Keagungan Rasulullah Saw sebagai sosok pemimpin dan anutan yang memiliki etika akhlak yang luhur. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
“إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق” (رواه أحمد , و الحاكم و البيهقي)
“Hanyasannya aku diutus (ke dunia) untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur” (HR. Ahmad, Alhakim, dan Albaihaqi)
Allah Swt juga mengabadikan ketinggian etika Akhlaq Rasulullah Saw. Di dalam Alqur’an. Sebagaimana Allah Swt berfirman:
” وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ ” {سورة [68] : 4}
“Dan sesungguhnya kamu (Nabi Muhammad Saw) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Alqalam [68] : 4).

2.Ilmu

Allah Swt berfirman:
“… يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ ” {سورة المجادلة [58] : 11}
“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Almujadalah [58] : 11)
Rasulullah bersabda:

“طلب العلم أفضل عند الله من الصلاة و الصيام والحج والجهاد في سبيل الله عز وجل ”
( رواه الديلمي , ص : 93 مختار الأحاديث النبوية والحكم المحمدية للمرحوم السيد أحمد الهاشمي )

“Menuntut ilmu disisi Allah lebih baik daripada ibadah Shalat, Berpuasa, Haji dan Jihad dijalan Allah”. (HR. Ad-Dailami)
Ketinggian dan keluasan ilmu seseorang akan terlihat ketika seseorang tersebut mampu atau tidak memecahkan berbagai persoalan dan tantangan yang terjadi disekelilingnya sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya yaitu dalam lingkup Agama, sosial, politik, budaya, ekonomi, keamanan (meliter dan kepolisian), tekhnologi, pendidikan, dlsb. Ketinggian ilmu bukan dilihat dari formalitas semata yang sandang dari strata keserjanaan, namun mereka akan diuji kemampuan, ketekunan dan hasil dari kreasi dan pemikiran dari kapasitas bidang keilmuan yang ditekuninya.

Karena sekarang ini sangat banyak strata keserjanaan hanya sebagai symbol dan formalitas belaka tapi tidak memiliki kemampuan dan kreasi yang dapat memecahkan persoalan yang sesungguhnya. Allah befirman:

“… كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ” {سورة الطور [52] : 21}
“Tiap-tiap manusia terikat (tergadai) dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur[52] : 21). Ayat ini bermaksud, bahwa seseorang akan dilihat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya terhadap usaha yang akan dilakukannya. Ayat lain menyebutkan:
“وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ….” {سورة الأنعام [6] : 132}

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Alan’am [6] : 132). Ayat ini meberikan pengertian bahwa tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung amal usahanya (keilmuan, kreasi dan kemampuannya). Rasulullah Saw bersabda:

أعظم الناس همًّا : المؤمن يهتَمًّ بأمر دنياه وأمر آخرته . (رواه إبن ماجة , عن أنس رضي الله عنه)
“Manusia agung yang bermanfaat itu adalah orang yang beriman yang dia itu peduli terhadap perkara dunia dan akhiratnya” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa sosok manusia yang mulia dan agung adalah mereka itu peduli dan bermanfaat terhadap urusan dunia dan akhiratnya. Rasulullah juga menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa merevormasi mencari kemaslahatan untuk perkara dunia dan akhiratnya, sebagaimana sabda beliau:

“أصلحوا دنياكم واعملوا لآخرتكم كأكم تموتون غدا” (رواه الديلمي عن أنس رضي الله عنه)
“Revormasilah urusan duniamu, dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati esok hari” (HR. Ad-Dailami)

Keilmuan dan kemampuan seseorang tidak akan tercapai jika tidak memiliki sosok kepribadian yang gemar, cinta dan mengutamakan untuk membaca dan memiliki rujukan kitab-kitab atau buku-buku yang dapat dijadikan bahan bacaan dan rujukan untuk dirinya dalam setiap menyelesaikan permasalahan hidup ini. Strata serjana maupun pangkat dan jabatan yang tertinggi sekalipun jika tidak memiliki sosok keperibadian yang cinta, gemar dan mengutamakan membaca buku-buku yang bermanfaat maka pemimpin tersebut tak ubahnya seperti kerakap tumbuh dibatu, hidup tak tau malu, matipun tak mau.

3.Amanah

Islam sangat menjunjung tinggi sifat Amanah. Kata Amanah menurut bahasa Arab memiliki pengertian yang sangat luas, diantaranya makna Amanah menurut bahasa adalah ( أمانـة ; وفـاء ; Faithfulness[kesetiaan], Trust[kepercayaan], loyalty[kesetiaan]). Allah mengisyaratkan tentang sifat Amanah didalam Alqur’an diantaranya sebagai berikut:
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا {سورة النساء [4] : 58}

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. Annisa’ [4] : 58). Banyak sekali di dalam Alqur’an Allah menerangkan betapa wajibnya seorang hamba harus menjalankan dan menunaikan amanah. Sosok seorang pemimpin tidak akan dikatakan adil jika tidak memiliki sifat amanah, sama ada amanah itu yang datangnya dari Khitab Allah (syari’at)  atau amanah itu datangnya dari aturan nilai-nilai kemanusiaan, tatanan hukum kenegaraan dan norma-norma kemanusiaan. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

” سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ فَإِن جَآءُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئًا وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ” {سورة المائدة [5] : 42}

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Almaaidah [5] : 42)

Sifat amanah dan keadilan yang digambarkan ayat di atas bahwa Allah Swt mewajibkan kepada seluruh orang yang berimam terutama bagi para pemimpinnya untuk menegakkan amanah dan keadilan kepada siapa saja tidak melihat perbedaan suku, agama, golongan dan bangsanya. Etika yang dibangun oleh syari’at Islam seperti amanah dan keadilan tidak hanya sekedar isapan jempol, berpura-pura atau hiprokrit , karena kewajiban itu akan Allah minta pertanggung jawabannya di dunia dan akhirat kelak. Sebagaimana Allah Swt berfirman:
” … وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ” {سورة ال عمران [3] : 161}
“… Barangsiapa yang berkhianat (terhadap perkara dunia), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.(QS. Alimran [3] : 161)

4.Menghormati Fatwa Ulama

Para ulama adalah rujukan umat untuk mengambil patokan hukum dalam lingkup Agama, sosial, budaya, ekonomi, dlsb. Allah Swt berfirman :
” … إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا …. ” {سورة فاطر [35] : 28}
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…” (QS. Faathir [35] : 28). Nabi bersabda:
” إن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يرثوا دينارا ولا درهما وإنما ورثوا العلم ” (سنن أبي داود و الترمذي)
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar dan tidak juga Dirham (harta), dan tidak lain mereka adalah hanya mewariskan ilmu”. (HR. Abu Dawud dan Imam At-Turmudzi).

Imam Abu Ishaq Ibrahim As-Syathibi (wafat: 790H/1388M, ahli Tafsir, Ushul Fikih dan Fikih Madzhab Maliki) mengatakan: “Para ulama ditengah-tengah umatnya memiliki kedudukan seperti maqamnya Nabi dalam menyelesaikan sebuah perkara diantaranya ulama adalah sebagai orang yang mewariskan ilmu syari’at secara umum kepada seluruh manusia dan umatnya, menyampaikan kebenaran kepada manusia, mengajar, mendidik, memberikan peringatan baik dan buruk, para ulama juga bertugas untuk menggali sumber-sumber hukum islam dengan konsisten, dan sungguh-sungguh dan para ulama juga adalah ladangnya tempat orang mengambil sumber-sumber hukum Islam yang bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia” (P, 57, Alijtihad Fil Islam, Dr. Nadiyah Syarif Umri).

Dengan demikian peranan ulama sangat penting sebagai rujukan untuk kita jadikan dalam setiap mengambil keputusan, tindakan seperti tentang peraturan dan perundang-undangan yang akan dilegeslasi di parlemen. Sampai saat ini lembaga Fatwa dan Ulama sepertinya sengaja dimarjinalkan didalam parlemen Indonesia. DPR-D atau DPR Pusat masih kurang berkoordinasi dengan lembaga-lembaga Fatwa Ulama yang berkompeten di negeri ini untuk mengambil kebijakan tentang kenegaraan, sosial, politik, budaya, perpajakan, keamanan, ekonomi, hukum perdata, hukum pidana, dsb.

Kita melihat dari sejak revormasi berapa banyak partai-partai Islam yang memeliki keterwakilan sebagai anggota legeslatif di parlemen, tetapi keberadaan mereka semua di parlemen dalam menindak lanjuti legeslasi peraturan dan perundang-undangan masih jauh dari tuntutan syari’at yang diharapkan. Contoh yang sangat sederhana, kenapa di Amerika pemerkosa anak wanita dibawah umur dihukum mati sementara di Indonesia yang mayoritas beragama Islam bagi pelaku zina dan pemorkosaan anak dibawah umur, putusan perkaranya ditimang-timang dan dininabobokkan kalaupun dihukum penjara malah mendapat potongan tahanan dan remisi dengan waktu yang singkat  yang akhirnya terhukum sudah menghirup udara bebas. Bahkan mereka tidak jarang, malah menjadi bintang iklan, musik dan bintang intertain yang dibanggakan oleh masyarakatnya, na’udzubillahimin dzalik.

Belum lagi perkara –perkara yang sangat riskan yang akhir-akhir ini terjadi,seperti pembunuhan, pemerkosaan, perlakuan perbudakan terhadap buruh tenaga kerja yang terjadi di Tangerang, Banten, lemahnya kita dimata negara-negara asing yang mengobok-obok NKRI, seperti berdirinya kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Oxport Inggris, tenaga kerja wanita di luar negeri yang sampai sekarang belum dihentikan dengan alasan dapat menghasilkan sumber devisa negara yang amat besar meskipun muru’ah dan martabat bangsa ini terinjak-injak dan tergadai secara tidak terhormat.

Dewan Fatwa Al Washliyah mengharapkan seluruh warga Al Washliyah yang mencadi caleg pemilu 2014 nanti, harus benar-benar menjunjung tinggi keadilan dan amanah, memiliki integritas keilmuan yang luas dan dalam yang bersandarkan dengan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, dan berakhlakul karimah. Untuk lebih luas dapat dibaca dan direnungi kembali “26 Wasiat Dewan Fatwa Al Jam’iyatul Washliyah” yang telah dikeluarkan oleh www.kabarwashliyah.com – pada 24 Rabi’ul Akhir 1434H / 7 Maret 2013M.

Semoga kelak negeri dan bangsa ini menjadi bangsa yang dapat mengukir peradaban yang cemerlang serta dalam keredhaan Allah Swt, yaitu “Baldatun Thaiyibatun Warabbun Ghafur ; Gemah Ripah Lohjinawi, yang mendapat pengampunan dari Allah SWT” .

Demikian taushiyah dari Dewan Fatwa Al Jam’iyatul Washliyah ini dibuat, semoga Allah Swt memberikan maghfirah dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
PENGURUS DEWAN FATWA AL WASHLIYAH

Ketua                                                                         Sekretaris
Drs.KH. Ridwan Ibrahim Lubis, Lc               KH.Ovied.R


Populer

×