Kabar Washliyah

Jayalah Washliyah Zaman Berzaman
Minggu, 24 Maret 2013

Hukum Solat Jenazah yang Mati Bunuh Diri


gantung-aw

PERTANYAAN: Apa wajib mensolatkan orang yang matinya bunuh diri? Atau orang meninggal dalam keadaan maksiat (pelaku dosa besar).Jemaah (Ahad, 24-03-2013). JAWAB: Hukum solat jenazah yang bukan karena mati syahid adalah “Fardhu Kifayah ;  فرضٌ كِفاية ; Collective Duty” bagi orang yang masih hidup, menurut Ijma’ seperti mengurus mayit, memandikannya, mengkafaninya, dan menguburkannya.

Jika solat jenazah dilakukang sebagian orang walau hanya satu orang maka terlepaslah dosa bagi yang tidak mensolatkanya atau mengurusnya. Solat jenazah ini merupakan diantara ritual khusus dalam Islam yang tidak dimiliki oleh ajaran umat-umat lain, termasuk juga masalah bagian sepertiga hak waris yang harus diwasiatkan oleh si mayit dari harta yang dimilikinya kepada ahli warisnya.

Tentang solat jenazah para sahabat mensolati Nabi SAW ketika beliau wafat, begitu juga Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat melakukan solat jenazah atau solat ghaib (ketika raja Annajasyi wafat) meskipun mayit tersebut anak-anak. Tentang anjuran solat jenazah ini dapat dilihat Hadis-hadis yang diriwayatkan dan bersumber dari: Ibnu Abbas, Imam Ahmad, Abu Dawud, Imam Annasa’I, At-Turmudzi, Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Para ulama berbeda pendapat, apakah boleh mensolatkan orang yang matinya dalam keadaan dosa besar? Seperti mati bunuh diri, pembunuh, penzina muhsan (laki-laki atau wanita yang sudah menikah melakukan zina), teroris, perampok yang membunuh, dll. Perbedaan pendapat para ulama tersebut diantara sebagai berikut:

1.Menurut Madzhab Hanafi (Imam Hanafi : Bagdad, 80-150 H) wajib bagi orang Islam mensolati orang muslim yang meningggal terkecuali orang yang mati dalam keadaan:
a.Bughat atau makar seperti teroris yaitu mereka adalah orang Islam yang keluar dari ketaatan terhadap Imam atau pemimpin (Islam) yang tidak dibenarkan oleh syari’at. Jika mereka mati jenazahnya tidak wajib dimandikan dan disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

b.Qithaa’ At-Thuruq yaitu orang perampok, pemalak yang menggunakan senjata atau dengan cara-cara pemerasan, bertindak kriminal yang dapat mematikan atau meresahkan masyarakat. Jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati. Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

c.Mati Syahid (Syahid dunia) yaitu orang yang mati ketika berperang di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah), maka jenazahnya tidak disolati.

d.Ahlu Al’ashabiyah yaitu orang yang fanatik terhadap kelompok, suku, ras, golongannya, dll. Jika mereka mati karena mempertahankan kefanatikannya maka jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disolati, karena mereka ini digolongkan kepada Allu Al’ashabiyah sama hukumnya dengan Bughat (makar). Namun jika mereka wafat dalam tawanan atau menyerah maka boleh dimandikan dan disolati.

e.Orang yang mati bunuh diri begitu juga orang-orang yang mati dalam kondosi melakukan dosa-dosa besar. Begitu juga tidak disolatkan mayit orang yang membunuh orang tuanya, namun jika ia mati dalam kondisi terhukum (mati dalam Qishah) maka mayitnya boleh dimandikan.

Namun sebahagian mufti yang bermadzhab Hanafi memfatwakan bagi orang yang matinya karena bunuh diri dengan sengaja (atau pelaku dosa besar) boleh dimandikan dan disolati, begitu juga menurut madzhab Syafi’i (Imam Syafi’I : 150-204 H). Karena mereka para pelaku dosa-dosa besar masih dianggap orang Islam sebagaimana orang Muslim lainnya, namun perbuatan mereka adalah tergolong orang yang fasik.

2.Menurut pengikut Abu Yusuf dan Ibnu Al Hammam bagi pelaku dosa besar tidak disolatkan jenazahnya sebagaimana Rasulullah Saw pun tidak melakukan hal tersebut. Sebagaimana Hadis Shahih yang diriwayatkan Imam Muslim : ( أنه عليه السلام أتى برجل قتل نفسه , فلم يصلي عليه ; Nabi Muhammad Saw ketika mendatangi orang yang mati karena bunuh diri, beliau tidak mensolatkannya).

3.Menurut Madzhab Malik (Imam Malik : 93H-179 H) orang yang mati karena dosa-dosa besar atau mereka mati karena di Qishah (hukum mati karena dosa besar) boleh disolatkan jenazahnya, namun bagi Imam (para ulama atau orang –orang yang shalih) sebaiknya tidak mensolatkannya. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mensolati pelaku dosa besar seperti mati bunuh diri, namun beliau tidak melarang bagi orang lain yang ingin menshalatkannya. Pendapat ini juga disepakati oleh Madzhab Hanabilah (Imam Ahmad : 164-241 H).

Pendapat yang rajih adalah pendapat Imam Syafi’i dan jumhur ulama bahwa orang yang pelaku dosa besar menjadi Fardu Kifayah mengurus jenazah dan mensolatinya. Sebaiknya bagi seluruh para ulama atau masyarakat untuk melakukan mensolatinya, ini merupakan syi’ar agar bagi pelaku dosa-dosa besar yang belum sadar (yang masih dalam kubangan lembah nista) dapat melakukan tobat kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Wallahua’lam.

KH. Ovied.R
Sekretaris Dewan Fatwa Al Washliyah Se-Indonesia, Guru Tafsir Alqur’an/Perbandingan  Madzhab Fikih Majelis Ta’lim Jakarta &  Direktur Lembaga Riset Arab dan Timur Tengah [di  Malaysia]. Email: dewanfatwa_alwahliyah@yahoo.com Facebook : Buya Ovied


  • Fakultas Hukum UII Yogyakarta

    nice posting

  • Bang Uddin

    Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ’anhu, beliau menceritakan,

    Pernah dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang jenazah korban bunuh diri dengan anak panah, dan beliau tidak bersedia menshalatinya.

    (HR. Muslim 978).

    Syaikhul Islam mengatakan,

    Orang yang tidak mau menshalati jenazah yang mati karena korupsi, qishas, dan punya utang, sebagai bentuk peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan semacam itu, termasuk sikap yang baik. Dan andaikan dia tidak mau menshalati secara terang-terangan, namun tetap mendoakan secara diam-diam, sehingga bisa menggabungkan dua sikap paling maslahat, tentu itu pilihan terbaik dari pada meninggalkan salah satu. (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, hlm. 78)

    Maksud beliau dengan “dia tidak mau menshalati jenazah orang fasik secara terang-terangan” adalah dalam rangka mengingatkan masyarakat terhadap bahaya perbuatan tersebut dan “tetap mendoakan secara diam-diam”, dalam rangka menunaikan hak sesama muslim.

    Allahu a’lam

  • Iwang Demi’cinta-kita

    jangan sot tau emang km pernah mati apa

Populer

×