Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Rabu, 24 April 2013

Jusuf Kalla: Semua Agama Mengajarkan Kedamaian

Munthe Dunia islam

jusuf-aw

JAKARTA – Semua agama mengajarkan kedamaian, tapi mengapa timbul ketidakdamaian. Bila melihat di negara-negara Islam, konflik antar negara atau internal negara sungguh banyak masalahnya.

Menurut Jusuf Kalla, sebenarnya konflik itu bukan karena agama, tapi masalah karena ekonomi, idiologi, atau politik. “Setiap konflik, akan membesar kalau disertai dengan agama”. ujar Jusuf Kalla ketika tampil sebagai pembicara pada International Conference on Islam, Civilization, and Peace di Jakarta.

Terkait itu, Jusuf Kalla mengungkapkan pengalaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Hampir 70 tahun merdeka, ada kurang lebih 15 kali konflik besar, yang menyebabkan sejumlah korban dalam jumlah memprihatinkan.

Jusuf Kalla menambahkan, dari 15 kali, 10 kali karena ketidakadilan, sisanya karena idiologi atau ingin merdeka. “Masuknya agama dalam sejumlah konflik , karena agama bisa memberikan solidaritas yang hebat”. Ujar Kalla. Hal terjadi juga di konflik Timur Tengah, yang sebenarnya dipicu politik idiologi, namun karena masuk agama, maka konflik tersebut tidak mau berhenti.

Menurut Jusuf Kalla, munculnya konflik juga dipicu dengan memanfaatkan sentimen keyakinan agama seseorang, dimana ada keyakinan bahwa tujuan agama pada akhirnya akhirat, surga. Dalam konflik Poso atau Ambon, para pelaku berkeyakinan bila apa yang mereka lakukan akan memperoleh imbalan surga. “Ada yang menjual murah surga, dan paham tersebut menyesatkan” tandas Kalla.

Dalam pandangan Jufuf Kalla, kita mengajarkan kembali Islam yang damai, yang rahmatan lil alamin. Dalam kontek ini, salah dasar utama adalah kembali pada pendidikan yang baik, ekonomi yang baik, teknologi yang baik. Karena tanpa pendidikan, ekonomi dan teknologi yang baik menyebabkan ketidak adilan. “Agama bisa mendorong kemajuan, kedamaian”, tegas Kalla.

Pada kesempatan yang sama, Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta yang tampil sebagai pembicara pada International Conference on Islam, Civilization, and Peace di Jakarta (23/4), menyampaikan setidaknya ada 5 zona bagamana kita mengekspresikan Islam.

Pertama, kita beragama, ber-Islam dalam wilayah paling privat. Yang paling tahu kualitas Islam kita adalah diri kita dan Allah, tidak ada paksaan di situ. Kedua, kita beragama, berdialog dalam wilayah komunal. Dalam wilayah tersebut ada interaksi, ada pengaruh madzhab, sehingga seseorang mengutarakan agama, dipengaruhi dan mempengaruhi. Keempat: agama masuk wilayah negara. State zone. Keduanya saling membutuhkan, agama membutuhkan bantuan institusi negara. “Tanpa negara, agama suit berkembang” terang Komaruddin.

Ketika negara berdiri, negara punya logika sendiri. Negara membutuhkan dukungan moral agama. Dan agama membutuhkan dukungan politik negara. Bagaimana agama memberikan kontribusi, ketika agama ingin memasuki negara, maka akan menjadi konflik. “Negara tidak boleh jinakkan agama, dan agama jangan membajak negara” tandas Komaruddin.

Dalam konteks ini menurut Komaruddin, agama sebaiknya menjadi kekuatan moral negara. Di Indonesia ada Kementeria agama. Kementerian milik negara yang memiliki peran membantu peran dakwah agama. “Ini model idel untuk membantu relasi konstruktif” Ujar Komaruddin .

Kelima: agama masuk dunia global. Dalam masyarakat global dibutuhkan, kualitas etika bernegara. Bagaimana juga menyumbangkan bagi peradaban global. (kemenag.go.id/esbeem)


Populer

×